Ini Yang Gue Pelajari di Proyek Maaruh Wiki Selawi Tahun

Ketika ngerayain ulang tahun, apa yang paling lu harapkan selain hadiah? Tentu kehadiran orang-orang yang lu undang ke acaranya, kan?

Bahkan kalo gue pribadi, ada yang mau datang aja udah bersyukur banget. Karena mereka mau menyempatkan waktunya untuk ke acara kita. Orang-orang yang seperti ini, yang bisa menghargai waktu, yang perlu dilestarikan dan dibudidayakan.

Kalo pun dia datang ga bawa hadiah, itu ga masalah. Karena waktu yang dia gunakan untuk datang ke acara kita, itu jauh lebih berharga daripada hadiah yang paling mahal. Karena waktu tidak bisa dikembalikan lagi jika sudah digunakan.

Ketika mengajukan program kegiatan untuk merayakan 25 Tahun Wikipedia Bahasa Inggris, gue mikir gimana caranya biar bisa banyak acara yang digelar. Supaya orang lebih tertarik dan mengenal yang namanya wikipedia itu apa. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan "apa itu wikipedia?" bisa terjawab dengan adanya kegiatan ini.

Kegiatan "Maaruh Wiki Salawi Tahun" ini merupakan sebuah pencapaian karena sebelumnya peringatan ulang tahun proyek wiki dari luar negeri belum pernah dilakukan. Kegiatan ini akan memperkaya kegiatan komunitas Wiki Banjar sebelumnya yang sudah memiliki jadwal rutin masing-masing.

Karena ini pertama kalinya gue memimpin proyek yang behubungan sama Wikipedia, tentu pengalaman berharga yang sangat berarti. Ada banyak pelajaran yang bisa gue petik dari menjalankan kegiatan ini. Gue coba tuliskan beberapa di antaranya:

1. Area Kegiatan yang Kurang Luas

Sebenarnya masih terasa kurang puas karena ga bisa menjelajah lebih jauh untuk mengadakan kegiatan ini. Pengennya tu ada 1 kegiatan yang diadain di luar Kalsel, tapi ga memungkinkan karena harus menyesuaikan jadwal anggota yang lain juga. Akhirnya dicari alternatif lain di daerah luar Banjarmasin saja.

Niatnya mau sekalian ke Palangka Raya, karena di sana juga ada komunitas rintisan. Biar temen-temen di sana juga bisa ikut merayakan kegiatan ini sama-sama. Sekaligus juga berkenalan dengan teman-teman komunitas literasi biar jejaring komunitas juga makin luas.

Salahnya gue, terlalu mengandalkan orang lain untuk bisa menjalankan kegiatan ini. Akhirnya, gue nungguin panitia lainnya yang bisa ikutan berangkat ke sana. Dari yang seharusnya bisa ada kegiatan luar Kalsel, malah ga bisa karena jadwalnya pada ga cocok semua.

Gue tu sebenarnya ga pengen ada yang ditinggal-tinggal kalo ada acara-acara begini. Karena buat gue jalan-jalan itu menyenangkan dan gue pengen berbagi hal itu juga ke orang-orang terdekat. Biar mereka juga ngerasain bahagianya. Rasanya seneng aja bisa berbagi kebahagiaan yang sama dengan orang lain gitu.

2. Promosi Acara yang Kurang Maksimal

Dari kegiatan ini gue juga belajar, ternyata komunikasi itu penting. Sebisa mungkin untuk selalu berkoordinasi dengan tim agar kegiatan tetap berjalan sesuai dengan rencana. Namun, berjalan sesuai dengan rencana aja belum cukup. Jika hasilnya tidak maksimal, harus ada yang dievaluasi.

Dari 4 kegiatan, ada 1 kegiatan yang berjalan tidak maksimal. Karena promosi kegiatannya terlalu mepet sehingga membuat calon pesertanya sedikit. Sebenarnya gue sudah menginfokan hal ini dari jauh hari. Kalo kita butuh promosi yang kenceng agar pesertanya bisa maksimal. Karena lokasinya yang sedikit berbeda. Ternyata, yang bikin desain posternya lagi ada kesibukan lain, sehingga poster selesai H-3 sebelum pelaksanaan kegiatan.

Menurut gue, idealnya promosi kegiatan itu H-14 hari acara sudah diumumkan. Maksimal banget H-7 tanggal acaranya. Kalo sudah mepet H-3 itu sangat besar kemungkinan acaranya sepi pesertanya. Ditambah lagi dengan lokasi acara yang kurang mainstream daripada biasanya. 

Desain promosi yang cepat dan penentuan lokasi yang cocok dengan target peserta akan menentukan seberapa banyak peserta yang bisa hadir di acaranya.

3. Belajar mengatur orang

Lewat proyek ini, gue juga jadi belajar gimana caranya mengatur tim. Mengatur manusia dengan berbagai macam karakternya itu tentu tidak mudah. Harus banyak kompromi dan juga empati untuk bisa mengerti satu sama lainnya. Gue berusaha untuk mencarikan jalan tengah untuk bisa dikerjakan bersama.

