WikiLatih Wikipedia dan Portofolio Menjadi Pelatih

WikiLatih Wikipedia merupakan salah satu acara luring yang diselenggarakan untuk mengajarkan wikipedia lebih intensif kepada pengguna baru. Pada acara wikilatih ini biasanya peserta akan diajarkan dasar-dasar teknik menyunting di platform wikipedia. Pengajarnya bisa dari kontributor lokal senior ataupun langsung dari Jakarta.

Kebetulan untuk acara yang ini, seluruh pelatih dan pendampingnya adalah kontributor lokal Wikipedia Banjar. Sehingga penyampaiannya lebih organik dan lebih mudah dipahami para pesertanya. Gue juga termasuk dalam panitia kepelatihan ini juga, jadi pelatih pendamping WikiLatih.

Menjadi pelatih WikiLatih merupakan salah satu target pribadi gue yang sampai hari ini masih belum tercapai. Setidaknya pada acara WikiLatih kemaren membuat gue lebih dekat selangkah untuk bisa jadi pelatih utamanya. Gue pengennya dalam waktu dekat ini bisa jadi pelatih utama di acara wikipedia lainnya.

Soalnya udah kangen banget tampil di hadapan banyak orang. Rasanya lama banget ga ngomong di dengerin banyak orang secara langsung. Biasanya ngonten di youtube, instagram sama tiktok doang.

Filosofi pelatih

Ini bukan pelatih olahraga, ya! Tapi lebih ke konsep pematerinya seperti apa.

Kalo gue pribadi lebih suka konsep pelatihan tatap muka. Karena akan lebih mudah ditangkap penyampaiannya. Gue juga bisa liat langsung orang-orangnya seperti apa. Ngobrolnya juga lebih nyaman dan pertanyaan akan lebih mudah terjawab.

Ketika melakukan pelatihan tatap muka, kita bisa ngeliat langsung reaksi pesertanya. Respon-respon mereka itu energi buat gue. Kalo mereka ga ngerespon, barti itu tantangan buat gue untuk bisa menarik perhatian mereka. 

Kendala kalo misalnya sebuah acara workshop dilakukan secara daring itu banyak banget. Dari yang mulai jaringan jelek, suara ga kedengaran. Belum lagi pesertanya diem-diem semua, ga bisa dengerin ekspresinya. Kayak berasa ngobrol sendiri jadinya.

Follow up acara luring juga menurut gue lebih mudah. Bikin grup whatsapp atau telegram, bisa jadi tempat diskusi sama pesertanya. Bahkan, kalo kendalanya ada yang pernah dirasain sama peserta lain, mereka akan saling bantu di grup. Engagement-nya jadi lebih bagus, kan?

Kalo misalnya ada acara lain, kita bisa langsung promosiin di dalam grup itu juga. Untuk yang udah pernah ikutan acara kita sebelumnya dan dia ngerasa acara sebelumnya bagus, gue sih yakin dia akan ikut lagi pelatihan berikutnya. Bahkan bisa jadi dia bakalan bawa temen-temennya yang lain untuk ikutan ngerasain pengalaman yang sama.

Gue sendiri mungkin bisa handle 7-10 peserta. Mungkin maksimal 13 orang masih bisa. Kalo pesertanya lebih dari itu, gue udah pasti perlu pelatih pendamping. Karena ga mungkin gue sendiri ngehadapin semuanya. Mungkin perlu nambah 1-2 orang lagi, tergantung jumlah pesertanya juga.

Portofolio Menjadi Pelatih/Pengajar

Gue udah pernah jadi pelatih/pemateri di beberapa acara sebelumnya.

Acara pelatihan yang paling gue inget salah 3-nya adalah acara pelatihan penulisan blog di salah satu universitas tahun 2019. Gue ngajar gimana menulis blog untuk pemula dari dasar banget. Tapi karena gue dulu belajar nulisnya otodidak, jadi yang gue bagikan tu bukan hal-hal teknis. Lebih ke hal yang realistis aja dan mudah untuk cepat dipraktikkan.


Pada acara ini konsepnya lebih kayak seminar. Gue mencoba mengenalkan blog kepada para penerima beasiswa dari universitas tersebut. Blog menurut gue lebih sederhana untuk bikin kontennya. Meskipun konten video semakin menjamur, tapi semua konten awalnya pasti dari menulis dulu.

Ada juga yang bisa langsung bikin konten video, pendek/panjang, tanpa menulis skripnya lebih dulu. Mungkin karena dia terbiasa ngomong, jadi di dalam kepalanya udah "nulis" skripnya sendiri. Kalo gue jujur masih belum selancar itu. Perlu nulis dulu baru bisa bicara di depan kamera.

Salah satu pertanyaan peserta yang gue inget adalah potensi pembajakan tulisan di internet. Sebenarnya ini jadi kekhawatiran gue juga. Tapi gue percaya, kalo kita nulis/bikin karya dari hati, orang-orang pun tau kalo ada yang ngebajak, ga akan bisa 100% sama.

Apalagi kalo yang nulisnya punya konsep kayak gue. Orang yang menuangkan dalam tulisan apa yang ada di dalam kepalanya. Sesuatu yang ada di dalam kepala seseorang, sekalipun dia kembar, pasti ga akan pernah sama dengan yang lain. Jadi, tulislah sesuatu yang otentik, yang kita banget, sehingga dimanapun orang menemukan karya kita, meskipun dibajak, mereka tau karya itu punya siapa.

Kegiatan selanjutnya yang gue inget adalah pelatihan pembuatan blog bekerjasama dengan LPM sebuah universitas tahun 2020. Kebetulan ketua LPM-nya waktu itu temen 1 komunitas, jadi dia ngajakin kolab.

Konsep acara ini pelatihan, jadi gue ngajar sekalian tutorial juga. Untungnya pesertanya ga banyak, ga nyampe 10. Jadi masih bisa dikerjakan oleh segelintir orang aja. Gue juga dibantu sama 1 temen lain untuk melancarkan acara ini.

