Yang Harus Dilakukan Saat Menjadi Karyawan Baru

Pasti lu bingung ketika hari pertama masuk kerja, kan? Apa yang harus dilakuin? Nanya ke siapa kalo kebingungan? Daann masih banyak lagi yang ga tau harus dilakuin. Menurut gue wajar banget kalo bingung apa yang harus dilakuin pas hari pertama kerja. Apalagi kalo lu belum pernah kerja di posisi itu sebelumnya.

Bahkan, kalo lu udah pernah kerja di posisi yang lama di kantor sebelumnya, pasti bakalan bingung juga hari pertama di kantor baru. Karena budayanya beda, orang-orangnya beda, job desk-nya juga beda. Gue sarankan, dari awal lu harus tau job desk lu apaan, jadi ga buta-buta banget sama apa yang harus lu kerjain di hari pertama.

Lalu apa saja yang perlu dilakukan saat hari pertama kerja sebagai karyawan baru?

1. Memahami job desk utama

Ketika menjadi karyawan dari hari pertama, lu wajib banget untuk ngerti dan tau apa yang harus lu kerjakan. Setidaknya, lu bisa tau job desk itu ketika wawancara sama user/HRD, entah itu dari wawancara yang mengalir, atau lu langsung tanyain job desk-nya apa. Artinya lu harus tau apa yang akan dikerjakan bahkan sebelum lu masuk kerja di kantor yang baru.

Jadi, ketika lu ga punya tempat untuk bertanya apa yang harus lu kerjakan, setidaknya lu menyiapkan diri untuk mengerjakan bahan-bahan job desk lu nanti. Gue rasa sih ga mungkin atasan/pengawas lu ngelepas lu 100% di hari pertama masuk kerja. Minimal dikasih briefing singkat dulu garis besar yang akan lu kerjakan sebagai rutinitas. 

Kalo lu ga dikasih petunjuk apa-apa, ada baiknya lu inisiatif bertanya langsung. Bisa ke rekan kerja lu, atau langsung ke atasan aja biar jelas distribusi kerjaannya seperti apa.

2. Memahami medan perang

Terlihat berlebihan, tapi sebenarnya kantor juga "medan perang" yang perlu kamu menangkan. Atau setidaknya perlu kamu kuasai, yang penting tau kondisi medannya, ga harus menang tapi ngerti cara bertahan (hidup). Kalo lu pikir ga perlu belajar politik, sekarang saatnya melek politik.

Karena kantor adalah medan perang politik yang harus lu kuasai. Lu harus tau siapa yang pegang kendali, siapa yang caper, siapa yang muka dua. Jangan kaget kalo kamu ketemu macam-macam tipe orang di kantor. Kantor tu tujuannya cuman "cari duit", kalo urusannya sama duit tu ada aja cara yang dilakuin.

Ketika lu udah tau siapa aja orang-orang yang berpotensi mengganggu karir/pekerjaan lu, segera pasang "tembok" buat mereka. Entah itu minimalisir interaksi, siapkan "peluru" lebih banyak dari dia, atau ga terlibat komunikasi apapun sama dia. Fokus sama orang-orang yang bisa mendukung karir lu jadi lebih baik dan kerjaan lu jadi lebih ringan aja.

3. Memahami budaya kerja

Budaya kerja ga cuman soal politik kantornya, doang. Tapi pola komunikasi dan koordinasi antar rekan kerja penting untuk dipahami. Ini bakalan jadi ujung tombak kualitas kerjaan lu nantinya. Semakin paham lu sama budaya kerja di kantor baru, semakin bekurang stress yang akan lu rasakan.

Paling krusial sih memahami cara komunikasi atasan lu kayak gimana. Ada yang bisa ngasih tugasnya secara tersirat, ada yang spesifik, ada yang perlu digali banget. Dengan lebih cepat memahami cara komunikasi atasan, lu bakalan lebih mudah untuk memenuhi ekspektasi mereka.

Memahami budaya kerja juga penting biar kamu ga dicap ga bisa kerja. Apalagi kalo tugas lu banyak revisi terus sama atasan lu. Jadi kalo bisa komunikasikan/gali keperluan atasan lu selengkap mungkin. Apalagi kalo atasan lu itu orangnya detail banget.

***

Sebagai karyawan baru, gue rasa 3 bulan waktu yang cukup untuk belajar 3 hal itu. Kalo lu ga bisa beradaptasi sama lingkungan yang baru dengan cepat, gue khawatir karir lu bakalan pendek di kantor baru. Jangan sampai hanya karna 1-2 hal, bikin mental lu jadi loyo. Kuatkan mental lu biar punya karir yang panjang.

Dunia kerja emang beda dari dunia sekolah dan dunia kuliah. Jangan dianggap sebagai dunia yang bisa lu jalani dengan main-main. Saat lu masuk dunia kerja, karir dan masa depan lu dipertaruhkan di hari pertama. Kalo lu ga bisa memosisikan diri dengan baik, jalan lu ke depan bakalan lebih berat dari sebelumnya

Toko Bahan Kue Bisa Rawan Rayap Jika Banyak Kardus Stok Disimpan di Area Lembap

Toko bahan kue biasanya memiliki banyak stok seperti tepung, gula, cokelat, kemasan kue, dus, paper cup, plastik packing, hingga perlengkapan baking lainnya. Sebagian besar stok tersebut disimpan dalam kardus, box, atau rak penyimpanan agar mudah dicari saat dibutuhkan.

Namun, jika area gudang toko lembap dan tumpukan kardus jarang dipindahkan, risiko rayap bisa meningkat. Rayap menyukai material berbahan selulosa seperti kardus, kertas, dan kayu. Jika tidak dicek secara rutin, kerusakan bisa muncul dari bagian bawah tumpukan tanpa langsung terlihat.


Kenapa Toko Bahan Kue Bisa Rawan Rayap?

Toko bahan kue sering memiliki area penyimpanan yang cukup padat. Kardus stok biasanya disusun rapat, menempel ke dinding, atau diletakkan langsung di lantai agar ruang gudang lebih hemat.