Belum lagi jadwal masing-masing orang yang tidak selalu sama. Gue ga bisa memaksakan dengan jadwal yang gue mau, tapi ga mungkin jalan kalo yang lain juga ga sepakat. Karena ini proyek bersama, jadinya harus bisa menurunkan ego demi menjaga tim tetap solid. 

4. Menurunkan Ego

Buat gue yang anak tunggal dan terbiasa ga ada saingan, menurunkan ego tu lumayan berat. Namun, di proyek ini, tidak mungkin gue memaksakan ego sendiri. Karena ada orang lain yang ikut terlibat di dalamnya. Sebenarnya memungkinkan saja kalo gue mau, tapi gue memilih untuk belajar mengendalikannya.

Ga cuman mengendalikan ego untuk bisa menahan diri ga bertindak di luar batas. Namun juga mengendalikan ego untuk bisa mengakomodir kehendak tim yang lain sementara keinginan sendiri tidak terpenuhi. Menurut gue, keduanya sama-sama berat untuk dilakukan.

***

Melalui tulisan ini gue juga mau ucapkan banyak sekali terima kasih kepada semua pihak yang terlibat mensukseskan acara ini. Baik yang terlibat langsung sebagai panitia acara, sukarelawan, peserta ataupun juga yang mendukung dari belakang layar. Kegiatan ini bisa berjalan dengan lancar salah satunya adalah dukungan dari kamu semuanya.

Gue percaya sesuatu terjadi karena ada hikmahnya. Jadi ketika menerima tugas ini, gue udah tau bakalan banyak sekali dapat pengalaman berharga. Gue catat sebagian di blog ini biar jadi pengingat diri sendiri.

Jika dipercaya untuk memegang proyek yang lainnya, gue akan mencoba jadi lebih baik lagi. Baik secara kepemimpinan ataupun juga secara kualitas kegiatannya. 

Presiden Multiverse

Apa yang terjadi pada sebuah negara kalo punya pemimpin yang hidupnya di semesta yang berbeda?

Udah pasti ga pernah cocok. Apapun. Mulai dari datanya, informasinya, kebijakannya bahkan pemikirannya.

Kalo dari data dan informasinya aja udah salah, gimana bisa ngasih pemikiran dan kebijakan yang tepat buat negaranya?

Kita berandai-andai terdapat 2 semesta di alam raya ini, yaitu S-45 dan S-01. Kependekan dari Semesta 170845 dan Semesta 817101. Si Presiden dipilihnya sama rakyat S-45, tapi dia ngerasanya hidup di S-01. Dianggapnya, rakyatnya juga ada di sana, atau dia ngerasanya ga perlu rakyat lagi karna udah menang pilpres?

Akibatnya apa?

Datanya ga ada yang bener, infonya kebanyakan dusta semuanya. Rakyatnya dimana, datanya pake punya siapa? Ancur total pengambilan keputusan dan kebijakannya. Presidennya seolah-olah ngasih kebijakan memihak sama rakyat, tapi rakyat sama sekali ga ngerasain dampaknya.

Presidennya hidup di multi-semesta, dan sepertinya didukung sama pembantu-pembantunya. Dia ngeliatnya dari "menara gading", berdasarkan info-info pembantunya. Ketika turun ke lapangan, ngerasa ada yang beda, baru deh ketauan kalo pembantunya ngasih info bohong.

Gue rasa sih pembantunya ngasih info bohong karena males tu presiden jadi tantrum aja. Kalo menurut keyakinan gue, itu orang emang ga bisa nerima kritik dari siapapun. Ngerasa keputusannya udah paling valid dan sesuai sama kondisi rakyatnya. Entah pake data apaan atau jangan-jangan berdasarkan wangsit doang.

Karena pembantunya takut ini presiden tantrum, jadinya infonya ga pernah akurat. Presidennya ngerasa baik-baik aja, dan akhirnya yang bingung rakyatnya. Kok bisa sih dia bilang gitu? Sementara kenyataan di lapangan berbanding terbalik selama ini.

Itulah yang gue bilang dia ini "presiden multiverse". Karna dia cuman hidup di dunianya sendiri tanpa tau dunia yang harusnya dia pimpin seperti apa.

Bukti lain kalo dia ini hidup di semesta lain adalah: dia lebih mementingkan gaji APH (Aparat Penegak Hukum) daripada gaji tenaga pendidikan alias guru dan dosen. Dia lebih mementingkan kesejahteran orang-orang aja daripada tenaga pendidikan yang lebih perlu prioritas.

Dia pernah sih naikin gaji guru sampe nangis-nangis. Tapi SEKALI DOANG! Habis itu ngerasa tugasnya udah selesai dan makin menggila naikin gaji APH terus-terusan. Giliran ngomong mau gaji guru, ternyata cuman "keseleo lidah" doang. Alasan lainnya bilang kalo ga bisa naikin gaji guru karna ga ada duitnya. Ga lama habis ngeluarin pernyataan itu, dia malah naikin gaji APH lagi. Udah gila.

Selain itu, dia juga pernah bilang kalo rakyat sekarang bahagia saat dia pimpin, kepuasannya tinggi sampai 80%. Padahal survei lain bilang kalo lebih banyak ga puasnya daripada puasnya sama ini presiden. Gue rasa, yang survei 80% puas itu bot semua deh yang ngisi, surveinya dikerjain di S-01 tapi dikasih liat ke S-45.