Sebenarnya gue pengen ada follow up untuk kegiatan ini. Misalnya ada tugas untuk seluruh peserta menulis 1 artikel per minggu. Temanya bebas atau tematik sesuai kondisi saat pelaksanaan tantangan menulisnya. Dia yang paling konsisten menulis, sampai di akhir periode tantangan akan mendapatkan hadiah.

Apalagi mereka ini, kan, anggota LPM semua. Harusnya menulis bukan lagi sebuah "tantangan" yang harus mereka taklukan. Namun, akan jadi tantangan ketika LPM-nya jarang aktif sehingga anggotanya jadi jarang menulis.

Kalo ada LPM kampus yang mau kerjasama untuk ngadain workshop/seminar menulis boleh kontak ke email, ya! Mwehehehe!

Acara ketiga yang menurut gue cukup komprehensif adalah acara yang bekerjasama dengan salah 1 sekolah yang mengadakan seminar kepenulisan. Kerjasamanya dilakuin antara organisasi yang gue ikutin sama sekolah SMA. Salah 1 rangkaian acaranya ada pengenalan tentang tulis menulis blog, bahkan ada praktiknya juga waktu itu.

Makanya gue bilang komprehensif karena mereka ga sekadar dapatin teorinya aja, tapi juga ada praktik menulis langsungnya. Kalo ga salah ada penilaiannya juga, tapi gue lupa. Intinya seluruh peserta itu dimasukin ke dalam grup nanti diumumin tulisan terbaiknya siapa seminggu setelah acara.

Sayangnya gue ga punya lagi dokumentasi acaranya.

Konsep Acara Pelatihan Yang Ideal

Gue pribadi lebih suka konsep acara tatap muka yang paket lengkap. Artinya peserta tidak hanya diberikan teori saja, namun juga praktik langsung. Kemudian ada kegiatan selanjutnya untuk memperdalam/mempertajam teori dan praktik yang sudah dilakukan pada hari H pelatihannya.

Artinya pesertanya tetap "dirawat" dibimbing terus hingga mereka terbiasa mengerjakannya sendiri. Melatih muscle memory emang ga bisa sebentar, minimal 3 bulan. Itupun menurut gue masih sebentar, harusnya 6 bulan. Tapi tentu waktu sepanjang itu akan memakan biaya yang besar. Jika pelatihannya diadakan gratis, tentu merawat peserta selama 6 bulan lumayan berat juga.

Tentu tidak semua peserta bisa "bertahan" pada atmosfir seperti itu. Karena gue mengakui sendiri, kalo menjalankan rutinitas/kebiasaan baru itu sulitnya bukan main. Hanya orang-orang yang punya tingkat disiplin tinggi dan punya mindset kuat yang bisa bertahan.

Gue aja, baru bisa mempertahankan kebiasaan menulis setiap hari setelah lebih dari 9 tahun menulis di blog. Terlalu lama mungkin, ya? Harusnya 5 tahun udah bisa jalan otomatis. Bahkan, gue baru bisa konsisten posting setiap minggu 1 tulisan sepanjang tahun itu baru kejadian tahun 2025 kemaren. 

Bayangin. Gue udah nulis kurang lebih 13 tahun, untuk membiasakan menulis setiap hari baru bisa disiplin setelah 9 tahun nulis. Baru bisa konsisten posting 1 tulisan setiap minggu di tahun 2025. Artinya berdasarkan pengalaman gue, bimbingan 6 bulan pun sebenarnya masih belum cukup.

Mungkin kalo gue dibantu sama temen-temen yang lain, yang punya tingkat disiplin lebih tinggi daripada gue, bisa jadi terlaksana, sih. Terlebih pesertanya juga punya mindset yang sama: ingin belajar dan bertumbuh.

INI YANG LEBIH BERANI DARI MENS REA PANDJI

Komoidoumenoi merupakan acara lawakan tunggal Pandji ke sembilan yang digelar pada tahun 2022-2023. Final shownya diadakan di Istora Senayan Jakarta di hadapan 7000 penonton. Berkat dirilisnya Mens Rea di Netflix, gue bisa nonton spesial show ini di platform comika.id hanya dengan paket basic. Biasanya untuk spesial show tertentu ada add on biaya lagi untuk nonton digital streamingnya.

Setelah gue menonton 10 acara standup comedy Bang Pandji, baik dalam bentuk CD, Digital Download dan nonton langsung, gue berkesimpulan: Mens Rea ga ada apa-apanya. 

Mungkin lu mengira materi Mens Rea terlalu pinggir jurang karena ada di Netflix dan aksesnya bisa dinikmati banyak orang. Tapi kalo lu nonton acara Pandji lainnya di platform comika.id, deh. Lu bakalan tau kalo ada materi yang lebih berbahaya dan tajam.

Gue ga akan spill semua review spesial show-nya di sini. Tapi akan gue kasih perbandingan 3 spesial show dari 10 yang sudah dilakukan. Ditambah Mens Rea yang udah gue review di tulisan sebelumnya.

1. Ternyata Ini Sebabnya dan Keadaan Kahar 

Menurut gue 2 spesial ini punya kemiripan secara vibes. Pertama diadain pas lagi pandemi menyerang, jadi penontonnya terbatas banget dan diadakan di cafe atau restoran doang. Beda banget dari spesial sebelumnya yang diadain di gedung berkapasitas besar.

Selain dari sisi tempat materi di spesial ini juga tergolong mirip-mirip. Pokoknya ga jauh-jauh dari ngobrolin pandemi yang meresahkan. Selain itu, menurut keyakinan gue, beberapa bitnya juga terkesan rada maksa. Bahkan di beberapa bit ada sempat muncul kalimat""ga lucu, ya? padahal menurut gue itu lucu lho?"

Kualitas spesial show dari orang yang udah ngelakuin hal kayak gini lebih dari 5 kali seperti ini, gue rasa itu ga layak muncul dari seorang Pandji. Terlihat sekali ada bit yang memang belum pernah dicobain alias ga matang. Beberapa kali bahkan gue denger dia ngomong belibet kebalik balik gitu.

