M E N I K A H

Makin hari kita makin tua. Semakin tua, pemikiran makin berkembang dan, seharusnya, bertambah dewasa. Makin tua, makin banyak ilmu yang diserap dan makin terbuka pemikiran kita terhadap sesuatu.



Semakin terbuka pikiran seseorang, semakin fleksibel dia menerima perbedaan pemahaman. Dan gue rasa hampir semua hal bisa disesuaikan dengan pribadinya asal pikirannya sudah terbuka terhadap sesuatu.


Salah satu yang menurut gue paling kaku, terutama di Indonesia, adalah soal nikah. Buat gue, pendangan para orang tua di luar sana kebanyakan terlalu kaku. Apalagi buat mereka yang kurang teredukasi tentang dunia pernikahan secara umum.

Taunya nikah biar halal, biar jelas statusnya. Di satu sisi itu bener, gue setuju. Tapi bukan berarti sisi lain diabaikan sama sekali. Kita ga bisa nikah cuman biar dapat status halal tanpa kemampuan untuk menghidupi kehidupan sendiri.

Hal yang paling mengganjal di gue adalah pemahaman "gapapa nikah walaupun ga mapan kan masih bisa numpang orang tua"

Men.. gue nikah justru buat nunjukkin gue bisa mandiri tanpa bantuan ortu. Bukan terus-terusan nebeng sama ortu. Jangankan pas nikah, pas belum nikah gini aja sebenarnya ga enak numpang terus sama orang tua. Makan minum di rumah, dibayarin sama emak bapak. Ortu gue udah terlalu banyak berkorban buat gue, sementara "balasan" yang gue lakukan ke mereka masih terlalu sedikit.

Kalo gue tambah lagi dengan nikah sambil numpang di rumah ortu, ga akan ada bedanya waktu gue belum menikah dong?

Menikah buat gue itu ga cuman sekadar status, tapi juga soal kemapanan. Ga cuman kemapanan finansial, tapi juga soal kemapanan berpikir dan memimpin. Menikah artinya mengubah status gue dari yang tadinya anak yang masih dipimpin oleh ortunya, jadi orang yang harus bisa memimpin pasangannya.

Kalo gue menikah dan masih hidup nebeng orang tua, artinya gue masih pengen disetir sama mereka. Sementara gue udah jenuh disetir oleh kemauan mereka terus. Menikah adalah alasan paling masuk akal untuk bisa nunjukkin ke mereka kalo gue udah bisa berdiri sendiri tanpa disetir lagi oleh mereka.

Makanya gue selalu berpikir puluhan kali untuk urusan nikah-nikahan ini. Kalo gue merasa belum mapan ya ditunda dulu nikahnya.

Nikah bukan perlombaan, ga harus cepet-cepetan. Nikah perlu kedewasaan, ga sekadar dapat status peresmian.

Karna buat gue nikah ini adalah prinsip, jadi ga ada tawar menawar. Kalo mau ikut ya syukur, kalo ga mau ikut juga ga masalah. Tiap orang punya prinsip yang berbeda-beda, tugas gue adalah memegang teguh apa yang jadi prinsip gue dan menghargai orang yang mau ikut bersama-sama berjuang memenuhi prinsip itu. Kalo ga mau ikut, juga ga masalah, karna gue juga menghargai dia yang punya prinsip berbeda dengan gue.

Gue tau ga semua orang akan setuju dengan prinsip kayak gini. Mungkin bisa jadi orang tua gue juga. Tapi waktu mereka gue kasih tau hal ini sih iya-iya jawabnya. Kayaknya sih ngedukung, ya. Semoga aja beneran ngedukung ga sekadar manis di bibir.

Tinggal sekarang membawa pemahaman prinsip ini ke ring 2 keluarga gue. Buat mereka yang udah cukup terdidik lebih mudah mengerti prinsip ini. Karena mereka pun awalnya juga pasti begitu. Mencari kemapanan adalah tujuan awal sebelum menikah.

Kemapanan artinya gue harus punya kerjaan, minimal pemasukan tetap tiap bulannya. Mau itu jadi pns, honorer, atau kerja di perusahaan BUMN. Walaupun sekarang punya pemasukan tetap, dari bisnis online dan internet marketing, namun gue cukup yakin masih banyak yang memandang negatif pekerjaan begini karena bukan kerja kantoran (dan berseragam tentunya) dan cuman diam di rumah saja.

Gue juga memang punya keinginan untuk kerja kantoran karena pengen nyari modal untuk tetap terus belajar di dunia bisnis online dan digital marketing ini. Tujuan akhir gue adalah punya aset dari kerja online. Karna gue udah ngerasain sendiri bisa terbebas dari kekangan jam kerja 9 pagi sampai 5 sore.

Ngebantu orang banyak dengan hasil praktik bisnis online selama ini juga jadi salah satu pencapaian yang ingin gue lakuin di masa depan. Nolong orang itu emang ga semuanya menghasilkan uang, tapi kebahagian ngeliat mereka bisa berhasil mempraktikkan apa yang kita bantu itu ga akan ternilai dengan uang sebanyak apapun. 

Artikel Terkait

M E N I K A H
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.