Dia juga pernah bilang kalo banyak petani yang bisa keluar negeri berkat kepemimpinannya. Dia ga tau kali ya kalo orang bisa keluar negeri itu mesti nabung bertahun-tahun dulu? Ga kayak dia, yang udah kayak sejak keturunan kakeknya. Mau keluar negeri hari ini gampang tanpa nunggu nabung dulu.

Punya presiden kaya dari lahir ternyata bikin dia ga bisa "nyentuh tanah". Ga ngerti permasalahan orang miskin karena ga pernah ngalamin hidup susah. Begitu ngeliat orang bisa keluar negeri, dia kira itu orang sudah kaya sekaya dia. Padahal, kenyataannya, orang itu harus nabung bertahun-tahun untuk bisa keluar negeri mungkin cuman sekali seumur hidup itu!

Kalo baca data aja masih kagak becus, ya jelas hancurlah kebijakannya. Bisa baca data itu penting, tapi melihat kondisi riil di lapangan di balik data itu jauh lebih krusial. Jangan asal baca data bagus doang, terus dijadiin pencapaian padahal itu data mentah tanpa ada analisa di belakangnya.

Dia juga pernah bilang kalo ojol (ojek online) pendapatannya jadi naik pas dia jadi presiden. Padahal, aslinya ojol-ojol lagi sepi orderan karena orang nahan diri buat jajan. Kalo pun mau jajan, orang-orang lebih milih untuk jajan sendiri karena lebih murah. Gue termasuk salah satu yang mengurangi jajan di ojol sekarang.

Jadi, meskipun potongan komisinya atau penetapan batas pembayarannya udah diatur sama pemerenta. Kemudian ada aturan/skema THR ke supir ojol, dan lainnya. Ga ngaruh juga karna faktor terpentingnya justru dari orderan juga ujungnya.

Ada lagi kebijakan koperasi di desa. Dia ngeliatnya di desa itu belum ada koperasinya. Makanya diadain proyek KDMP, yang menurut keyakinan gue, ini proyek "diada-adain" doang. Padahal, di desa itu kan udah ada koperasinya kan, ya? Tinggal berdayain itu aja ga sih? Kenapa harus bikin proyek baru lagi coba?

Karena presidennya hidup di S-01, di semesta itu setiap desa masih ga punya koperasi. Jadi, menurutnya, harus ada proyek pembangunan koperasi setiap desa. Keren, kan?

Proyek andalannya, Mingkem Bagong Gendut itu juga sama anehnya. Okelah mau ngasih makan anak-anak sekolah secara gratis. Okelah mau pake APBN alias duit rakyat buat ngasih makannya. Tapi, kalo lu udah tau ada pengusaha-pengusaha sayur, peternak ayam dan telur di dekat lokasi-lokasi dapurnya, berdayakanlah mereka itu!

Bukannya memberdayakan yang sudah ada, dia malah mau bikin peternakan baru. Biar ada proyeknya, jadi bisa dibagi-bagi ke kroni-kroninya juga, kan. Lebih cuan kayak gitu,  daripada memberdayakan pengusaha yang bukan dari inner circle-nya sendiri. Relasi tetap terjaga, wibawa makin dapet dan orang makin hormat sama dia.

Jadi wajar banget ketika dia ngasih kebijakan atau program yang menurut kita ga tepat sasaran. Karena sasarannya bukan kita, tapi temen-temennya. Rakyat S-45 yang ga punya previlage apa-apa, cuman dikasih recehan doang sama dia. Orang-orang terdekatnya malah makin kaya, dari duit negara alias pajak rakyat.

Jadi, sebenarnya dia itu presiden di semesta yang mana, sih? Kok gue ragu ya dia ini berada di semesta yang tepat. Menurut lu gimana?

Liburan Itu Menyenangkan Atau Yang Lain?

Entah kenapa, beberapa hari ini kepikiran pengen liburan gitu. Padahal baru aja bulan Juni kemaren gue pulang dari Jakarta bareng sama orang tua. Jadwal rutin karna mereka kepengen ngeliat acara tahunan Jakarta: Pekan Raya Jakarta. Acara tahunan Jakarta yang sebenarnya, menurut gue, kayak gitu-gitu aja isinya.

Liburan tahun ini memang agak berbeda dari taun kemaren. Karena taun ini lebih elit sedikit: kemana-mana naik mobil daring. Ini demi menghemat stamina dan tenaga dari bayi vintage yang malas jalan kaki. Gapapalah kita kasih mahal dikit tapi dia ga rewel di jalan, ya kan?

Setelah pulang dari liburan itu, gue makin menyadari 1 hal: gue suka jalan-jalan dan menikmati suasana barunya.

Gue mau merasakan hal itu lebih sering, tapi ga mau banyak-banyak keluar duitnya hahahhaa!

Caranya ada 2 sebenarnya: pertama jadi influencer atau apapun yang bisa menghubungkan lu untuk bisa jalan-jalan "gratis". Kedua, cari penghasilan tambahan yang lebih gede dari gaji kerjaan rutin untuk bisa ngebiayain jalan-jalan tiap tahun/kapan pun lu mau.