Dari materi Ternyata Ini Sebabnya gue jadi tau awal ketemu Pandji dengan istrinya yang sekarang. Kita jadi tau kalo Pandji pernah giting di Belanda sama kru-nya yang lain saat ngejalanin tur standup beberapa tahun silam. Dari sini pula kita tau kalo Pandji rutin ke psikolog/psikiater untuk konsultasi terhadap anger management-nya yang buruk.

Keadaan Kahar (force majeur) lebih chaos lagi dari sisi penyelenggaraan acara. Udah mah tempatnya semi outdoor, di lantai 70 lagi. Ga cuman angin kencang yang jadi kendala, tapi juga cuaca yang menentu. Dari video digital streaming yang gue tonton, acara sempat terhenti beberapa menit karena cuaca (sepertinya ujan). Bukan tipikal acara "Pandji banget" yang biasanya well prepared.

Menurut keyakinan gue, 2 spesial ini lebih mirip openmic berbayar pas pandemi daripada spesial show dari pelawak tunggal. Membuktikan 1 hal yang masih terbukti sampe sekarang: kalo Pandji emang jago jualan.

2. Hiduplah Indonesia Maya

Berawal dari IP (intelectual propery) siniar (podcast) Pandji di platform Noice, akhirnya siniar ini menjadi sebuah festival. Salah satu rangkaian acaranya adalah standup comedy show yang diisi oleh Pandji sendiri. Siniar HIM (HIduplah Indonesia Maya) ini membahas tentang hal-hal yang lagi viral di dunia maya dalam format social commentary.

Pertunjukkan HIM ini sudah proper dan sesuai standar Pandji saat mengadakan pertunjukkan lawakan tunggal. Biasanya ada 3 kriteria: in door dengan akustik suara bagus, kapasitas penonton lebih dari 300 orang dan sound system yang mumpuni.

Dari sisi materi juga udah Pandji banget. Solid, rapi, story telling yang panjang namun ga ngebosenin. Karena temanya HIM, jadi materinya mayoritas ngebahas yang lagi rame di medsos, kala itu yang lagi rame adalah pilpres. Makanya materinya di sini dominan sekali membahas pilpres dan presiden-presiden di Indonesia.

HIM ini sebenanyar spesial "pengganti" untuk Septictank yang tidak ada versi digitalnya sama sekali. Menurut Pandji, Septictank tidak ditayangkan di platform manapun dikarenakan untuk menjaga kerahasiaan materinya di sana. Meskipun begitu, beberapa materi Septictank diselipkan di pertunjukkan HIM ini.

3. Komoidoumenoi

Merupakan spesial show Pandji ke-9 sebelum Mens Rea. Tema besar dari spesial kali ini ngomongin tentang ketersinggungan. Mayoritas sih kejadian-kejadian yang berhubungan ketersinggungan yang deket sama dia. Karena kita tau semua kalo Pandji sering banget tersangkut kasus ketersinggungan.

Acara ini digelar di Istora Senayan, tempat Glenn pernah gelar konser. Pandji sering sekali bawa nama Glenn setiap pertunjukkannya, dia mengakui bahwa Glenn adalah sosok idolanya. Apapun yang dilakuin Glenn dalam berkarya, Pandji sebisa mungkin akan ngikutin.

Kali ini meskipun acaranya terlihat proper ada aja kendalanya. Waktu gue nonton di digital downloadnya, penonton di barisan depan ngeluh karena silau kena lampu sorot. Karena panggungnya bundar, jadi ada lampur sorot yang mengarah ke penonton dan bikin mereka silau.

Kedua, perkara sound yang ga kedengeran untuk penonton di tribun. Katanya masalah suara ini tuh udah dari waktu Marcell jadi opening, tapi karena keahlian crowd control-nya yang sudah teruji, masih bisa teratasi. Waktu Pandji naik, masalahnya masih belum kelar, penonton ngeluh lagi. 

Pandji bahkan harus crowd work dulu sekitar 15 menit lebih, tapi masih belum kelar juga tu masalah sound. Kasian banget penonton di tribun, udah bayarnya paling murah, dikasih suara kualitas jelek pula. Meskipun begitu, kalo ga salah ada ada kompensasi buat penonton acara ini karena kualitasnya jelek.

Materi dari Komoidoumenoi ini menurut gue sangat antagonis dan frontal sekali. Jarang sekali Pandji menggunakan strategi "menyerang" seintens ini. Semua dia sikat, dari awal crowd work aja semua orang "diabsenin" satu-satu buat dia serang. Dari fisiknya, sukunya sampe agamanya semuanya kena. Udah gila.

Kata dia, di rangkaian tur Komoidoumenoi ini salah 1 daerah ada penonton yang pulang di tengah acara. Menggambarkan betapa sensitif dan frontalnya materi yang dia bawakan.

Biasanya dalam setiap tur stand up itu, materi komikanya akan berkembang terus versinya. Sampai pada menemukan final form-nya di kota terakhir (finale). Kalo punya rezeki lebih, coba nonton 2 kali deh. 1 kali waktu tur kota-kota besarnya dan nonton di finalenya. Lu bakalan ngeliat materinya akan berbeda banget dari pertama kali lu tonton.

Nah, kalo Komoidoumenoi ini aja ketika tur daerahnya bisa bikin penonton pulang di tengah-tengah acara. Lu bisa ngebayangin ga separah apa materi di finalenya? Terlepas dari penontonnya emang baperan atau punya urusan lain, kita asumsikan materinya emang separah itu.

Menurut gue sih, materi di Komoidoumenoi ini edgy, bold, beran dan menantang batas ketersinggungan. Pandji mendorong jauh batas ketersinggungan penontonnya hingga ke tepi jurang penghinaan. Buat gue, tipis banget batas antara ketersinggungan, becanda dan menghina di Komoidoumenoi.

Saking tajamnya materi di Komoidoumenoi, gue beberapa kali meringis mendengarnya. Meringis itu udah hal normal ketika dengerin materi Komoidoumenoi. Tertawanya itu bukan hanya lucu, tapi ada ironi, satir di dalamnya. Beberapa kali dia selalu bilang "gue jarang solat" atau "saya ga pernah ngaji" untuk menunjukkan betapa dangkalnya pengetahuan agamanya saat itu.