Masalahnya, jika lantai lembap atau dinding mengalami rembes, bagian bawah kardus bisa menjadi titik yang disukai rayap. Dari area tersebut, rayap bisa menyebar ke rak kayu, meja kasir, kabinet, atau area display toko.

Kardus dan Kemasan Kertas Bisa Menambah Risiko

Banyak perlengkapan toko bahan kue menggunakan kemasan berbahan kertas, seperti box kue, paper cup, label, nota, dan dus packing. Barang-barang ini bisa menjadi sumber makanan tambahan bagi rayap jika disimpan terlalu lama di area lembap.

Kerusakan biasanya dimulai dari bagian bawah tumpukan. Kardus bisa menjadi rapuh, berlubang, atau mudah hancur saat diangkat. Jika dibiarkan, kerusakan bisa mengganggu stok dan kerapian gudang.

Rak Penyimpanan Perlu Dicek Secara Rutin

Rak kayu atau rak berbahan kayu olahan di toko bahan kue juga perlu diperhatikan. Bagian bawah rak, belakang rak, dan sudut yang menempel ke dinding sering menjadi area yang jarang terlihat saat pembersihan harian.

Tanda awal yang perlu diperhatikan adalah munculnya serbuk halus, jalur tanah kecil di sudut dinding, kardus rusak, atau rak kayu terdengar kopong saat diketuk.

Jangan Hanya Fokus pada Kebersihan Produk

Toko bahan kue memang perlu menjaga kebersihan produk dan area display. Namun, bagian gudang, bawah rak, belakang meja, dan sudut penyimpanan juga tidak boleh diabaikan.

Jika hanya membuang kardus yang rusak tanpa memeriksa sumber masalahnya, rayap bisa tetap aktif dan menyerang area lain di dalam toko.

Cara Mengurangi Risiko Rayap di Toko Bahan Kue

Langkah pertama adalah jangan menumpuk kardus langsung di lantai. Gunakan rak penyimpanan yang memiliki jarak dari lantai agar area bawah lebih mudah dibersihkan.

Kedua, beri jarak antara stok barang dan dinding. Jarak kecil ini membantu sirkulasi udara dan memudahkan pengecekan jika muncul tanda awal rayap.

Ketiga, pastikan area toko dan gudang tetap kering. Jika ada dinding rembes, plafon bocor, atau lantai sering lembap, segera perbaiki sumber masalahnya.

Jika mulai muncul tanda seperti kardus rusak, serbuk halus, jalur tanah, atau rak kayu mulai kopong, layanan jasa pembasmi rayap surabaya bisa menjadi pilihan untuk membantu mencegah kerusakan menyebar ke area toko lainnya.

Kesimpulan

Toko bahan kue bisa menjadi area rawan rayap jika banyak kardus stok dan kemasan kertas disimpan di gudang yang lembap. Kerusakan bisa berdampak pada kerapian stok, kemasan produk, dan operasional toko.

Dengan menjaga gudang tetap kering, menyusun stok di rak, dan rutin memeriksa tanda awal rayap, risiko kerusakan akibat rayap bisa dikurangi sejak dini.

Koleksi Kartu Pokemon

Selain menulis sekarang ngoleksi kartu pokemon jadi hobi baru gue. Koleksinya juga bukan beli per kartu, tapi koleksi dari set box yang gue beli. Karena memang aslinya cuman kepengen ngerasain sensasi brewek pack kartunya doang. Urusan dapat kartu bagus/ga, itu jadi bonus aja.

Dulu cuman menulis yang therapheutic buat gue, sekarang brewek kartu pokemon dan kartu bola jadi alternatif lainnya. Tapi di sisi lain, hobi ini juga cenderung cukup mahal buat gue. Karena perlu modal yang cukup tebal untuk bisa menikmati hobi ini dengan nyaman.

Meskipun begitu, gue ga mau nunggu punya modal tebal dulu. Gue nyicil aja untuk punya beberapa koleksi incaran. Ada yang dikoleksi secara booster box, set kolektor atau sekadar loose pack (ketengan) aja. Untuk koleksi tertentu, kemungkinan akan gue koleksi secara box. Konsekuensinya harus punya budget besar untuk bisa punya set kayak begitu. Untuk set yang ga terlalu menarik buat gue, biasanya akan gue koleksi secara ketengan aja.

Tujuan utamanya sebenarnya untuk mendapatkan pengalaman brewek (buka pack) aja. Sensasi mendapatkan kartu-kartu langka hasil dari pilihan sendiri itu beda banget. Karena gue pribadi juga ga ada kartu incaran di koleksi kartu pokemon ini. Kalo emang ada kartu incaran, mungkin gue akan beli langsung aja. Lebih murah dan lebih cepet dapetnya juga.

Sebenarnya harga kartu pokemon set Indonesia itu cukup terjangkau buat gue. Variasi set produknya juga lumayan banyak. Ada yang set booster box (isi 10 pack untuk high class booster box dan isi 30 pack untuk booster box biasa). Ada set kolektor yang berisi 10 pack kartu dan 1 pack kartu promo eksklusif.

Tapi karena ekosistem kolektornya ditunggangi sama scalper alias tukang timbun, harganya jadi ga karu-karuan sekarang. Waktu gue masuk lewat set Ledakan Peniada, harga MSRP untuk 1 booster box itu harusnya cuman 600ribu. Gara-gara ditimbun sama scalper, harganya "terbang" jadi sejuta! Ga kira-kira kalo nyari untung!

Karna harganya udah dimark-up gila-gilaan, akhirnya kartu-kartu ini jadi ga affordable lagi buat dijangkau sama komunitasnya. Kalo scalper-scalper ini ga segera diantisipasi, bisa-bisa makin lama ekosistem dan komunitas pencinta TCG Pokemon bakalan habis. Sisanya hanya scalper yang nyari untung doang. Akhirnya TCG Pokemon bakalan ditinggalkan sama penggemarnya, deh.