Kalo lu punya opsi 3, kabarin di kolom komentar, ya!😂

Bedah perasaan

Gue mencoba membedah perasaan yang timbul ketika perjalanan pulang dari Jakarta kemaren. Ada perasaan senang, bahagia, lega dan bangga di dalamnya. Kita coba bahas satu per satu, ya.

Senang karena ternyata gue suka ngelakuinnya. Gue suka huru-hara pas berangkat dan pulangnya. Gue suasana baru ketika jalan-jalannya. Gue suka merasakan vibes tempat barunya. Gue suka ngelakuin kegiatan di luar rutinitas harian selama ini. Gue suka perasaan menjelajah tempat-tempat yang belum pernah gue datangi sebelumnya. Itu perasaan yang ga gue dapetin ketika "hidup" gue ada di antara kantor dan rumah doang.

Bahagia karena bisa bawa kedua orang tua jalan-jalan lagi. Bisa punya waktu buat mereka meskipun ga banyak. Bisa membuat core memory baru yang selama ini belum banyak gue simpan. Terutama ibu gue, yang kepengen banget ngeliat PRJ tiap tahun. Happy kalo bisa ngeliat dia juga happy.

Lega karna ternyata gue masih bisa ngewujudin apa yang orang tua pengenin. Meskipun belum bisa semuanya, setidaknya pelan-pelan gue cobain satu-satu. Lega karna orang tua gue masih bisa ngerasain uang hasil kerja gue selama ini, meskipun belum bisa ngasih mereka full service.

Bangga karna dengan keringat sendiri, bisa bawa orang tua jalan-jalan. Bangga banget sama diri sendiri karna sekarang bisa mimpin orang tua buat travelling, karna sebelumnya gue mulu yang dituntun harus kemana-kemananya. Meskipun ada gesekan-gesekan waktu di perjalanan, buat gue itu biasa karna ada perbedaan pendapat aja.

Jujur, ga ada yang lebih membahagiakan selain ngeliat orang tua kita bahagia. Setidaknya itu yang gue rasakan waktu liburan bareng mereka. Saking bahagianya, gue jadi males kalo harus liburan tu sendiri doang. Karna ga pengen merasakan bahagianya liburan itu cuman sendiri aja, pengennya dibagi biar sama-sama ngerasain gitu.

Pengennya liburan bersama, tapi ga pengen ngerasain repotnya liburan sama-sama wahahahak! Paradoks sekali, ya!

Awal mula menyadari suka travelling

Meskipun udah sering bepergian, tapi baru pada saat travelling yang kemaren baru menydari kalo ternyata travelling itu menyenang buat gue secara lahir batin. Gue juga bingung kenapa baru menyadarinya sekarang ini. Padahal udah jalan kemana-mana dan selalu dibuat menyenangkan kegiatannya.

Lebih dalam lagi, gue mencoba membedah: apa sih yang bikin gue bisa sebahagia itu kalo jalan-jalan? Setidaknya ini jawaban yang gue dapatkan:

Pertama, karna gue bisa "keluar" dari rutinitas sehari-hari gue: kerja. Sebenarnya kerjanya tu enak, ga terlalu bikin burn out dan stress. Mungkin karna udah mulai terbiasa untuk ngatur stress levelnya juga kali ya? Tapi, selalu menyenangkan bisa memutus rutinitas sejenak dengan pergi liburan.

Kedua, gue bisa nemu suasana baru. Lagi-lagi karna pekerjaan, jadinya hidup gue cuman rumah-kantor. Sesekali nongkrong sama temen-temen kalo ada waktunya. Ketika bisa liburan, gue jadi punya banyak waktu untuk menikmati suasana baru, ga cuman dinding kantor dan plafon kamar doang yang diliatin.

Ketiga, ngerasain pengalaman yang baru. Karena suasananya juga baru, jadi gue juga punya pengalaman yang baru ketika jalan-jalan. Ngeliat orang-orang baru, lingkungan yang baru juga, dan menjelajahi hal-hal baru yang belum pernah dilakuin sebelumnya.

Salah satu hal baru yang gue lakuin waktu jalan-jalan kemaren adalah: mall hopping. Selama ini gue belum pernah ngedatangin mall-mall yang ada di Jakarta. Gue dulunya suka ngedatangin tempat-tempat bersejarah, kayak Kota Tua, museum-museum dan taman-taman di Jakarta.

Waktu kemaren, gue mencari pengalaman baru dengan menjelajahi beberapa mall di Jakarta. Kegiatan yang sebelumnya belum pernah gue lakuin, bahkan bisa dibilang "anti" untuk gue lakukan. Karna sebenarnya gue ga pengen belanja ketika lagi jalan-jalan. Gue pengennya nambahin core memory ke kota yang lagi dikunjungin.

Tapi karena mulai menggandrungi hobi baru, mengoleksi kartu pokemon dan kartu bola, jadinya berburu pack kartu koleksi pokemon sama sepak bola, deh! Karna gue males ke local game shop Jakarta, jadinya gue ke mall aja sekalian jalan-jalan.

Mencari peluang

Karena semakin sadar kalo kegiatan travelling ini menyenangkan lahir dan batin, jadinya sekarang justru kepengen makin sering jalan-jalan. Gapapa kalo harus keluar duit, tapi akan lebih bersyukur lagi kalo sampe ada yang sponsorin kegiatannya mweheheh..!!