Bahkan, salah satu materinya yang nyeritain jalan-jalan ke museum itu mencoba menggoyahkan iman umat muslim. Jujur gue sampe ngilu dengernya dan ngebayangin kalo materi ini sampe bocor keluar dari platform ini apa respon yang bakalan dia dapatkan. Orang-orang yang fanatik sih menurut keyakinan gue bakalan ngamuk kalo hal itu dipertanyakan.

Lu tonton sendiri, dah materi fullnya kayak gimana ye!

***

Buat gue pribadi, kalo soal "berani-beranian" materinya, Komoidoumenoi kurang lebih setara beraninya dengan Mens Rea. Karena keduanya sama-sama membahas isu sensitif. Kalo Mens Rea berani dari sisi pembahasan soal tokoh-tokoh politik. dan oknum-oknum instansi. Komoidoumenoi berani dari sisi religiusitasnya dan mendorong batas ketersinggungan seseorang.

Bersyukurnya, Komoidoumenoi dirilis di platform eksklusif aja, ga kayak Mens Rea. Jadi yang terpapar dengan materi ini ga terlalu banyak. Kalo pun ada, mungkin udah ngerti bahwa ini hanyalah pertunjukkan komedi. Kalo di Netflix, orang-orang yang belum pernah terpapar stand up comedy justru keliatan gagap. Kayak baru pertama kali ngeliat standup.

Tapi jadinya bagus sih, orang-orang jadi tau apa yang dibicarakan seorang komika ketika lagi manggung. Ada banyak pembahasan sebenarnya, setiap komika cuma ciri khasnya masing-masing. Mereka bebas memilih mau nonton siapa dan suka sama materi yang mana. Balik lagi ke selera masing-masing, ya. Ketika bicara soal selera, maka tidak bisa maksa orang lain untuk ngikutin seleranya kita.

Kalo menurut lu sendiri, lu suka ga materi standupnya Bang Pandji, coba tulis di kolom komen, ya!

5 hal yang gue banget

Sesekali gue mencoba memperjelas hal yang sudah terlihat dan mungkin masih belum diperhatiin sama yang lain juga. Biar tetap mengingat siapa diri ini dan sejauh apa mengenali diri selama ini. Soalnya udah lama gue nyuekin diri sendiri dan lebih mentingin perasaan orang lain. Padahal, kita ga perlu bertanggung jawab sama apa yang dirasain orang lain, kan?

Ini juga sekalian sebagai halaman perkenalan 2.0 dari halaman "siapa aku" di blog ini. Tentu ada informasi yang gue tahan biar ga kena doksing. Tapi, sebaik-baiknya gue nahan info, potensi terdoksing akan selalu ada. Namanya internet mah selalu ada celah aja untuk bikin celaka.

1. Lebih suka di rumah

Kalo lu ngasih gue laptop, koneksi internet, dan makanan enak di rumah, gue ga akan kemana-mana, deh! Buat gue itu udah cukup membuat gue nyaman untuk ga kemana-mana. Karena sangat tidak mungkin gue keluar rumah dengan sadar, cuman untuk nongkrong di cafe sendirian.

Kalo mau keluar rumah untuk nongkrong, minimal berdua. Menurut keyakinan gue, nongkrong sendirian di cafe tu mirip kayak anak hilang hwehehehe..!! 

Buat gue diam di rumah itu healing termurah sedunia! Ga perlu jalan-jalan, ga perlu keluar tenaga. Cukup diem aja di rumah, marathon Netflix, Disney+ udah perfect day banget itu buat gue. Ada yang samaan kayak gue juga ga begini?

Tapi bukan berarti gue anti-nongkrong, ya! Gue ga bakalan ngajakin lu nongkrong, karena males kalo ditolak-tolakin sama lu. Jadi, kalo lu yang ngajakin, gue akan usahain ikut. Apalagi kalo misalnya lu datang dari jauh-jauh buat nyamperin, secape-capenya akan gue temuin lu.

Pengecualian kalo misalnya gue lagi liburan atau lagi travelling. Gue rela jalan-jalan sendirian dan dianggap anak hilang, gapapa deh! Soalnya kan rugi, udah jalan-jalan di kota orang masa diem di kamar hotel doang?

2. Lebih suka chattingan daripada telponan

Mungkin karena terbiasa ngetik cepet, jadinya lebih nyaman untuk chat daripada telponan. Ini juga mungkin yang bikin gue kadang jadi gagap kalo ngobrol sama orang karena jarang terbiasa ngobrol. Gue cape kalo harus nyari-nyari obrolan gitu, mending chat aja, kan, lebih aman nyaman.

Ini juga yang bikin gue males untuk sleep call. Jangan bilang gue pernah ngelakuin, justru karena pernah dan menurut gue ga ada manfaatnya, makanya gamau ngelakuin hal itu lagi. Hal yang gue dapet cuman mata berkantung dan sakit kepala karna kurang tidur doang.

Kalo mau telponan pas lagi seger aja. Jangan pas jam tidur malah telponan. Apalagi pake acara drama segala macam-macam. Udah mah cape mau istirahat, disuruh ngertiin drama lagi jam segitu. Kayak ga ada waktu lain aja mau bikin drama.

Lagian siapa sih yang nyiptain trend ga bermanfaat itu? Kurang kerjaan banget.

Intinya kalo mau telponan bisa, tapi di jam manusia normal telponan. Waktunya tidur, yaudah tidur aja dong! 

Sorry, sorry jadi curhat..

Buat gue, telponan itu untuk keperluan yang penting-penting aja. Untuk kebutuhan respon yang cepat, bisa telpon. Karena kalo telponan kayak begitu, gue ga bisa multitasking jadinya. Hidup gue kan ga cuman buat ngangakt telpon lu doang. Masih ada series yang belum ditamatkan, masih ada film yang perlu ditonton. 

