Yang Harus Dilakukan Saat Menjadi Karyawan Baru

Pasti lu bingung ketika hari pertama masuk kerja, kan? Apa yang harus dilakuin? Nanya ke siapa kalo kebingungan? Daann masih banyak lagi yang ga tau harus dilakuin. Menurut gue wajar banget kalo bingung apa yang harus dilakuin pas hari pertama kerja. Apalagi kalo lu belum pernah kerja di posisi itu sebelumnya.

Bahkan, kalo lu udah pernah kerja di posisi yang lama di kantor sebelumnya, pasti bakalan bingung juga hari pertama di kantor baru. Karena budayanya beda, orang-orangnya beda, job desk-nya juga beda. Gue sarankan, dari awal lu harus tau job desk lu apaan, jadi ga buta-buta banget sama apa yang harus lu kerjain di hari pertama.

Lalu apa saja yang perlu dilakukan saat hari pertama kerja sebagai karyawan baru?

1. Memahami job desk utama

Ketika menjadi karyawan dari hari pertama, lu wajib banget untuk ngerti dan tau apa yang harus lu kerjakan. Setidaknya, lu bisa tau job desk itu ketika wawancara sama user/HRD, entah itu dari wawancara yang mengalir, atau lu langsung tanyain job desk-nya apa. Artinya lu harus tau apa yang akan dikerjakan bahkan sebelum lu masuk kerja di kantor yang baru.

Jadi, ketika lu ga punya tempat untuk bertanya apa yang harus lu kerjakan, setidaknya lu menyiapkan diri untuk mengerjakan bahan-bahan job desk lu nanti. Gue rasa sih ga mungkin atasan/pengawas lu ngelepas lu 100% di hari pertama masuk kerja. Minimal dikasih briefing singkat dulu garis besar yang akan lu kerjakan sebagai rutinitas. 

Kalo lu ga dikasih petunjuk apa-apa, ada baiknya lu inisiatif bertanya langsung. Bisa ke rekan kerja lu, atau langsung ke atasan aja biar jelas distribusi kerjaannya seperti apa.

2. Memahami medan perang

Terlihat berlebihan, tapi sebenarnya kantor juga "medan perang" yang perlu kamu menangkan. Atau setidaknya perlu kamu kuasai, yang penting tau kondisi medannya, ga harus menang tapi ngerti cara bertahan (hidup). Kalo lu pikir ga perlu belajar politik, sekarang saatnya melek politik.

Karena kantor adalah medan perang politik yang harus lu kuasai. Lu harus tau siapa yang pegang kendali, siapa yang caper, siapa yang muka dua. Jangan kaget kalo kamu ketemu macam-macam tipe orang di kantor. Kantor tu tujuannya cuman "cari duit", kalo urusannya sama duit tu ada aja cara yang dilakuin.

Ketika lu udah tau siapa aja orang-orang yang berpotensi mengganggu karir/pekerjaan lu, segera pasang "tembok" buat mereka. Entah itu minimalisir interaksi, siapkan "peluru" lebih banyak dari dia, atau ga terlibat komunikasi apapun sama dia. Fokus sama orang-orang yang bisa mendukung karir lu jadi lebih baik dan kerjaan lu jadi lebih ringan aja.

3. Memahami budaya kerja

Budaya kerja ga cuman soal politik kantornya, doang. Tapi pola komunikasi dan koordinasi antar rekan kerja penting untuk dipahami. Ini bakalan jadi ujung tombak kualitas kerjaan lu nantinya. Semakin paham lu sama budaya kerja di kantor baru, semakin bekurang stress yang akan lu rasakan.

Paling krusial sih memahami cara komunikasi atasan lu kayak gimana. Ada yang bisa ngasih tugasnya secara tersirat, ada yang spesifik, ada yang perlu digali banget. Dengan lebih cepat memahami cara komunikasi atasan, lu bakalan lebih mudah untuk memenuhi ekspektasi mereka.

Memahami budaya kerja juga penting biar kamu ga dicap ga bisa kerja. Apalagi kalo tugas lu banyak revisi terus sama atasan lu. Jadi kalo bisa komunikasikan/gali keperluan atasan lu selengkap mungkin. Apalagi kalo atasan lu itu orangnya detail banget.