Inilah salah satu sisi gelap dunia kolektor yang udah disusupin sama pencari untung. Padahal, fondasi dasar kolektor itu ya hobi. Kalo sudah hobi, ga ada istilah "nyari untung" di dalamnya. Karena ini hanya berdasarkan kesenangan personalnya masing-masing. Tapi ketika hobi ini diliat sebagai sebuah tempat untuk berinvestasi, sudut pandangnya jadi berubah. Udah ga lagi dianggap sebagai sebuah hobi koleksi, tapi sebagai alat untuk mengeruk keuntungan saja.

Belum lagi tcg pokemon dipromoin sama influencer FOMO yang mendadak jadi ahli kartu pokemon padahal dulunya ga pernah ngomongin tcg sama sekali. Cuman pake modal followers banyak, langsung jadi hobbies dan gilanya langsung menanamkan dibenak newbie kalo ini investasi yang menguntungkan.

Udah mah jadi influencer, sekarang malah ikut-ikutan nyari cuan dengan jualan kartunya juga. Tapi pinter, yang dijual bukan tcg pokemon indonesia, mereka jualnya kartu pokemon luar semua. Tapi tetap aja harganya juga dinaikin biar cuan gede. Jualannya di youtube lagi, nyalain fitur swaer daring juga, ada adsense juga. Cuannya 3 kali lipat brok! 

Well, i guess thats previlage for being influencer.

Gue sih ga masalah kalo ada yang nyari untung dari jualan sesuatu. Gue juga punya dagangan, kalo dagang ga untung ya dapet capenya doang buat apa? Tapi kalo nyari untungnya gila-gilaan sampe kasih harga ga masuk akal, jatohnya jadi janggal dan keliatan banget greedy-nya.

Kalo emang mau bikin ekosistem dan komunitas ini tetap sehat dan hidup, rawat dengan baik. Gue percaya, apa yang ditanam itu juga yang dituai. If you give good, you'll get good too. Tapi kalo dari awal niat lu udah ga bagus, lu akan nerima akibatnya di akhir. 

Gue pribadi sih ga mau beli stok dari scalper. Kecuali kalo terpaksa banget dan ga ada pilihan lainnya. Selama masih bisa dapat harga yang wajar, scalper FOMO ga akan pernah dapat kesempatan untuk ngambil duit gue.

Masalah scalper itu hal pertama yang perlu dihadapi oleh kolektor tcg pokemon. Selain scalper juga ada produsen kartu abal-abal dan tukang repack tcg pokemon. Kartu abal-abal tau lah maksudnya, kan? Produsen kartu palsu yang dijual harga normal kayak kartu aslinya. Atau bahkan lebih murah, tapi ini justru mencurigakan banget.

Repack box/kartu juga potensi masalah lainnya. Ada isu kalo tcg pokemon luar, terutama seri Jepang, dalamnya sudah dalam kondisi repack atau dikemas ulang. Isi dalam packnya diambil hit cardnya, kemudian di-sealed ulang untuk dijual ke kolektor tanpa bisa mendapatkan hit card-nya. Ini sih jatohnya udah kriminal kalo emang bener kejadian, ya.

Bahkan teknologi repack-nya udah makin canggih. Ada yang bisa print box tcg pokemon mirip banget sama aslinya. Kalo dari konten-konten yang seliwiran di medsos, cirinya bahkan ga bisa diliat sekilasan doang. Harus bener-bener ngebandingin sama box yang asli. Karena bedanya tu tipis banget cenderung ga keliatan kalo ga ada pembandingnya.

Gue cuman takut komunitas dan ekosistemnya jadi makin rusak kalo ga segera diperangin sama-sama. Kalo berharap dari Pokemon Company-nya doang yang bisa mengatasi hal ini sih susah juga. Mereka ga bisa gerak sendirian untuk perang sama oknum-oknum. Harus jalan bareng, bersama komunitasnya juga diajak/dirangkul.

Sebenarnya masih ada banyak pembahasan terkait hobi koleksi tcg pokemon ini. Tapi untuk kali ini, cukup sampai di sini dulu aja. 

Kalo menurut lu sendiri, apakah hobi yang lu lakuin udah bisa dikatakan "murah" ketika bisa mendapatkannya dengan harga yang ga dimahalin gila-gilaan? Atau justru lebih ga sehat lagi dari tcg pokemon? Coba tulis di komentar, ya!

Terlalu Positive Thinking Itu Berbahaya

Salah satu yang gue pelajari berdasarkan kebiasaan orang rumah adalah tidak selalu memandang negatif orang lain. Pandangan ini gue dapatkan karena orang tua gue hampir selalu memandang negatif orang lain. Apapun yang dilakukannya, jarang sekali mendapatkan apresiasi. Selalu ada yang salah, selalu ada komentar negatif.

Makanya ketika berada di luar rumah, gue selalu berusaha untuk berpositive thingking terhadap orang lain. Apapun yang dia lakukan, gue berusaha untuk tidak berkomentar negatif. Gue berusaha untuk adil sejak dalam pikiran aja.

Awalnya gue kepengen sesuatu berjalan sesuai dengan pikiran gue. Kalo gue berlaku adil sejak dalam pikiran gue, orang pun juga akan berlaku sama terhadap gue. Diapun akan tetap sama berlaku adil dan ga akan ada niat jahatnya. Tapi, emang bener apa kata orang-orang: jangan berharap sama manusia.

Kalo kita berharap sama manusia, akan banyak kecewanya. Ga semua orang bertindak sesuai dengan harapan kita. Karena mereka manusia, punya akal dan pikirannya sendiri. Ga mungkin kita bisa kendalikan, apalagi kita juga sama-sama manusia, kan?

Emang bener ya, yang "terlalu" itu pasti ga baik. Karna gue terlalu berpikiran positif sama orang lain malah bikin celaka. Yang kejadian di gue sih bukan celaka secara fisik, ya. Tapi gue yakin ada aja yang fisiknya jadi karna pemikiran serupa kayak gue ini. Kalo gue sih yang kena lebih ke mentalnya, ya.

Terlalu berpositif thinking bikin gue jadi polos banget menilai seseorang. Menganggap semua orang itu ga punya niat jahat sama sekali. Anggapan yang fatal banget karena ga semua orang, pemikirannya kayak gue. Sayangnya ga cuman 1 orang yang gue anggap ga punya niat jahat. 