Sekarang di kepala gue mikirin kalo entar ada kesempatan libur "mau kemana dan ngapain lagi?"

Meskipun kepikiran liburan mulu, tapi ga ganggu banget, sih. Cuman yang kepikiran itu nyari kesempatannya dan peluang untuk mencari sponsor yang belum ketemu. Apalagi zaman sekarang serba mahal, tiket dan hotel mahal. 

Sponsor ataupun brand pasti milih-milih buat ngeluarin budget iklan mereka. Ga mungkin asal tembak orang kalo merkea ga bisa ngeliat ada peluang untuk cuan. Mereka yang punya jumlah followers gede bakalan punya peluang lebih besar untuk bisa nemu brand yang mau sponsorin.

Meskipun begitu, ada yang bilang kalo sekarang tu zamannya "micro influencer" alias orang-orang dengan followers yang lebih kecil yang punya kesempatan lebih banyak. Alasannya, karna mereka baru aja "tumbuh" dengan jangkauan penonton spesifik. Sehingga dianggap lebih bisa menjangkau market yang spesifik dengan biaya yang lebih terjangkau.

Mau kesempatan manapun yang didapatkan, gue bakalan coba ambil dulu aja. Karena kesempatan terbaik, tidak akan datang 2 kali. Jadi, begitu udah ketemu, ambil dulu aja. Perkara kesempatannya mau dibawa kemana, itu urusan nanti.

Gue percaya, ngelakuin sesuatu yang bikin kita bahagia, mau itu jalan-jalan atau sekadar hobi mengoleksi kartu, akan menciptakan peluangnya sendiri. Gue bahagia jalan-jalan, gue suka dan menikmati sekali perjalanannya. Gue kepengen menciptakan core memory baru terhadap perjalanan ke kota lain juga. Mendapatkan suasana yang lebih segar daripada sekadar dinding kantor dan plafon kamar.

Buat gue, liburan itu menyenangkan. Travelling itu membahagiakan lahir dan bathin. Gue seolah menemukan jiwa yang baru dalam setiap perjalanan yang dilakukan. Gue jadi lebih mengenal siapa diri ini dan apa yang disukainya. Liburan membuat gue "berjalan" lebih dalam ke diri sendiri.

Setiap perjalanan, selalu gue jadikan pelajaran.

Setiap pelajaran, akan diterapkan di perjalanan berikutnya agar jadi lebih baik dan berkualitas.

Tapi, perjalanan juga ga melulu soal teknis dan kualitas. Ada kalanya jalan-jalan hanya sekadar jalan-jalan, tanpa memikirkan hal lain. Perjalanan sejatinya adalah memaknai perjalanan itu sendiri seperti yang kita mau.

Jadi Warga Negara Indonesia Harus Pintar

Jujur, semakin ke sini ngeliat pemerenta sekarang tu makin aneh. Karena kayak ga ada takut-takutnya ngomong dan berkelakuan sembarangan. Ngomong ngelantur, ngata-ngatain orang, ngelabelin orang "Londo Ireng", bilang "brengsek" di forum resmi. Gue sampe amaze banget sama kelakuannya.

Gue jadi mikir, kok bisa sih ada orang yang berkelakuan begitu?

Asumsi gue, setidaknya ada faktor yang bikin dia berani kayak gitu:

Pertama, karena baru pertama kali ngerasain jadi pemimpin yang punya kuasa tertinggi. Entah kagok atau kampungan karna pertama kali ngerasain, jadinya merasa bisa berkelakuan apa saja. Dia kira, jadi presiden itu bebas terhadap aturan hukum ataupun sanksi lainnya juga.

Kedua, dia tau jadi presiden bakalan punya semua sumber daya yang dia perlukan. Dia ngerti cara manfaatinnya buat kepentingannya sendiri. Dia tau gimana caranya untuk bisa menguntungkan dirinya, makanya mulut dan kelakuannya jadi sembarangan. Kalo yang kedua ini benar, sungguh menakutkan buat rakyatnya. Karena dia bisa aja ngakalin rakyat dan bikin rakyat keliatan bego karna akal-akalannya.

Gue justru lebih yakin yang pertama, sih. 

Dia ini baru ngerasain yang namanya "kemenangan". Jadinya kagok, kampungan dan sangat-sangat kaget sama tumpukan previlage yang dia dapatkan. Padahal kalo dipikir-pikir, dia tu keturunan pejabat dari zaman nenek moyangnya waktu masih Hindia-Belanda. Mungkin beda kali ya rasanya dapet previlage waktu masih jadi "anaknya si anu" dan dengan dia sendiri yang dapetin hal itu.

Makin ke sini, kelakuannya jadi makin sembarangan. Ngatain siapapun yang dia mau, terlebih yang menurutnya ga dukung kebijakannya. Gue rasa, inilah jati dirinya dia sebenarnya selama ini. Yang dia joget-joget itu bukan dirinya sendiri, cuman biar menang pilpres aja.