Kalo mau ngobrol, mending ajakin gue nongkrong aja daripada nelpon. Dengan nongkrong, telinga ga panas, perut bisa kenyang dahaga bisa hilang. Kecuali lokasi lu jauh dan ga bisa ngajakin nongkrong, gue masih bisa tolelir untuk itu. 

3. Ga suka chat yang dry text

Texting yang gue maksud dalam konteks obrolan kenalan. Chatnya tuh dalam kondisi pengen tau lebih dalam dan lebih intim gitu. Kalo udah pernah kenal dan bukan dalam konteks obrolan secara kenalan mah gue bodo amat, ya.

Buat gue, obrolan di chat ketika kenalan itu cukup krusial. Karena dari sana bisa keliatan intensinya itu sama atau ga kayak kita. Setidaknya dari chat kita bisa tau apakah ini orang sama tertariknya kayak kita, atau cuman sekadar kasian aja ngeladenin kita.

Ibaratnya, kalo di chat aja bisa seasik itu/ngalir banget obrolannya, apalagi kalo ketemu, kan? Gue tua ada yang bilang ga bisa nilai orang hanya dari obrolan chatnya, karena bisa jadi chatnya dry tapi ngobrol pas ketemu lancar. Bisa jadi bener, tapi tetap aja kalo misalnya dari chat udah keliatan ga tertarik, diajak ketemupun ngobrolnya juga akan datar-datar aja.

Jadi, kalo mau kenalan lewat chat, penting untuk ngasih sinyal ketertarikan satu sama lain. Buat gue pribadi, kalo cuman gue yang keliatannya tertarik, gue akan kasih "kesempatan" 3-5 chat lagi untuk ngeliat intensinya. Kalo sampe chat ke-5 udah ga keliatan sinyal positifnya, gue akan segera end chat. Karena kalo cuman satu doang yang tertarik, pasti cape banget ngobrolnya.

4. Suka menulis

Udah keliatan jelas harusnya, ya? wahahhaa!! Masa udah sekian taun blog ini eksis masih ga jelas juga? Menulis itu adalah terapi buat gue. Bisa bikin "lupa" sesaat sama kerjaan ataupun hal-hal yang bikin stress. Cocok banget buat yang overthingking dan bingung cerita sama siapa.

Itulah kenapa blog ini muncul. Mayoritas tulisan yang ada di sini adalah isi kepala yang random. Makanya keliatannya ga nentu tema/niche-nya apa, kan? Karena tujuan utamanya waktu bikin ini adalah mencari hobi untuk mengeluarkan isi kepala. Terlalu banyak hal yang gue perhatikan, jadinya ada banyak hal yang gue bahas.

Pada akhirnya jadi membandingkan dengan temen-temen blogger yang lain. Terbaru ada temen blogger yang baru aja menang juara 2 karya penulisan blog, keren banget! Gue yang udah selama ini nulis masih gini-gini aja. Mungkin karena emang ga sebagus itu kali tulisan gue ya? Hahaha

Sempat terpikir untuk ikutan kelas menulis BNSP juga. Kebetulan gue pernah nemu tuh ada yang jual kelasnya. Tapi seiring berjalannya waktu, keinginan itu surut sendiri. Entah mungkin ngerasa ga butuh sama kelasnya atau karena ga mau ikut aja.

Bisa jadi juga karena bacaan gue yang masih kurang banyak. Karena Raditya Dika pernah bilang, penulis bersumber dari membaca, membaca bersumber dari rasa penasaran. Kemungkinan besar, rasa penasaran gue masih kurang. Sehingga, bikin kualitas tulisan gue segitu-gitu aja.

Gue juga udah berusaha baca buku yang membahas tulis menulis. Gue pernah baca buku dari gurunya Raditya Dika, A.S. Laksana yang judulnya "Creative Writing". Gue juga udah pernah baca bukunya Puthut EA. yang judulnya "Buku Latihan Untuk Calon Penulis". Gue udah pernah baca buku dari wartawan Kompas Hilmi Faiq yang judulnya "Mengabadikan Tabungan Kenangan, Cara Menulis Perjalanan".

Dari sekian banyak buku tentang tulis menulis yang gue baca, rasanya masih belum cukup. Masih ada yang kurang dan ga memuaskan hasrat keingintahuan gue untuk memperbaiki kualitas tulisan gue. Mungkin harus lebih banyak lagi membaca buku-buku lain untuk memperkaya wawasan terhadap tulisan sendiri.

5. Slow reader

Gue udah ngerasa sebagai slow reader sejak kuliah. Karena buku yang tebel-tebel halamannya itu lama banget untuk bisa gue tamatin membaca. Apalagi waktu itu masih belum disiplin punya waktu membaca khusus. Jadi bacanya pas lagi kepengen aja, kayak untuk mengisi waktu luang doang.

Beda banget sama temen-temen gue yang bisa baca buku cepet banget. Kagum gue sama mereka, otaknya cepet banget memproses isi bukunya. Mau itu fiksi dan non-fiksi, buat gue kalo lagi baca 1 buku, ya minimal bisa punya sesuatu yang bisa diambil. Jadi kalo baca buku tu pasti pengennya "masuk" ke dunia di buku itu. Lu pernah kayak gitu juga, ga?

Nah, karena ga pengen sia-sia ngebaca 1 buku tanpa dapat apa-apa, gue harus ngerti betul apa yang dituliskan pengarangnya. Itulah kenapa gue jadi slow reader ketika baca buku. Atau emang karena gue perfeksionis dan ga mau rugi aja kali, ya? hahaha!

Baru-baru ini gue mencoba menerapkan "30 menit baca buku per hari". Tujuannya sederhana: mendisiplinkan diri untuk terbiasa membaca buku. Selain itu juga biar bisa cepet namatin buku yang masih on going. Terlalu banyak buku yang menunggu untuk dibaca, sementara gue ini tipenya slow reader. Akhirnya numpuk antriannya.