Gara-gara terlalu polos menilai orang lain ini, jadinya gue sendiri yang terjerumus.

Sesederhana berbagi informasi kompetisi saat kompetisinya masih berlangsung. Gue mencoba berniat baik untuk ngasih tau info yang ga ada di ketentuan ke temen-temen yang ikutan lomba. Dengan harapan mereka ga bakal nikung gue saat lomba berlangsung.

Ternyata, anggapan ini terlalu polos gue pikirkan.

Saat itu, posisinya gue ada di peringkat ketiga dan dia ada di peringkat empat. Begitu gue kasih info tentang lombanya, eh gue malah dibalap sama dia! Sekarang posisinya gue di peringkat empat. 

Terlalu polos bikin gue salah menilai orang lain.

Ga semua orang niatnya setulus itu. Semua punya kepentingannya masing-masing. Bahkan kalo perlu menyingkirkan orang lain untuk memuluskan kepentingan pribadi. Gue rasa sih hal kayak gini ga cuman terjadi di dalam kompetisi/lomba doang. Di dunia kerja dan dalam bidang lain juga sama aja.

Ada orang yang dengan sadar memanfaatkan kebaikan orang lain untuk keuntungan pribadi. Padahal, ada yang dengan niat hati untuk mengembangkan komunitas sama-sama. Ternyata ada juga yang manfaatin komunitas untuk portofolio pribadinya saja.

Kendaraannya memang sama, tapi tujuannya sampai beda-beda.

Suatu saat, kalo gue udah ngeliat ga ada harapan lagi buat perkumpulan itu berkembang, gue akan keluar. Tapi selama gue masih ada tenaga untuk ngebangun dan ngembanginnya, akan gue perjuangkan sampe akhir.

Gue pengennya semua yang ada di komunitas punya kesempatan yang sama. Ga cuman yang itu-itu aja yang dapatin previlage -nya. Kalo pengen eksklusif kayak gitu, gausah rekrut anggota baru. Lu lu pada aja yang ada di sono, biar lu lu doang yang dapet semuanya.

Sama halnya kayak tempat lu kerja. Bersaing sama rekan kerja secara sehat mah wajar-wajar aja. Di kantor akan selalu ada yang namanya "politik kantor" dan itu normal. Apalagi ini urusannya sama perut masing-masing. Tapi kalo udah saling sikut, saling manfaatin, fitnah sana sini, itu udah ga sehat namanya.

Kalo lu ngerasa lingkungan sekitar lu udah terlalu toksik, segera menjauh dari sana. Jangan biarkan diri lu terpapar lebih lama sama orang-orang seperti itu. Kalo masih belum bisa menjauh, minimalkan interaksi atau bentengi diri lu sama mindset-mindset yang kuat.

Intinya, mulai sekarang udah ga bisa lagi 100% berprasangka baik sama orang lain. Entah itu sama temen sendiri apalagi orang lain yang baru dikenal. Trus kalo punya info yang kalo keluar bisa bikin saingan lu jadi lebih unggul, mending simpan buat diri sendiri aja. Terakhir, Tinggalin temen/lingkungan toksik secepatnya, atau ubah pola pikir biar ga ikut terpapar toksik.

Merenungi Mindset Perencanaan Keuangan Yang Gue Miliki

Selama mulai mengenal yang namanya "perencanaan keuangan", jadi makin berhitung terhadap pengeluaran dan pemasukan yang terjadi. Bukan pelit, tapi pengen melihat sejauh apa kita bisa menggunakan uang yang kita punya. Apakah hanya disimpan untuk ditabung dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari kayak makan dan jajan. Atau dibelanjakan ke hal-hal yang impulsif.

Awalnya mindset yang gue miliki adalah "Mending nabung duitnya untuk bisa dipake liburan dan jajan impulsif saat liburan". Yang gue pertahankan selama ini seperti itu,  sebelum mengenal kartu pokemon atau trading card game pada umumnya. Apakah gue sepelit itu? Ga juga, gue tetep jajan tapi terkontrol untuk pengeluaranya, terlebih pemasukannya juga lumayan.

Seiring berjalannya waktu, terlebih setelah mengenal hobi baru itu, gue mulai memikirkan ulang mindset yang tadi. Apakah emang harus seketat itu untuk mengatur pengeluaran gue? Emang uang yang gue simpen bakalan bisa bertahan lama? Terlebih nilainya dengan dollar makin lama makin turun. Lama-lama bakalan ga ada harganya ini duit.

Apalagi negara ini dipimpin sama presiden yang ga terlalu ngerti soal ekonomi. Jadinya makin ruwet perekonomian rakyatnya. Dia taunya cuman program makan gratisnya jalan doang, ga peduli rakyatnya udah ketindih sana sini. Udah harga barang-barang pada naik, kebijakannya ngaco banget lagi. Korbannya ya rakyat kecil, dong!

Gue pernah baca 1 kalimat di twitter yang bilang "yang namanya baterry health iphone udah pasti berkurang kalo dipake! kalo gamau berkurang, ya jangan dipake".

Jujur ini gue setuju, sih. Dimana-mana kalo sesuatu yang dipake harian itu, fungsinya akan menurun pelan-pelan. Tanda kalo iphone dipake yang battery health-nya berkurang. Wajar banget, dan ga perlu khawatir. Karna kita emang pake fungsinya buat keperluan sehari-hari.

Nah, pola pikir yang gue coba pake di manajemen pengeluaran sekarang. Duit emang bakalan berkurang kalo dipake. Wajar banget namanya juga dibelanjain, udah pasti berkurang dong? 

Hal yang bikin gue agak kurang nyaman itu spent yang cukup besar di bulan ini. Bahkan cenderung bisa bikin minus neraca keuangan bulan ini. Meskipun secara keseluruhan tabungan masih aman. Cuman ada rasa ga nyaman untuk ngeluarin duit sebanyak itu. Tapi gue seneng banget begitu dapat barangnya. Jadi agak paradoks memang.