***

Sebagai karyawan baru, gue rasa 3 bulan waktu yang cukup untuk belajar 3 hal itu. Kalo lu ga bisa beradaptasi sama lingkungan yang baru dengan cepat, gue khawatir karir lu bakalan pendek di kantor baru. Jangan sampai hanya karna 1-2 hal, bikin mental lu jadi loyo. Kuatkan mental lu biar punya karir yang panjang.

Dunia kerja emang beda dari dunia sekolah dan dunia kuliah. Jangan dianggap sebagai dunia yang bisa lu jalani dengan main-main. Saat lu masuk dunia kerja, karir dan masa depan lu dipertaruhkan di hari pertama. Kalo lu ga bisa memosisikan diri dengan baik, jalan lu ke depan bakalan lebih berat dari sebelumnya

Toko Bahan Kue Bisa Rawan Rayap Jika Banyak Kardus Stok Disimpan di Area Lembap

Toko bahan kue biasanya memiliki banyak stok seperti tepung, gula, cokelat, kemasan kue, dus, paper cup, plastik packing, hingga perlengkapan baking lainnya. Sebagian besar stok tersebut disimpan dalam kardus, box, atau rak penyimpanan agar mudah dicari saat dibutuhkan.

Namun, jika area gudang toko lembap dan tumpukan kardus jarang dipindahkan, risiko rayap bisa meningkat. Rayap menyukai material berbahan selulosa seperti kardus, kertas, dan kayu. Jika tidak dicek secara rutin, kerusakan bisa muncul dari bagian bawah tumpukan tanpa langsung terlihat.


Kenapa Toko Bahan Kue Bisa Rawan Rayap?

Toko bahan kue sering memiliki area penyimpanan yang cukup padat. Kardus stok biasanya disusun rapat, menempel ke dinding, atau diletakkan langsung di lantai agar ruang gudang lebih hemat.

Masalahnya, jika lantai lembap atau dinding mengalami rembes, bagian bawah kardus bisa menjadi titik yang disukai rayap. Dari area tersebut, rayap bisa menyebar ke rak kayu, meja kasir, kabinet, atau area display toko.

Kardus dan Kemasan Kertas Bisa Menambah Risiko

Banyak perlengkapan toko bahan kue menggunakan kemasan berbahan kertas, seperti box kue, paper cup, label, nota, dan dus packing. Barang-barang ini bisa menjadi sumber makanan tambahan bagi rayap jika disimpan terlalu lama di area lembap.

Kerusakan biasanya dimulai dari bagian bawah tumpukan. Kardus bisa menjadi rapuh, berlubang, atau mudah hancur saat diangkat. Jika dibiarkan, kerusakan bisa mengganggu stok dan kerapian gudang.

Rak Penyimpanan Perlu Dicek Secara Rutin

Rak kayu atau rak berbahan kayu olahan di toko bahan kue juga perlu diperhatikan. Bagian bawah rak, belakang rak, dan sudut yang menempel ke dinding sering menjadi area yang jarang terlihat saat pembersihan harian.

Tanda awal yang perlu diperhatikan adalah munculnya serbuk halus, jalur tanah kecil di sudut dinding, kardus rusak, atau rak kayu terdengar kopong saat diketuk.

Jangan Hanya Fokus pada Kebersihan Produk

Toko bahan kue memang perlu menjaga kebersihan produk dan area display. Namun, bagian gudang, bawah rak, belakang meja, dan sudut penyimpanan juga tidak boleh diabaikan.

Jika hanya membuang kardus yang rusak tanpa memeriksa sumber masalahnya, rayap bisa tetap aktif dan menyerang area lain di dalam toko.

Cara Mengurangi Risiko Rayap di Toko Bahan Kue

Langkah pertama adalah jangan menumpuk kardus langsung di lantai. Gunakan rak penyimpanan yang memiliki jarak dari lantai agar area bawah lebih mudah dibersihkan.

Kedua, beri jarak antara stok barang dan dinding. Jarak kecil ini membantu sirkulasi udara dan memudahkan pengecekan jika muncul tanda awal rayap.

Ketiga, pastikan area toko dan gudang tetap kering. Jika ada dinding rembes, plafon bocor, atau lantai sering lembap, segera perbaiki sumber masalahnya.

Jika mulai muncul tanda seperti kardus rusak, serbuk halus, jalur tanah, atau rak kayu mulai kopong, layanan jasa pembasmi rayap surabaya bisa menjadi pilihan untuk membantu mencegah kerusakan menyebar ke area toko lainnya.