***

Harusnya sih tulisan ini udah cukup menjelaskan sedikit tentang gue, ya. Sisanya bisa lu jelajahi langsung ketika ketemu dan ngobrol langsung. Kalo pun nanti ada perbedaan setelah lu berinteraksi langsung, mungkin aja karena perbedaan komunikasi kita.


Pelajaran dari pekerjaan sebelumnya

Selama ini, gue coba melihat ke belakang untuk bisa mengambil pelajaran-pelajarannya. Kali ini pelajaran yang berhubungan dengan pekerjaan, terutama tentang karir. Alhamdulillahnya gue punya kesempatan belajar di beberapa perusahaan dan instansi selama gue memasuki dunia kerja.

Ternyata, dari beberapa kantor yang gue masukin punya ceritanya masing-masing. Setiap cerita pasti punya pelajaran yang bisa diambil. Bersyukurnya, gue selalu menerapkannya di pekerjaan berikutnya.

Beberapa pengalaman yang bisa gue ceritakan di sini antara lain:

1. Jadi profesional dan belajar memahami pimpinan

Ini pekerjaan pertama yang gue dapetin setelah 6 bulan lulus dari S1. Benar-benar gugup waktu pertama kali masuk kantor itu. Namun, karena kantornya mayoritas orang-orang teknik juga, jadi lumayan nyambung ngobrolnya meskipun baru masuk. Bahkan, sampe sekarang gue masih temenan sama orang-orang dari kantor itu, meskipun kami kerjanya udah misah-misah.

Pelajaran pertama yang bisa gue ambil dari pekerjaan ini adalah belajar jadi profesional pertama kali. Pengalaman magang waktu kuliah itu sama sekali berbeda dengan dunia kerja sebenarnya. Apalagi kalo magangnya cuman duduk-duduk doang kerjaannya cuman fotocopy dokumen kerjanya.

Dunia kerja itu stress level-nya udah 2-3 tingkat lebih tinggi daripada dunia perkuliahan teknik. Untungnya di kantor banyak yang bantuin dan ngajarin gue untuk lebih cepat beradaptasi di dalamnya. Lingkungan kerja juga salah satu faktor penting untuk adaptasi dan jadi karyawan yang cepat memahami work flow dan work culture di kantor.

Menjadi profesional pertama kali juga bergantung dengan siapa atasan kita. Kebetulan atasan gue ga terlalu banyak ngasih perintah/instruksi. Karena udah punya beberapa karyawan senior, dia minta karyawan senior aja yang ngajarin dan ngasih instruksi.

Pelajaran kedua yang gue dapatkan adalah belajar memahami pimpinan. Setiap pemimpin punya sifat dan karakternya masing-masing. Semakin cepat lu kenal sama pimpinan lu, akan semakin mudah lu bisa beradaptasi. Semakin lu kenal karakter pimpinan lu, semakin paham gimana mengatasi dan mengantisipasi sikapnya.

Dari sini lu juga bisa belajar untuk stress management terhadap tekanan pekerjaan dan atasan. Terlebih lagi kalo misalnya atasan lu agak moody-an orangnya. Gue bisa paham sama cerita orang-orang yang punya atasan yang ngambekan/baperan gitu. Karena gue juga lumayan baperan orangnya, tapi itu dulu.

Punya atasan dengan karakter seperti itu memang lumayan bikin stress. Tapi, dari situ harusnya bisa belajar untuk tau gimana cara mengatasi tekanannya. Terutama untuk diri lu sendiri yang bisa lu kontrol responnya. Lu bisa belajar untuk memilih respon yang tepat ketika atasan lu mulai moody-an. Bahkan ketika dia marahin lu bukan karena kesalahan lu sendiri.

2. Mengenal budaya kerja instansi/ASN

Setelah keluar dari perusahaan konsultan, gue kerja lagi di perusahaan konsultan yang lain. Bedanya, gue berkantornya di instansi provinsi. Jadi meskipun gue berkontrak sama perusahaan konsultan, kerjanya di instansi. Dari sana gue juga dapat beberapa pelajaran yang bisa diambil.

Pelajaran ketiga yang gue dapatin dari pekerjaan ini adalah belajar memahami dunia kerja instansi/ASN. Beda tempat kerja, udah pasti beda budayanya juga. Mindset orang-orangnya juga berbeda. Apalagi kalo di instansi lebih banyak insan generation boomer yang kerja di sana.

Dari hal generation gap ini aja sudah keliatan berbedanya. Kerjanya lebih slow dan agak kurang mau untuk ngajarin orang. Menurut keyakinan gue, orang-orangnya lebih punya mental fixed mindset, daripada growth mindset. Bisa jadi karena pekerjaannya yang monoton dan yakin punya masa depan terjamin. Jadi ga punya keperluan untuk mengembangkan diri atau meniti karier.

Kalo lu tau ada orang-orang dinas yang masuk jalur orang dalam, itu bukan isapan jempol. Nyata adanya, ini udah jadi rahasia umum. Ada banyak yang kerja di sana bukan karena kualitas orangnya, tapi kualitas koneksinya alias orang dalam. Dari situ gue tau, kayaknya kecil kemungkinan untuk bisa masuk instansi (lagi). Karena koneksi gue minim sekali orang dalam.

Karena mengetahui budaya bekerja ini, akhirnya berguna buat gue di kemudian hari.

3. Koordinasi itu penting

Ini pelajaran ketika gue dapat kerjaan sebagai petugas lapangan di instansi kabupaten. Kami dibagi menjadi beberapa tim, gue masuk di tim rata-rata senior semua orangnya. Salah satu yang bikin gue ga cocok sama pekerjaan ini adalah pola kerjanya yang ga nentu. Kami ga ngantor kayak pegawai instansinya, hanya jadi semacam pendamping perangkat desa yang menjadi target pembangunan dari instansi tersebut.

Mayoritas kami bekerja hanya jika ada kegiatan saja. Misalnya ketika barang-barang hasil pembelian menggunakan dana dari APBD datang. Ketika ada pencairan uang dari bank yang perlu diambil. Ketika ada jadwal rapat dari pimpinan kami di instansi. Udah gitu doang. Sisanya kebanyakan di kamar kost aja. Buat gue, bisa dibilang ini kerjaan "setengah nganggur".