Bisa jadi rasa ga nyaman itu muncul karena sebelum ga pernah spent uang sebanyak ini. Bahkan bisa dibilang terbanyak selama gue mencoba mengatur keuangan. Karena sebelum gue menghitung pengeluaran ini, ga pernah ngitung pengeluarannya wahahhaa!

Secara nomor rekening sih masih ada di angka aman, ya.

Mungkin perasaan paradoks ini emang sudah seharusnya "diterima" aja, ya. Mau itu perasaan janggal karena pengeluaran yang cukup besar bulan ini. Atau pun perasaan seneng ketika bisa dapatin produk yang udah kita beli itu. Karena memang begitulah seharusnya.

Ketika ngeluarin uang, ada rasa sedih karena ada nominal yang berkurang. Tapi ketika udah dapet barangnya, justru bikin bahagia karena kita bisa beli apa yang kita mau. Semua perasaan itu akan gue syukuri semuanya.

Gue bersyukur ada kemampuan (uang) untuk bisa beli apa yang gue pengen. Gue bersyukur bisa dapatin apa yang gue mau. Ga banyak orang yang bisa merasakan seperti itu. Ga perlu pelit sama diri sendiri, karena buat siapa lagi kita kerja siang-malam kalo ga buat diri sendiri dan keluarga?

Tapi, gue juga ngerti perasaan lu yang hari ini masih belum bisa mewujudkan keinginan lu. Gue bersimpati, karena gue pun juga merasakan hal yang sama. Ga semua hal bisa diwujudkan untuk saat ini. Gapapa dan wajar banget, kok. Di situlah seninya berusaha dan berdoa, kan?

Gapapa punya neraca keuangan yang ga seimbang. Asalkan bisa ngeliat keluarga kita masih bisa senyum, bahagia dan ketawa-ketawa. Itu jauh lebih mahal harganya daripada sekadar pundi-pundi rekening yang ga seberapa berkurang itu.

Tips Memilih Laptop untuk Travelling Lengkap dengan Rekomendasi Terbaik

Mobilitas yang semakin tinggi membuat kebutuhan laptop ikut berubah, terutama untuk pekerjaan remote yang bisa dilakukan dari mana saja. Laptop untuk perjalanan tidak hanya dituntut cepat, tetapi juga ringan, efisien, dan siap digunakan di berbagai kondisi. Sehingga, laptop traveling menjadi kategori yang paling sering dipilih karena mengutamakan performa, daya tahan baterai, serta kemudahan dibawa tanpa mengorbankan kenyamanan kerja.

laptop travelling

Tips Memilih Laptop untuk Travelling

Dalam memilih perangkat untuk mobilitas tinggi, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pengalaman penggunaan tetap stabil di berbagai tempat. Berikut adalah tips dalam memilih laptop untuk traveling.

1. Bobot Ringan dan Desain Ringkas

Laptop dengan bobot di bawah 1,5 kg lebih ideal untuk perjalanan karena tidak membebani saat dibawa dalam tas. Desain yang tipis juga membantu saat digunakan di ruang terbatas seperti transportasi umum atau meja kecil di area publik. 

2. Daya Tahan Baterai Panjang

Ketersediaan sumber listrik tidak dapat selalu dipastikan saat bepergian. Karena itu, laptop dengan baterai besar menjadi hal yang penting. Kapasitas 70WHrs atau lebih umumnya mampu mendukung penggunaan sepanjang hari untuk aktivitas seperti pekerjaan kantor, presentasi, hingga komunikasi online ketika traveling.

3. Konektivitas Lengkap 

Port yang lengkap seperti USB Type-C, HDMI, dan dukungan Wi-Fi generasi terbaru sangat membantu dalam mendukung produktivitas. Konektivitas yang baik memastikan laptop tetap fleksibel saat terhubung dengan berbagai perangkat tambahan maupun jaringan internet di lokasi yang berbeda.

4. Performa Seimbang untuk Multitasking

Laptop untuk perjalanan tidak selalu membutuhkan spesifikasi tertinggi, tetapi harus cukup stabil untuk multitasking. Prosesor modern dengan dukungan RAM minimal 16GB memberikan ruang yang cukup untuk menjalankan berbagai aplikasi secara bersamaan tanpa hambatan.

Rekomendasi Laptop Terbaik untuk Traveling

Setelah memahami faktor utama tersebut, berikut beberapa rekomendasi laptop yang dapat menjadi pertimbangan untuk kebutuhan perjalanan dengan berbagai karakter penggunaan. Namun, penting untuk dipahami bahwa setiap laptop memiliki spesifikasi berbeda dalam hal desain, efisiensi, dan performa, sehingga pemilihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

1. ASUS Vivobook S 14 (M3407)

laptop travelling

ASUS Vivobook S 14 (M3407) menjadi salah satu opsi yang menyeimbangkan antara performa dan efisiensi daya dalam bentuk yang tetap ringkas. Laptop ini menggunakan prosesor AMD Ryzen™ AI 7 445 dengan dukungan AMD Radeon Graphics, dipadukan dengan RAM 16GB DDR5 serta penyimpanan 512GB SSD PCIe 4.0 yang cukup responsif untuk kebutuhan kerja harian.

Layar 14 inci WUXGA dengan opsi OLED atau IPS-level memberikan fleksibilitas visual sesuai kebutuhan. Dari sisi konektivitas, perangkat ini sudah mendukung Wi-Fi 6 serta Bluetooth 5.4, ditambah port yang cukup lengkap seperti USB Type-C, USB Type-A, dan HDMI 2.1. Baterai 70WHrs memberikan daya tahan yang cukup panjang untuk penggunaan mobilitas tinggi. Bobot sekitar 1,4 kg masih tergolong nyaman untuk dibawa bepergian. Harga laptop ini berada mulai di kisaran Rp13 jutaan. 

2. ASUS Vivobook S 14 OLED (M5406)

Laptop travelling

ASUS Vivobook S 14 OLED (M5406) menawarkan peningkatan dari sisi efisiensi dan kapasitas penyimpanan. Laptop ini menggunakan AMD Ryzen™ AI 7 350 dengan RAM hingga 24GB LPDDR5X dan SSD 1TB PCIe 4.0 yang lebih lega untuk kebutuhan file besar selama perjalanan.