Kesimpulan

Toko bahan kue bisa menjadi area rawan rayap jika banyak kardus stok dan kemasan kertas disimpan di gudang yang lembap. Kerusakan bisa berdampak pada kerapian stok, kemasan produk, dan operasional toko.

Dengan menjaga gudang tetap kering, menyusun stok di rak, dan rutin memeriksa tanda awal rayap, risiko kerusakan akibat rayap bisa dikurangi sejak dini.

Koleksi Kartu Pokemon

Selain menulis sekarang ngoleksi kartu pokemon jadi hobi baru gue. Koleksinya juga bukan beli per kartu, tapi koleksi dari set box yang gue beli. Karena memang aslinya cuman kepengen ngerasain sensasi brewek pack kartunya doang. Urusan dapat kartu bagus/ga, itu jadi bonus aja.

Dulu cuman menulis yang therapheutic buat gue, sekarang brewek kartu pokemon dan kartu bola jadi alternatif lainnya. Tapi di sisi lain, hobi ini juga cenderung cukup mahal buat gue. Karena perlu modal yang cukup tebal untuk bisa menikmati hobi ini dengan nyaman.

Meskipun begitu, gue ga mau nunggu punya modal tebal dulu. Gue nyicil aja untuk punya beberapa koleksi incaran. Ada yang dikoleksi secara booster box, set kolektor atau sekadar loose pack (ketengan) aja. Untuk koleksi tertentu, kemungkinan akan gue koleksi secara box. Konsekuensinya harus punya budget besar untuk bisa punya set kayak begitu. Untuk set yang ga terlalu menarik buat gue, biasanya akan gue koleksi secara ketengan aja.

Tujuan utamanya sebenarnya untuk mendapatkan pengalaman brewek (buka pack) aja. Sensasi mendapatkan kartu-kartu langka hasil dari pilihan sendiri itu beda banget. Karena gue pribadi juga ga ada kartu incaran di koleksi kartu pokemon ini. Kalo emang ada kartu incaran, mungkin gue akan beli langsung aja. Lebih murah dan lebih cepet dapetnya juga.

Sebenarnya harga kartu pokemon set Indonesia itu cukup terjangkau buat gue. Variasi set produknya juga lumayan banyak. Ada yang set booster box (isi 10 pack untuk high class booster box dan isi 30 pack untuk booster box biasa). Ada set kolektor yang berisi 10 pack kartu dan 1 pack kartu promo eksklusif.

Tapi karena ekosistem kolektornya ditunggangi sama scalper alias tukang timbun, harganya jadi ga karu-karuan sekarang. Waktu gue masuk lewat set Ledakan Peniada, harga MSRP untuk 1 booster box itu harusnya cuman 600ribu. Gara-gara ditimbun sama scalper, harganya "terbang" jadi sejuta! Ga kira-kira kalo nyari untung!

Karna harganya udah dimark-up gila-gilaan, akhirnya kartu-kartu ini jadi ga affordable lagi buat dijangkau sama komunitasnya. Kalo scalper-scalper ini ga segera diantisipasi, bisa-bisa makin lama ekosistem dan komunitas pencinta TCG Pokemon bakalan habis. Sisanya hanya scalper yang nyari untung doang. Akhirnya TCG Pokemon bakalan ditinggalkan sama penggemarnya, deh.

Inilah salah satu sisi gelap dunia kolektor yang udah disusupin sama pencari untung. Padahal, fondasi dasar kolektor itu ya hobi. Kalo sudah hobi, ga ada istilah "nyari untung" di dalamnya. Karena ini hanya berdasarkan kesenangan personalnya masing-masing. Tapi ketika hobi ini diliat sebagai sebuah tempat untuk berinvestasi, sudut pandangnya jadi berubah. Udah ga lagi dianggap sebagai sebuah hobi koleksi, tapi sebagai alat untuk mengeruk keuntungan saja.

Belum lagi tcg pokemon dipromoin sama influencer FOMO yang mendadak jadi ahli kartu pokemon padahal dulunya ga pernah ngomongin tcg sama sekali. Cuman pake modal followers banyak, langsung jadi hobbies dan gilanya langsung menanamkan dibenak newbie kalo ini investasi yang menguntungkan.

Udah mah jadi influencer, sekarang malah ikut-ikutan nyari cuan dengan jualan kartunya juga. Tapi pinter, yang dijual bukan tcg pokemon indonesia, mereka jualnya kartu pokemon luar semua. Tapi tetap aja harganya juga dinaikin biar cuan gede. Jualannya di youtube lagi, nyalain fitur swaer daring juga, ada adsense juga. Cuannya 3 kali lipat brok! 