Inilah yang menurut gue kalo jadi rakyat harus pintar. Ga cuman secara akademik, tapi juga ngeliat perilaku pejabat-pejabat yang akan dipilih. Jangan gampang terpengaruh sama pejabat-pejabat yang banyak gimmick. Jangan gampang terpengaruh sama yang kampanye ga sesuai sama substansi pekerjaan yang akan mereka jabat.

Belajar untuk memilih berdasarkan kapabilitas, keahlian teknis dan juga merit personalnya. Lu ga perlu punya kemampuan akademis tingkat tinggi untuk tau mana pejabat yang cuman mengandalkan gimmick, mana yang punya kemampuan teknis. Cukup liat dari cara dia bekerja terkait hal-hal yang berhubungan dengan teknis.

Kalo lu ga bisa liat kemampuan teknis si calon, bisa lu liat dari cara dia menjawab pertanyaan-pertanyaan sulit/teknis ketika debat. Dari sana lu bisa tau, minimala banget, cara berfikir orang itu seperti apa. Kalo cara ngomong/jawabnya bagus, logikanya masuk dan ga muter-muter jawabannya, bisa jadi cara berpikirnya logis.

Lu juga mesti tau, mana calon yang menjawabnya secara logis/konkrit, mana yang cuma jualan "mimpi" doang. Gampangnya, kalo lu ngeliat jawabannya itu too good to be true, ga realistis, kayak banyak berkhayalnya, nah itu tanda kalo si pemimpin ini ga punya program yang konkrit sebenarnya.

Lu juga harus ingat, siapa aja yang lu pilih. Mau itu anggota DPRD, DPR RI, Gubernur, Walikota, atau pun presiden. Kalo dia terpilih, lu pantau dah tuh kinerjanya dia kayak gimana. Kalo dia kerjanya bagus, kasih apresiasi. Tapi kalo dia kerjanya ga bagus, lu kritik juga, harus fair dong.

Apakah cuman harus memantau yang kita pilih aja? Ga juga.

Kalo yang kita pilih ga menang, yang menang tetap harus kita pantau juga kinerjanya. Kita ga milih dia bukan berarti ga ada pengaruhnya buat kita dong. Kebijakannya dia pasti ngaruh ke kehidupan kita juga. Jadi, jangan dikira kita ga milih dia tapi hidup kita ga kena pengaruhnya.

Lu juga harus fair sama yang ga lu pilih. Belajar adil sejak dari dalam pikiran. Ketika yang ga lu pilih punya kebijakan yang bagus dan memihak sama rakyat, harus diapersiasi juga. Kalo dia kebijakannya ngaco, ngomongnya macam sampah, harus lu kritisi juga. Jangan lu iyain doang kalo dia ngomongnya ngatain rakyat.

Kita sebagai rakyat tu harus tetap berisik sama pemerenta yang kerjanya sembarangan, ngomongnya sembarangan seolah-olah rakyatnya bodoh semua. Kalo dia kerjanya sembarangan, bersuara kasih kritik buat mereka. Biar mereka tau, kalo mereka lagi dipantau. 

Upgrade diri lu, biar ga gampang dibodoh-bodohin. Kalo pemerenta ga punya orang-orang terbaik untuk ngejalanin kebijakan yang memihak sama rakyat kecil, setidaknya lu punya kemampuan untuk bertahan hidup dari orang-orang seperti ini. Pemerenta ngambil kebijakan bodoh, itu bencana. Tapi kalo lu ikut-ikutan bodoh, namanya kiamat. Ga ada yang bisa bikin negara ini jadi stabil.

Perkaya diri lu sama pengetahuan dasar. Kepala daerah itu kerjanya ngambil keputusan, ngasih kebijakan. Mereka ngomongnya isu-isu strategis, bukan ngurusin teknis di lapangan. Kalo kepala daerah itu terjun ke lapangan dan ngurusin kerjaan teknis, mending bubarin aja itu dinas-dinas yang ada. Biar Walkot/Gub aja yang kerja.

Kalo Walkot/Gubernur lu lagi ngonten apalagi turun mulu ke lapangan, itu artinya lagi nyari suara buat pemilu berikutnya. Jangan gampang terhipnotis sama orang yang keliatannya kerja, ternyata ga. Ga semua yang "kerja" itu harus turun ke lapangan dan bersentuhan sama masyarakat. Kalo mau dibilang merakyat, harusnya yang dilihat itu arah kebijakannya. Emang beneran memihak ke rakyat atau seolah-olah doang?

Percuma dia berlagak turun ke lapangan, tapi kebijakannya ga pernah memudahkan hidup masyarakat. Jangan terlalu percaya sama gimmick yang dimainin sama elit-elit politik. Tetap fokus sama job desk inti yang akan diemban sama si calon pejabat. Kalo selama kampanye dia ga pernah ngasih liat keahlian yang diperlukan, jangan lu pilih!

Bekali diri lu dengan pengetahuan dasar terkait pekerjaan pejabat-pejabat ini. Minimal banget pas mau pemilu, cari tau job desk anggota DPRD, DPR RI, Walikota, Bupati, Gubernur sampe presiden. Kemudian liat pas kampanye, apakah mereka-mereka ini memang punya skill yang sesuai sama pekerjaannya nanti atau ga. Kalo ga punya skill, gausah dipilih.

Tapi kalo ternyata yang terpilih bukan pilihan kita gimana? 