Layar 14 inci WUXGA OLED memberikan kualitas visual yang lebih tajam, sementara bobot 1,3 kg membuatnya sedikit lebih ringan dibandingkan generasi sebelumnya. Baterai 75WHrs mendukung penggunaan lebih lama dalam aktivitas harian. Dukungan konektivitas seperti USB 4.0 Gen 3 Type-C memberikan fleksibilitas tambahan untuk perangkat eksternal. Harga berada di kisaran mulai dari sekitar Rp15 jutaan.

3. ASUS Zenbook A14 (UX3407)

laptop travelling

ASUS Zenbook A14 (UX3407) dirancang dengan fokus pada mobilitas maksimal. Bobotnya yang hanya sekitar 0,89 hingga 0,9 kg menjadikannya salah satu laptop paling ringan di kelasnya. Prosesor Snapdragon® X Plus X1P 42 100 berbasis ARM menawarkan efisiensi daya tinggi yang mendukung penggunaan panjang tanpa sering mengisi daya.

Perangkat ini dilengkapi layar 14 inci WUXGA dengan pilihan panel OLED atau IPS-level, serta dukungan Wi-Fi 7 yang sudah siap untuk konektivitas masa depan. Meski baterainya 48WHrs lebih kecil dibanding model lain, efisiensi sistem membuat daya tahan tetap optimal untuk penggunaan harian. Harga perangkat ini berada di kisaran Rp18 jutaan.

Laptop untuk kebutuhan traveling idealnya memiliki keseimbangan antara bobot ringan, daya tahan baterai, serta performa yang cukup untuk menunjang aktivitas harian. Beberapa rekomendasi di atas dapat menjadi bahan pertimbangan sesuai kebutuhan. Namun, penting untuk memahami terlebih dahulu apa kebutuhan pekerjaan Anda selama dalam perjalanan. Sehingga, pemilihan laptop dapat disesuaikan agar aktivitas tetap berjalan lancar tanpa mengorbankan kenyamanan.

Hal-Hal Yang Dilarang Dilakukan Di Tempat Kerja

Ketika udah masuk ke dunia kerja, lu bakalan "berperan" di sana. Gue jamin lu ga bakalan bisa jadi diri lu seutuhnya. Lu ga bakalan bisa se-idealis yang lu kira. Lu bakalan menjadi "orang lain" yang mungkin lu ga suka pada awalnya. Namanya juga lagi bermain peran, mau ga mau harus lu lakuin.

Kalo lu udah masuk dunia kerja, lu akan masuk ke dalam "politik kantor". Ketika lu udah berpolitik, barti lu harus bisa memilih pihak yang mendukung karir lu sejauh mungkin. Netral mungkin bisa, asal lingkungannya juga ngedukung. Kalo ga, barti mau ga mau lu harus punya back up.

Anyway, untuk mendukung politik kantor yang akan lu lakuin, setidaknya ada beberapa hal yang ga boleh lu lakuin di kantor:

1. Jadi Biang Gosip!

Ketika ada yang mancing-mancing lu untuk nyeritain kejadian di kantor, jangan ceritain! Apapun ceritanya sama siapa pun! Meskipun menurut lu itu sahabat lu sendiri di kantor, never trust anyone! Setiap dinding kantor punya telinga. Sekali aja lu nyebarin gosip, mau itu fakta/ga, habis reputasi lu. Bakalan dicap 1 kantor jadi biang gosip dan ga akan ada lagi yang mau cerita sama lu.

Pro tips: kalo lu tau gosip kantor apapun, simpan buat lu aja. Ga perlu lu konfirmasi, ga perlu lu validasi, apalagi lu ceritain ke orang lain, ga perlu! Diem aja kalo ada gosip apapun. Kalo ada yang nyeritain lu soal gossip kantor, kasih komentar netral aja. Atau kalo lu penasaran, bisa tanya dikit "emang lu tau darimana yang kayak gitu?" Biasanya kayak gitu nanti makin banyak cerita yang keluar wahahaha!

2. Show Off Skill

Kalo punya skill yang di atas rata-rata (apalagi bisa bikin lu dapat duit di luar kerjaan utama) tapi ga relevan sama kerjaan lu, simpen aja! Soalnya kalo orang kantor pada tau, bakalan dimanfaatin untuk ngerjain job desk yang harusnya dikerjakan sama orang lain! Ntar yang ada, kerjaan lu makin banyak, gaji lu segitu-gitu aja!

Biarkan skill dan ilmu lu yang relevan dikerjaan yang bikin lu meniti karir dari bawah. Bukan karena skill yang ga relevan sama job desk lu yang bikin lu bertahan di sana. Mau lu sebutuh validasi apapun sama orang kantor terhadap keahlian lu itu, bertahan dan simpan aja!

3. Punya Penghasilan Sampingan

Kalo lu punya kerjaan sampingan daripada kerjaan utama, ga perlu dikasih tau ke orang kantor. Ga cuman takut dimintain tolong secara gratis, tapi ini demi karir lu yang lebih baik. Kok bisa?

Tidak hanya takut dimintain untuk ngerjainnya secara gratis aja, tapi juga demi karir lu sendiri. Kita ga tau rekan kerja itu kayak gimana niatnya. Mau mereka emang niatnya baik atau ga, lebih baik diam aja soal penghasilan sampingan lu ini.

Kenapa?

Karena, bisa jadi saat ada diskusi soal kenaikan pangkat/jabatan buat lu ada yang berkomentar "Ah dia ga perlu dinaikin jabatan, Pak/Bu, dia udah punya banyak duit dari penghasilan di luar kantor". Mau konteksnya becanda/ga, itu crab mentality yang akan selalu ada di kantor yang toksik. Bisa jadi, komentar yang konteksnya ga jelas antara becanda/ga itu berpengaruh ke keputusan atasan lu. Bahaya banget.

4. Curhat Soal Kehidupan Pribadi ke Temen Kantor

Ga cuman menunjukkan kalo lu orangnya over sharing, tapi juga justru membuka diri ke dalam bahaya. Karena orang lain jadi bisa masuk ke kehidupan pribadi lu dengan mudah karena udah dibukain pintunya duluan sama lu. Kalo orang kantor udah masuk ke kehidupan pribadi, lu bakalan ga bisa lagi dapat privasi di kantor.