Well, i guess thats previlage for being influencer.

Gue sih ga masalah kalo ada yang nyari untung dari jualan sesuatu. Gue juga punya dagangan, kalo dagang ga untung ya dapet capenya doang buat apa? Tapi kalo nyari untungnya gila-gilaan sampe kasih harga ga masuk akal, jatohnya jadi janggal dan keliatan banget greedy-nya.

Kalo emang mau bikin ekosistem dan komunitas ini tetap sehat dan hidup, rawat dengan baik. Gue percaya, apa yang ditanam itu juga yang dituai. If you give good, you'll get good too. Tapi kalo dari awal niat lu udah ga bagus, lu akan nerima akibatnya di akhir. 

Gue pribadi sih ga mau beli stok dari scalper. Kecuali kalo terpaksa banget dan ga ada pilihan lainnya. Selama masih bisa dapat harga yang wajar, scalper FOMO ga akan pernah dapat kesempatan untuk ngambil duit gue.

Masalah scalper itu hal pertama yang perlu dihadapi oleh kolektor tcg pokemon. Selain scalper juga ada produsen kartu abal-abal dan tukang repack tcg pokemon. Kartu abal-abal tau lah maksudnya, kan? Produsen kartu palsu yang dijual harga normal kayak kartu aslinya. Atau bahkan lebih murah, tapi ini justru mencurigakan banget.

Repack box/kartu juga potensi masalah lainnya. Ada isu kalo tcg pokemon luar, terutama seri Jepang, dalamnya sudah dalam kondisi repack atau dikemas ulang. Isi dalam packnya diambil hit cardnya, kemudian di-sealed ulang untuk dijual ke kolektor tanpa bisa mendapatkan hit card-nya. Ini sih jatohnya udah kriminal kalo emang bener kejadian, ya.

Bahkan teknologi repack-nya udah makin canggih. Ada yang bisa print box tcg pokemon mirip banget sama aslinya. Kalo dari konten-konten yang seliwiran di medsos, cirinya bahkan ga bisa diliat sekilasan doang. Harus bener-bener ngebandingin sama box yang asli. Karena bedanya tu tipis banget cenderung ga keliatan kalo ga ada pembandingnya.

Gue cuman takut komunitas dan ekosistemnya jadi makin rusak kalo ga segera diperangin sama-sama. Kalo berharap dari Pokemon Company-nya doang yang bisa mengatasi hal ini sih susah juga. Mereka ga bisa gerak sendirian untuk perang sama oknum-oknum. Harus jalan bareng, bersama komunitasnya juga diajak/dirangkul.

Sebenarnya masih ada banyak pembahasan terkait hobi koleksi tcg pokemon ini. Tapi untuk kali ini, cukup sampai di sini dulu aja. 

Kalo menurut lu sendiri, apakah hobi yang lu lakuin udah bisa dikatakan "murah" ketika bisa mendapatkannya dengan harga yang ga dimahalin gila-gilaan? Atau justru lebih ga sehat lagi dari tcg pokemon? Coba tulis di komentar, ya!

Terlalu Positive Thinking Itu Berbahaya

Salah satu yang gue pelajari berdasarkan kebiasaan orang rumah adalah tidak selalu memandang negatif orang lain. Pandangan ini gue dapatkan karena orang tua gue hampir selalu memandang negatif orang lain. Apapun yang dilakukannya, jarang sekali mendapatkan apresiasi. Selalu ada yang salah, selalu ada komentar negatif.

Makanya ketika berada di luar rumah, gue selalu berusaha untuk berpositive thingking terhadap orang lain. Apapun yang dia lakukan, gue berusaha untuk tidak berkomentar negatif. Gue berusaha untuk adil sejak dalam pikiran aja.

Awalnya gue kepengen sesuatu berjalan sesuai dengan pikiran gue. Kalo gue berlaku adil sejak dalam pikiran gue, orang pun juga akan berlaku sama terhadap gue. Diapun akan tetap sama berlaku adil dan ga akan ada niat jahatnya. Tapi, emang bener apa kata orang-orang: jangan berharap sama manusia.