Nah itulah tandanya kita mesti berisik sama orang-orang yang udah terpilih ini. Biar mereka improve juga. Kalo gamau improve, tetap harus berisik. Jadi dia tau kalo dia ini lagi dipantau, diliatin kerjaannya. Kalo ga kayak gitu, mereka bakalan sembarangan lagi sama kita! Mereka enak dapet gaji gede tapi kerja ga sesuai skill. Kita? Udah mah kerja sesuai skill, gajinya masih dipotong buat bayar keringat orang-orang ga kompeten. Masa mau diam aja?

Kalo lu masih mau Indonesia jadi negara maju, atau setidaknya hidup lu jadi makin gampang. Pilih orang yang bener-bener kompeten, selagi kita masih bisa milih. Jangan sampai, kesempatan kita milih orang-orang yang punya skill itu hilang dan hidup kita cuman ditentuin sama segelintir orang di Indonesia.

Walaupun pemimpinnya bodoh, jadi Warga Negara Indonesia harus tetap pintar!

Setelah Terjun 3 Bulan ke Dunia TCG Pokemon

Gue mulai meriset terkait kartu pokemon ini sejak akhir bulan Maret 2026. Jadi terhitung masih sangat baru di dunia ini. Apalagi gue risetnya mandiri, sedikit doang gali-gali info dari temen-temen sekitar. Karena emang ga banyak juga yang ngoleksi kartu pokemon.

Selama 3 bulan ini, ada banyak hal yang gue pelajari. Baik itu dari sisi teknis sampai ke hal-hal non-teknis tapi krusial di dunia tcg pokemon.

1. TCG Pokemon Amerika > TCG Pokemon Indonesia


Gue ngerasa ada jarak yang lebar banget antara ekosistem TCG Pokemon di Indonesia dan luar negeri, khususnya di Amerika. Menurut gue, TCG Pokemon di Amerika lebih mapan, karna pondasinya kuat banget. Pokemon TCG pertama kali rilis di Amerika sekitar tahun 1999. Jadi ekosistemnya udah terbentuk sejak lama.

Bandingkan dengan Indonesia yang baru mulai di tahun 2019. Udah jalan 20 tahun di Amerika, baru mereka rilis di Indonesia. Artinya secara infrastruktur dan lainnya, Indonesia ketinggalan 20 tahun untuk TCG Pokemon. Keliatan sih sebenarnya dari kasat mata melihat sistem distribusi kartu dan stoknya di Amerika sama Indonesia.

Kalo di Amerika toko retail kayak Target, Wallmart, Gamestop dan lain-lain menjamur banget dimana-mana. Pokemon cukup kerjasama dengan mereka aja, udah cukup untuk mendistribusikan produknya. Tapi percuma kerjasama dengan toko retail ternama ga diiringi dengan kapasitas produksinya. Gue rasa sih di Amerika stoknya melimpah banget dan merata di hampir semua toko retailnya. Artinya secara produksi juga gede, untuk ngimbangin jatah distribusi yang banyak itu.

Sedangkan di Indonesia, distribusinya masih terbatas banget. Meskipun udah kerjasama dengan toko retail semacam Gramedia, Toys Kingdom, Kidz Station dan Indomaret, ternyata masih kurang mumpuni. Karena Indonesia juga tersebar pulau-pulaunya, jadi jalur distribusinya berbeda juga. Maka, biaya untuk distribusinya juga besar seharusnya, ya. Apalagi TCG Pokemon Indonesia ini didistribusiin dari Jepang dulu.

Karena distribusi yang terbatas ini, pada akhirnya stoknya habis di hari H rilis produk. Sisanya? Entah disimpan oleh toko retailnya untuk dikeluarin pelan-pelan. Seolah-olah ada "restock" tapi kita semua tau itu ga mungkin, kan? Mwehehhe..

1.1 Kelebihan dan kekurangannya

1.1.1 Kekurangan

Setelah melihat uraian tersebut, gue jadi mikir, apa ya kekurangan dan kelebihannya?

Kita bahas kekurangannya dulu, ya. Kalo menurut gue, meskipun di Amerika sudah cukup mapan secara fondasi komunitas, tetapi juga ada kurangnya. Mereka masih bertarung sama scalper dan belum ketemu caranya untuk bisa menang. Makin gede komunitasnya, makin banyak juga yang tergiur untuk kebagian kue cuannya.

Sama kayak di Indonesia, padahal secara komunitas masih bisa dibilang "merintis". Namun sudah ada scalper yang ikutan gabung untuk ngerasain cuannya. Masalahnya, produksi di Indonesia menurut gue masih sangat terbatas. Sehingga, keberadaan scalper sangat mengganggu ekosistem komunitas kolektor dan pemainnya.

Para kolektor yang mau nambahin koleksinya dengan harga yang terjangkau, jadi ga bisa. Para pemain yang ingin nyari kartu yang cocok untuk deck mereka, justru terhambat karena scalper ngambil jatah mereka dan dijual jauh di atas harga retail aslinya. 

Selain oknum scalper yang berkedok "kolektor bosen", ada juga oknum orang dalam yang korup. Patut dicurigai ada pemufakatan jahat dari oknum orang dalam perusahaan dengan pengusaha berduit untuk bisa dapat jatah pengiriman stok tcg pokemon Indonesia ini. Gue rasa sih kalo ga ada oknum korup ini, distribusi kartu tcg pokemon di Indonesia akan jauh lebih damai.