Pada akhirnya akan sangat berpengaruh ke lingkungan kerja lu nantinya. Ketika lu under perform orang-orang bakalan nyalahin lu yang ga bisa misahin kehidupan pribadi dengan urusan kantor. Akhirnya lu akan dicap ga profesional dan disingkirkan. Bahaya banget, kan?

Belum lagi ada temen yang nusuk dari belakang. Ada aja yang manfaatin kondisi kamu yang udah kena mental untuk memprovokasi orang lain biar mentalmu makin tertekan. Jangan heran, orang-orang jahat tu bisa ada dimana aja, asalkan ada duitnya. 

5. Curhat Soal Kerjaan ke Temen Sendiri

Bukan berarti lu ga boleh cerita apapun soal kerjaan juga. Ceritakan yang perlu diceritain aja. Ga perlu semua diceritain, ga perlu semua juga disimpan. Menurut gue sih kalo ada pencapaian dikerjaan lu, ga ada salahnya infoin ke temen. Siapa tau dia punya koneksi dan nyari skill yang ada di elu, dia bakalan rekomendasiin lu langsung.

Tapi kalo kerjaan lu justru membuka aib perusahaan atau aib kerjaan lu sendiri, hati-hati aja ceritanya. Ga semua orang bisa dipercaya, ga semua orang bisa megang rahasia orang lain. Pilih-pilih orang kalo mau cerita, pilih-pilih cerita kalo mau ngobrol ke orang.

**

Saat zaman susah nyari kerjaan sekarang, jangan terlalu banyak gerakan tambahan di tempat kerja lu. Kalo ada negatif-negatifnya dikit tapi kerjaannya enak, tahan dulu aja karna lu masih butuh gajinya. Fokus sama kerjaan dan karir lu aja, demi masa depan lu juga. 

Bukan berarti lu ga boleh bergaul di tempat kerja, tapi tetap berhati-hati dalam bergaul. Karena dunia kerja itu beda banget dari dunia nyata. Ada politiknya, ada intriknya, ada berbagai macam cara untuk saling menjatuhkan. Kalo lu ga punya survival skill di kantor, lu yang bakalan kena libas sama kompetitor lu.

Refleksi Dari Kejadian Masa Lalu

Gue pernah ikutan salah satu kegiatan kampanye blogger cinta lingkungan beberapa tahun yang lalu. Salah satu kampanye yang "gue banget" yang menggabungkan 2 hal yang relevan banget sama gue: lingkungan hidup dan menulis. Makanya seneng banget bisa ikutan kegiatan ini, meskipun hanya daring.

Kampanye yang bisa dibilang "paket lengkap": dapat ilmu, menulis hal yang gue suka, ketemu temen-temen yang sama minatnya di tulisan dan cinta lingkungan DAN dibayar pula! Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Kegiatan ini berjalan sebanyak 3 season, tapi gue cuman ikutan 2 season aja. Nah, di season 2 itu terjadi hal yang kurang mengenakkan buat gue pribadi. Begini ceritanya:

Waktu menjelang akhir season 2 kampanye ini, dari panitianya bilang bakalan ada acara yang mengundang seluruh blogger untuk dikumpulin dalam 1 tempat dan seru-seruan di sana. Semacam ada seminar atau workshop gitu modelannya. Siapa yang ga seneng dengerin hal ini? Apalagi kalo diberangkatin sama mereka juga, kan?

Semakin yakin bakalan ikut karena ada email pemberitahuan terkait rencana kegiatannya. Artinya udah fix banget nih acaranya ya kann? Pede dan udah siap banget untuk ikutan acaranya gue!

Tapi, semua itu berubah setelah mendekati hari H ga ada konfirmasi lagi. Karena penasaran, gue coba follow up lah ke panitianya. Setelah itu, balesannya adalah "maaf ka, kaka ga bisa ikut karena kami salah data".

Sakit hati ga lu digituin? Kenapa ga bilang dari awal aja kalo emang ga bisa ikutan, sih? Masa nunggu ditanyain dulu baru ngasih tau, njir? Aneh banget panitianya ga profesional! Kalo dikasih tau dari awal ga bisa ikutan, gue ga akan seberharap ini bisa berangkat.

Ada marah, kecewa, sedih, tersinggung dikit. Ga mungkin ga tersinggung sih kalo diginiin. Kecuali lu yang jadi panitianya, mungkin ngerasanya biasa aja kali, ya? Kalo saja mereka yang duluan ngabarin, mungkin gue ga akan sekecewa itu. Sungguh komunikasi yang buruk dari sebuah panitia acara besar.

Gue bahkan sempat update status di wa dan twitter untuk melampiaskan kekesalan itu. Waktu itu gue nulis "gausah pake komunitas-komunitasan kalo mau berangkat, berangkat ae pake duit sendiri!" Bodo amat mau orangnya baca/ga, yang penting bisa ngeluarin isi hati dulu, biar plong!

Sejak kejadian itu, gue bersumpah sama diri sendiri: kalo mau ke Jakarta atau ke tempat lainnya yang lewat bandara, harus dibayarin sama orang! 

Apalagi bandari di sini waktu itu lagi direnovasi dan jadi kayak bandara yang gede gitu. Jadinya setiap kali ngelewatin bandara itu, gue ngucapin kalimat itu terus. Saking sakit hatinya sama panitia acara itu.

Besokannya gue udah bisa move on dari kekecewaaan itu, dengan tetap menjaga sumpah yang udah gue ucapin. Sumpah itu bertahan hingga beberapa tahun berlalu. Hingga akhirnya sumpahnya dilanggar sendiri karena kepengen nonton konser Avenged Sevenfold. Tentu saja gue berangkatnya pake duit sendiri, dong!

Barulah beberapa tahun kemudian sumpah itu benar-benar "dijalankan". Ketika gue pertama kali ke Makassar karena mengikuti rangkaian kegiatan dari Wikimedia Indonesia. Kalo emang udah jadi rezeki kita, mau sejauh apapun jaraknya, tetap jadi punya kita juga.