Pekerjaan ini cocoknya disebut freelance, karena hanya perlu aktif ketika momen tertentu saja. Gajinyapun bisa dibilang jauh di bawah UMK. Karena memang jatohnya ga full time juga. Ga cocok buat gue yang masih usia produktif dan pengennya kerja kantoran.

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari kerjaan ini adalah berkoordinasi/komunikasi itu penting.

Waktu itu kami memang banyak berkoordinasi di grup kerjaan (whatsapp). Gue yang waktu itu menganggap chat di grup terlalu mainstream, jadinya koordinasi lewat japri aja ke sesama anggota tim. Masalahnya, gue koordinasi ke anggota tim doang, kalo ke koordinatornya jarang. 

Ternyata, hal itu dianggap gue jadi ga koordinasi kerjaan sama dia. Jadilah gue dianggap ga kerja, karena ga ada komunikasi. Padahal, gue mah kerja-kerja aja, ke sana kemari nengokin perangkat desa yang gue pegang progressnya. Mungkin karena kurang passionate sama kerjaannya, jadi terbawa juga vibes-nya ke anggota kerjaan yang lain.

Pada akhirnya gue emang ga diperpanjang. Seandainya diminta perpanjang pun gue gamau. Karena kurang suka budaya kerjanya yang ga ngantor tiap hari. Mungkin kalo koordinatornya ganti, atau budaya kerjanya ganti, masih akan gue pertimbangkan.

4. Bare minimum profesional

Pelajaran selanjutnya yang gue dapat adalah di pekerjaan yang sekarang. Menurut gue, kerjaan yang sekarang ini salah satu yang paling berkualitas dari semua yang pernah gue jalani. Dari sisi manajerial, profesionalisme dan juga koordinasi, perusahaan ini tergolong well manage.

Mungkin inilah kondisi dimana setiap posisi krusial diisi oleh orang-orang yang profesional dibidangnya. Semua terkoordinir dengan baik, segala kemungkinan masalah dimitigasi lebih dulu. Jikapun ada masalah, diselesaikan dengan cara yang halus lebih dulu sebelum menggunakan cara yang "kasar". Cara kasar pun hanya dijalankan jika dalam keadaan terpaksa dan mendesak sekali.

Pelajaran yang gue dapatkan di pekerjaan ini adalah profesionalisme itu bare minimum.

Karena terbiasa bekerja dengan standar profesional yang biasa-biasa aja, gue cukup kaget ternyata profesionalisme itu bisa sedisiplin ini diterapkannya. Profesionalisme yang gue maksud misalnya seperti penerapan SOP perusahaan yang cukup ketat. Jalur koordinasi yang jelas dan filter informasi yang ketat.

Gue cukup yakin masih ada perusahaan yang punya standar profesionalisme lebih tinggi dari kerjaan gue sekarang. Tapi tau segini aja gue udah bersyukur banget, jadi ilmu yang akan gue bawa kemanapun. Bahkan, gue akan menerapkannya di luar dunia kerja juga. Karena disiplin dan profesionalisme itu 2 hal yang sangat jarang dimiliki oleh seseorang.

Dari pekerjaan inI gue juga belajar untuk memahami bahwa setiap perusahaan punya kebijakan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah kebijakan 6 hari kerja. Seperti yang pernah gue tulis, kalo gue sebenarnya lebih mendukung kebijakan 5 hari kerja

Hikmahnya adalah gue belajar mensyukuri hari libur yang sedikit ini. Katanya kalo kita bersyukur, ntar nikmatnya ditambahin. Nanti kalo banyak-banyak bersyukur makin bertambah hari liburnya, kan?

Aamiin...

***

Gue pengennya tulisan ini bisa bermanfaat buat lu. Entah lu lagi nyari kerjaan, atau udah punya kerjaan. Can make your job step up to the next level of your carier. Kalo memang misalnya lu udah tau hal ini, coba bagikan tulisan ini ke junior-junior lu yang lain. Misalnya lu punya cerita/pengalaman terkait karir/pekerjaan yang pernah lu jalankan, tuliskan di kolom komentar, ya!

Pelajaran dari tahun 2025

Alhamdulilah kita baru aja ngelewatin tahun 2025. Ga bisa bilang "cepet banget, ya, udah ganti tahun", karena menurut gue tahun ini masih sama seperti tahun sebelumnya. Berjalannya yang sedang-sedang saja. Ga terasa cepat, ga terasa lambat juga. Selayaknya sehari-hari yang dijalani aja.

Tapi waktu memang akan terasa begitu cepat kalo kita ga mengisinya dengan hal-hal yang berguna. Bisa jadi, ketika lu ngerasa waktu berjalan begitu cepat karena lu sendiri membuang waktu dengan sia-sia. Contoh hal yang sia-sia: ga pernah baca blog gue seumur hidup lu, hahahha! Becanda, yaa!

Anyway, perjalanan 2025 ditutup dengan biasa-biasa aja. Tidak ada yang terlalu spesial tapi bukan berarti hambar banget. Sedikit banyak, ada beberapa hal yang bisa jadi bahan evaluasi dan belajar buat tahun 2026. Gue harap lu juga bisa nemu hal yang sama ketika baca tulisan ini.

1. Lebih menikmati setiap momen

Kalo dulu gue ga terlalu memerhatikan hal ini. Nongkrong ya nongkrong aja, jalan-jalan ya jalan-jalan aja. Momen-momen itu berlalu begitu aja tanpa bisa gue resapi lebih dalam. Setiap kegiatan hanya dirasakan pada saat itu saja, tapi ga ada kenang-kenangannya. Karena memang jarang mengabadikan momen (baik foto/video), ga terbiasa megang hp kalo lagi nongkrong/ngumpul-ngumpul.