Kalo kita berharap sama manusia, akan banyak kecewanya. Ga semua orang bertindak sesuai dengan harapan kita. Karena mereka manusia, punya akal dan pikirannya sendiri. Ga mungkin kita bisa kendalikan, apalagi kita juga sama-sama manusia, kan?

Emang bener ya, yang "terlalu" itu pasti ga baik. Karna gue terlalu berpikiran positif sama orang lain malah bikin celaka. Yang kejadian di gue sih bukan celaka secara fisik, ya. Tapi gue yakin ada aja yang fisiknya jadi karna pemikiran serupa kayak gue ini. Kalo gue sih yang kena lebih ke mentalnya, ya.

Terlalu berpositif thinking bikin gue jadi polos banget menilai seseorang. Menganggap semua orang itu ga punya niat jahat sama sekali. Anggapan yang fatal banget karena ga semua orang, pemikirannya kayak gue. Sayangnya ga cuman 1 orang yang gue anggap ga punya niat jahat. 

Gara-gara terlalu polos menilai orang lain ini, jadinya gue sendiri yang terjerumus.

Sesederhana berbagi informasi kompetisi saat kompetisinya masih berlangsung. Gue mencoba berniat baik untuk ngasih tau info yang ga ada di ketentuan ke temen-temen yang ikutan lomba. Dengan harapan mereka ga bakal nikung gue saat lomba berlangsung.

Ternyata, anggapan ini terlalu polos gue pikirkan.

Saat itu, posisinya gue ada di peringkat ketiga dan dia ada di peringkat empat. Begitu gue kasih info tentang lombanya, eh gue malah dibalap sama dia! Sekarang posisinya gue di peringkat empat. 

Terlalu polos bikin gue salah menilai orang lain.

Ga semua orang niatnya setulus itu. Semua punya kepentingannya masing-masing. Bahkan kalo perlu menyingkirkan orang lain untuk memuluskan kepentingan pribadi. Gue rasa sih hal kayak gini ga cuman terjadi di dalam kompetisi/lomba doang. Di dunia kerja dan dalam bidang lain juga sama aja.

Ada orang yang dengan sadar memanfaatkan kebaikan orang lain untuk keuntungan pribadi. Padahal, ada yang dengan niat hati untuk mengembangkan komunitas sama-sama. Ternyata ada juga yang manfaatin komunitas untuk portofolio pribadinya saja.

Kendaraannya memang sama, tapi tujuannya sampai beda-beda.

Suatu saat, kalo gue udah ngeliat ga ada harapan lagi buat perkumpulan itu berkembang, gue akan keluar. Tapi selama gue masih ada tenaga untuk ngebangun dan ngembanginnya, akan gue perjuangkan sampe akhir.

Gue pengennya semua yang ada di komunitas punya kesempatan yang sama. Ga cuman yang itu-itu aja yang dapatin previlage -nya. Kalo pengen eksklusif kayak gitu, gausah rekrut anggota baru. Lu lu pada aja yang ada di sono, biar lu lu doang yang dapet semuanya.

Sama halnya kayak tempat lu kerja. Bersaing sama rekan kerja secara sehat mah wajar-wajar aja. Di kantor akan selalu ada yang namanya "politik kantor" dan itu normal. Apalagi ini urusannya sama perut masing-masing. Tapi kalo udah saling sikut, saling manfaatin, fitnah sana sini, itu udah ga sehat namanya.

Kalo lu ngerasa lingkungan sekitar lu udah terlalu toksik, segera menjauh dari sana. Jangan biarkan diri lu terpapar lebih lama sama orang-orang seperti itu. Kalo masih belum bisa menjauh, minimalkan interaksi atau bentengi diri lu sama mindset-mindset yang kuat.

Intinya, mulai sekarang udah ga bisa lagi 100% berprasangka baik sama orang lain. Entah itu sama temen sendiri apalagi orang lain yang baru dikenal. Trus kalo punya info yang kalo keluar bisa bikin saingan lu jadi lebih unggul, mending simpan buat diri sendiri aja. Terakhir, Tinggalin temen/lingkungan toksik secepatnya, atau ubah pola pikir biar ga ikut terpapar toksik.

Merenungi Mindset Perencanaan Keuangan Yang Gue Miliki

Selama mulai mengenal yang namanya "perencanaan keuangan", jadi makin berhitung terhadap pengeluaran dan pemasukan yang terjadi. Bukan pelit, tapi pengen melihat sejauh apa kita bisa menggunakan uang yang kita punya. Apakah hanya disimpan untuk ditabung dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kayak makan dan jajan. Atau dibelanjakan ke hal-hal yang impulsif.