Bahkan baru-baru ini heboh banget ada yang udah bisa jual set 30th Anniversary EN TCG Pokemon yang binder set-nya di Indonesia. Padahal, di Amrik aja baru rilis info pre order untuk ETB doang. Kok bisa? Katanya sih yang dijual ini namanya pre release package. 

Tapi, setau gue yang awam ini, yang namanya pre release package itu tujuannya untuk promosi konten. Bukan untuk dijual lagi sama yang dikasih. Karna biasanya paket ini tuh dikasih gratis sama si produsen produknya untuk dibantu promosi. Kalo paket gratis ini dijual, ya namanya ini produk ilegal, dong.

1.1.2 Kelebihan

Meskipun dengan begitu banyak kekurangan, gue rasa ga adil kalo kita ga ngomongin kelebihannya juga. Terutama kelebihan ekosistem tcg pokemon di luar negeri kayak di Amerika.

Karena komunitasnya sudah mapan, mereka punya sistem yang jauh lebih lengkap daripada di Indonesia. Bahkan, ada aplikasi khusus yang memantau stok tcg pokemon di toko retail resmi di Amerika. Kalo ada restock, aplikasi ini langsung ngirim notifikasi ke pelanggan mereka. Jadi, kolektor bisa dapatin harga MSRP di toko retailnya dan ga ketinggalan info restock lagi.

Kalo di Indonesia, meskipun komunitasnya belum semapan luar negeri, masih ada kelebihannya. Buat gue, pack di Indonesia masih lebih terjamin untuk bisa dapat hit kalo beli per box/per case. Gue masih lebih percaya beli loose pack (ketengan) Indonesia daripada loose pack dari Jepang.

Harga kartu single untuk set Indonesia juga lebih murah daripada kartu luar negeri. Kalo mau beli/koleksi single lebih rekomen untuk mulai dari kartu Indonesia dulu. Tapi kalo mau jual kartu single, mending jual kartu luar aja. Karena harganya lebih mahal. Set luar negeri yang kartunya lebih mahal tapi secara budget lebih ringan untuk belinya, bisa mulai dari set kartu tcg pokemon JPN atau Chinise Simplified version dulu.

2. Semakin tau harus "ngejar" kartu yang mana

Awal-awal mengenal tcg pokemon, masih random banget mau incar set/kartu yang mana. Pokoknya semua yang bisa dijangkau/dibeli, ambil dulu aja. Semakin ke sini, semakin bisa mengendalikan diri. Semakin ngerti juga kita ga bisa nurutin nafsu untuk punya semua set-nya.

Apalagi kalo ngejar semua set luar negeri dan lokal juga. Selain ga keburu, karna waktu rilisnya beda-beda, budgetnya juga ga sanggup kalo mau punya semuanya. Gue jadi semakin bijak untuk ngatur budget pengeluaran gara-gara koleksi tcg pokemon ini.

Semakin menggali info, semakin tau apa yang harus dikejar. Setidaknya dalam 3 bulan gue mengenal tcg pokemon ini, gue ada punya 2 chase card yang pengen banget gue miliki: Mega Lucario EX terutama di set Mega Evolution yang SAR dan Pikachu Captian di gem pack volume 5 Chinese Simplified version.



Buat gue pribadi, 2 kartu ini tuh punya kesan tersendiri. Mega Lucario SAR itu suka banget kombinasi warnanya dan adegan di dalamnya. Ga cuman ada Venusaur yang jadi "lawan" si Mega Lucario ini. Tapi, di bawahnya juga ada Kangaskhan yang ikutan berantem di bagian kiri bawah kartu itu. Jadi, secara cameo kartu ini tuh "kaya" banget.

Kalo Pikachu Kapten ini, buat gue sangat ikonik. Memang beda dari Pikachu Gen 1 yang pernah gue tonton, ya. Tapi, ilustrasi kartu ini tuh gue suka banget. Secara gayanya, tengilnya dan penggunaan topi kaptennya itu pas banget sama karakter pikachu yang gue tau.

Dengan adanya target yang diincar, maka gue ga akan terlalu FOMO lagi untuk ngejar semua set. Cukup cari set yang punya chase card ini aja. Tapi, khusus untuk kartu Mega Lucario EX SAR itu memang rada susah nyarinya sekarang. Karena kartu ini tuh rilis di set terdahulu: Mega Evolution (EN), Evolusi Mega (IND), dan Mega Brave (JPN). Kalo Captain Pikachu masih bisa ngejar karena set-nya relatif lebih murah dan baru juga. Tapi tetap aja lama-lama ini akan jadi set lama dan langka juga ujung-ujungnya kalo ga segera dapat kartunya.

Kalo kedua kartu ini ga dapat dari beli booster box, mungkin gue akan cari single aja. Tapi nunggu harganya turun dulu mwehehehe..

Kalo menurut lu gimana? Apakah orang yang koleksi kartu pokemon baru-baru aja kayak gue ini bisa dibilang FOMO? Coba tulis di kolom komentar, ya!

Seedbacklink