2025 gue mulai menyadari, setiap momen berharga dan ga mungkin kejadian 2 kali meskipun dengan orang yang sama. Barulah mulai sedikit-sedikit mencoba membiasakan diri untuk mengabadikan setiap momen yang gue jalani. Entah itu sama temen pas lagi nongkrong ataupun pas lagi sama orang tua jalan-jalan bareng. Pokoknya sebisa mungkin ga ada momen yang terlewat untuk diabadikan dan dinikmati.

Memang agak susah buat gue yang ga terbiasa melakukan selfie ataupun vlogging. Tapi harus gue paksa, karena kalo ga dilakuin gue udah ga bisa lagi mengabadikan momen itu di lain waktu nantinya. 

Prinsip yang menggerakkan gue untuk terus mengabadikan dan menikmati setiap momen yang terjadi: waktu tidak bisa diulang kembali.

2. Lebih menghargai diri sendiri

Satu hal yang paling gue rasakan berbeda dari tahun 2025 adalah tentang mengenali diri ini. Semakin ke sini semakin peduli dan semakin memahami badan dan diri sendiri. Apa yang gue rasakan, apa yang membuat gue merasakan sesuatu, lebih diresapi dari tahun sebelumnya.

Gue mencoba menerapkan batasan sedikit lebih tinggi terhadap diri gue ke orang lain. Sedikit demi sedikit mengubah sikap ga enakan sama orang. Mulai berani mengucapkan kata "tidak" demi menjaga kewarasan. Karena orang lain pun juga bisa menolak sesuatu dari gue tanpa ngerasa ga enak.

Dengan lebih mengenal dan menghargai diri sendiri, gue ngerasa jadi lebih secure sebagai manusia. Ga lagi gampang baperan, jarang tersinggung pada hal-hal yang ga penting. Energi gue jadi lebih mudah disalurkan kepada hal-hal yang lebih produktif.

Emosi juga jadi lebih stabil, sebisa mungkin menghindari drama dan perdebatan ga penting. Karena lebih kenal sama diri sendiri, gue sekarang ngeh kalo debat ga penting dan marah-marah ga jelas itu sangat menguras energi. Dengan energi yang semakin terbatas dan kerjaan yang juga banyak, lebih baik digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan daripada debat ga jelas.

3. Selektif menyalurkan energi

Gue menyadari kalo energi yang dimiliki tiap orang tu beda-beda. Mungkin tergantung umurnya juga kali, ya? Semakin gede angka umurnya, energinya juga makin sedikit. Makin tua makin selektif untuk make energinya.

Apalagi untuk orang yang (menurut keyakinan gue) introvert, energinya bisa dibilang minimalis. Ada orang yang ketemu sama orang banyak energinya jadi makin gede. Ada juga orang yang semakin banyak ketemu sama orang, energinya makin tersedot. Gue termasuk ke orang yang kedua. 

Jadi karena energi udah habis duluan di tempat kerja, jadinya males ngelakuin hal-hal lain yang ga terlalu produktif. Udah mah orangnya juga males nongkrong kalo cuman sendirian, ditambah lagi kerja di kantor udah terkuras energinya. Makin males keluar lagi kalo udah nyampe di rumah. Kecuali memang penting banget, baru deh mau keluar.

2026 harus lebih selektif lagi menyalurkan energi kepada hal yang lebih produktif dan menghasilkan cuan. Karena tidak ada wanita yang mau dengan lelaki miskin.

4. Tidak mendewakan uang, tapi tetap menghargainya

2025 merupakan tahun yang membuat kesadaran gue terhadap uang jadi lebih stabil. Sebelumnya gue menganggap uang itu segalanya. Akhirnya bikin gue jadi lebih pelit sama diri sendiri. Malah bikin gue tersiksa karena ga bisa menikmati hidup.

Lama-lama gue menyadari uang memang bukan segalanya, tapi bukan berarti bikin diri ini jadi tersiksa. Sekarang udah ga terlalu mikirin lagi kalo misalnya mau ngeluarin duit. Mau jajan, mau makan atau nongkrong ya tinggal dilakuin aja. Ga usah mikirin gimana duitnya nanti.

Gue percaya setiap uang, tenaga dan pikiran yang gue keluarkan akan berdampak baik ke diri sendiri. Terlebih soal uang, sekarang gue ga takut jadi miskin ketika dipake jajan. Karena gue mengeluarkan uang itu dengan bahagia dan penuh rasa syukur.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Uang memang bukan segalanya, tapi hidup kita jadi lebih bahagia ketika bisa belanja sesuatu yang kita mau tanpa takut miskin.

5. Ilmu adalah investasi terbaik

Salah satu investasi terbaik yang pernah gue cobain adalah ilmu pengetahuan. Pengalaman gue yang belajar jualan online waktu 2019, membuat gue sadar ilmu itu investasi terbaik. Ilmunya gue pelajarin tahun 2019, baru bener-bener berdampak sama penghasilan gue dari tahun 2022.

Sejak saat itu, gue mulai meinvestasikan sebagian pendapatan untuk belajar sesuatu. Tahun 2022 gue ikut sertifikasi profesional untuk ngelamar kerja di posisi tertentu. Sertifikat ini sempat membawa gue ketemu pekerjaan yang gue mau, tapi pada akhirnya gue mundur.

Sebelum masuk ke pekerjaan yang sekarang, gue disarankan untuk ikut sertifikasi yang lain. Gue ikutan lagi sertifikasi itu untuk jadi dasar pengetahuan di pekerjaan yang sekarang. Terbaru, gue ikutan belajar Meta Ads akhir tahun 2025 ini, tentu saja untuk membuka peluang dapatin penghasilan tambahan.

Sepengalaman gue, yang namanya "investasi" ga bisa kita rasain secara instan. Jadi harus banyak mencoba dan sabar. Bisa jadi ilmunya kita pelajari hari ini, ketemu hasilnya 2-3 tahun ke depan.

***

Tahun 2026 harus lebih banyak pengalaman yang bisa dibagikan. Tahun 2026 harus lebih banyak pelajaran yang bisa dibagikan kepada lebih banyak orang. Semoga lu yang baca tulisan ini bisa begitu juga, ya!

Bagikan harapan lu di tahun 2026 di kolom komentar, ya!

Seedbacklink