Awalnya mindset yang gue miliki adalah "Mending nabung duitnya untuk bisa dipake liburan dan jajan impulsif saat liburan". Yang gue pertahankan selama ini seperti itu,  sebelum mengenal kartu pokemon atau trading card game pada umumnya. Apakah gue sepelit itu? Ga juga, gue tetep jajan tapi terkontrol untuk pengeluaranya, terlebih pemasukannya juga lumayan.

Seiring berjalannya waktu, terlebih setelah mengenal hobi baru itu, gue mulai memikirkan ulang mindset yang tadi. Apakah emang harus seketat itu untuk mengatur pengeluaran gue? Emang uang yang gue simpen bakalan bisa bertahan lama? Terlebih nilainya dengan dollar makin lama makin turun. Lama-lama bakalan ga ada harganya ini duit.

Apalagi negara ini dipimpin sama presiden yang ga terlalu ngerti soal ekonomi. Jadinya makin ruwet perekonomian rakyatnya. Dia taunya cuman program makan gratisnya jalan doang, ga peduli rakyatnya udah ketindih sana sini. Udah harga barang-barang pada naik, kebijakannya ngaco banget lagi. Korbannya ya rakyat kecil, dong!

Gue pernah baca 1 kalimat di twitter yang bilang "yang namanya baterry health iphone udah pasti berkurang kalo dipake! kalo gamau berkurang, ya jangan dipake".

Jujur ini gue setuju, sih. Dimana-mana kalo sesuatu yang dipake harian itu, fungsinya akan menurun pelan-pelan. Tanda kalo iphone dipake yang battery health-nya berkurang. Wajar banget, dan ga perlu khawatir. Karna kita emang pake fungsinya buat keperluan sehari-hari.

Nah, pola pikir yang gue coba pake di manajemen pengeluaran sekarang. Duit emang bakalan berkurang kalo dipake. Wajar banget namanya juga dibelanjain, udah pasti berkurang dong? 

Hal yang bikin gue agak kurang nyaman itu spent yang cukup besar di bulan ini. Bahkan cenderung bisa bikin minus neraca keuangan bulan ini. Meskipun secara keseluruhan tabungan masih aman. Cuman ada rasa ga nyaman untuk ngeluarin duit sebanyak itu. Tapi gue seneng banget begitu dapat barangnya. Jadi agak paradoks memang.

Bisa jadi rasa ga nyaman itu muncul karena sebelum ga pernah spent uang sebanyak ini. Bahkan bisa dibilang terbanyak selama gue mencoba mengatur keuangan. Karena sebelum gue menghitung pengeluaran ini, ga pernah ngitung pengeluarannya wahahhaa!

Secara nomor rekening sih masih ada di angka aman, ya.

Mungkin perasaan paradoks ini emang sudah seharusnya "diterima" aja, ya. Mau itu perasaan janggal karena pengeluaran yang cukup besar bulan ini. Atau pun perasaan seneng ketika bisa dapatin produk yang udah kita beli itu. Karena memang begitulah seharusnya.

Ketika ngeluarin uang, ada rasa sedih karena ada nominal yang berkurang. Tapi ketika udah dapet barangnya, justru bikin bahagia karena kita bisa beli apa yang kita mau. Semua perasaan itu akan gue syukuri semuanya.

Gue bersyukur ada kemampuan (uang) untuk bisa beli apa yang gue pengen. Gue bersyukur bisa dapatin apa yang gue mau. Ga banyak orang yang bisa merasakan seperti itu. Ga perlu pelit sama diri sendiri, karena buat siapa lagi kita kerja siang-malam kalo ga buat diri sendiri dan keluarga?

Tapi, gue juga ngerti perasaan lu yang hari ini masih belum bisa mewujudkan keinginan lu. Gue bersimpati, karena gue pun juga merasakan hal yang sama. Ga semua hal bisa diwujudkan untuk saat ini. Gapapa dan wajar banget, kok. Di situlah seninya berusaha dan berdoa, kan?

Gapapa punya neraca keuangan yang ga seimbang. Asalkan bisa ngeliat keluarga kita masih bisa senyum, bahagia dan ketawa-ketawa. Itu jauh lebih mahal harganya daripada sekadar pundi-pundi rekening yang ga seberapa berkurang itu.

Seedbacklink