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini:

Mungkin aja Tuhan emang perlu "matahin" hati kita sekeras ini, biar kita tau rasanya dapetin apa yang harusnya jadi milik kita dengan rasa yang puas. Bahwa apapun yang bukan ditakdirkan untuk kamu, mau sedekat apapun, pasti ga akan jadi milikmu. Tapi ketika hal itu udah ditakdirkan buatmu, mau sejauh apapun jaraknya, pasti akan jadi mlikmu juga.

Boleh kecewa, boleh marah, boleh nangis, gapapa. Lampiaskan aja untuk memvalidasi perasaan kita, wajar banget. Tapi jangan berlebihan apalagi sampe berlarut-larut dan ngaruh ke lingkungan sekitar lu. Kalo udah kayak gitu, hidup jadi ga sehat barti.

Lampiaskan emosi negatif sewajarnya aja, habis itu move on dan lepaskan bebannya. Fokus sama kehidupan yang akan lu jalanin aja, ga perlu lagi mikirin hal-hal yang bikin lu kecewa. Entar ketemu sendiri jalannya "pengganti" hal yang pernah bikin lu sakit hati itu.

Sabar juga salah satu pelajaran yang gue dapatkan dari kejadian ini. Ga semua yang kita inginkan untuk baik. Kadang, kita tu cuman tau yang kita mau aja, padahal belum tentu kita butuh itu. Tapi karena Tuhan itu Maha Tau, Dia yang nentuin apa yang cocok buat kita. Asalkan kita mau bersabar menerima keadaannya.

Hidup ini emang ga pernah ideal, apalagi buat orang yang terbatas akses sumber dayanya. Harus bisa memanfaatkan sumber daya kita punya agar mendekati batas ideal yang kita inginkan. Hidup kadang ga pernah adil, buat orang-orang yang jujur. Tapi bisa jadi, itulah keadilan yang dia dapatkan karena kejujurannya menjauhkannya dari kejahatan.

Belajarlah untuk menerima keadaan yang tak bisa diubah lagi. Untuk sesuatu yang masih bisa kita ubah, maka usahakanlah semaksimal mungkin. Meskipun ada yang bilang "usaha ga pernah mengkhianati hasil", tetap saja kita harus bisa menerima apapun hasil usaha yang kita lakukan.

Kita bakalan menghadapi hal-hal kayak gitu hampir tiap hari. Siapkan mental sejak dini, biar lu kaget sama situasinya dan lu tau harus ngapain. Reaksi yang terukur, bikin hasil lu bisa diukur juga. Logika lu harus jalan, meskipun saat itu mungkin perasaan lu yang menguasai. Kalo logika bisa jalan, lu bisa milih reaksi terhadap peristiwa yang lu hadapi.

Kartu Pokemon Yang Bikin Impulsif

Siapa di sini yang kalo udah ketemu sama hobinya bisa rela ngeluarin budget lebih dari yang semestinya? Gue yakin ada orang yang kayak begini juga. Ketika lagi nulis artikel ini, gue baru saja melewati fase ini. Impulsif sekali ketika menggeluti hobi baru. By the way, hobi yang gue maksud adalah koleksi TCG Pokemon.

Ketika influener dan buzzer-buzzer bermunculan di media sosial mempromosikan TCG Pokemon, awalnya ga begitu tertarik. Namun, karena video-videonya sering banget lewat di fyp tiktok ataupun instagram, akhirnya terpengaruh beneran! Kacau emang.

Gue coba-coba riset sendiri emang apaan sih TCG Pokemon ini? 

Intinya sih koleksi kartu dari pokemon-pokemon generasi pertama sampai yang terbaru. Setiap kartu ada tingkat kelangkaannya sendiri. Ada yang levelnya biasa aja sampai yang paling langka biasanya kartunya berwarna emas dengan tingkat kelangkaan MUR (Mega Ultra Rare).

Para kolektor biasanya memburu kartu-kartu yang langka kayak begini. Pada set kartu tertentu ada MUR yang seru untuk dikoleksi kayak kartu yang menampilkan Charizard atau Pikachu. Ada juga MUR yang "biasa" aja untuk dikoleksi, biasanya di set-set kartu yang biasa aja.

Berburu kartu-kartu langka ini yang bikin ketagihan. Semakin ga dapet kartunya makin ekstrim level penasarannya. Kalo udah ekstrim begitu sih menurut gue, udah tipis-tipis mengarah ke judi. Karena kita sama-sama ga tau kapan bisa dapat kartu yang kita cari.

Ketika gue mulai riset, seri set kartu Ledakan Peniada mau rilis banget, sekitar H-3 tanggal rilisnya. Gue ga tau kalo sistem beli kartu pokemon indonesia itu harus ikutan pre order dulu. Orang-orang pada ikutan pre order H-3 minggu sebelum tanggal rilisnya! Kan gue ga tau ya, jadi ya sebodoh-bodohnya gue nanya aja ke pihak-pihak berwenang itu untuk mau beli.

Ternyata katanya udah close order semua, dong! 

Ga cuman nanya ke admin-admin yang jualan kartu pokemon doang, gue juga cari offline. Gue cari di toko mainan di mall kota ini ketika tanggal rilis Ledakan Peniada, dua toko mainan, keduanya kosong. Itu di hrai pertama rilis, udah kosong! Gila banget emang. Kayaknya kartu pokemon set ini udah overhype deh! Jadinya yang pengen ngoleksi beneran ga kebagian.

Trus siapa yang ngabisin stoknya? Menurut keyakinan gue, dan banyak orang juga, ada scalper yang sengaja ngeborong dan nimbun stoknya dari awal. Buat apa? Tentu aja dijual lagi setelah stoknya di pasar habis. Ga mungkin pake harga retail jualnya, udah pasti di markup gila-gilaan sama mereka. Namanya bisnis FOMO, jadinya semua orang manfaatin celahnya.

Akhirnya, kolektor-kolektor biasa, pemain kartu pokemon jadinya kesulitan untuk dapatin set ini. Bahkan mau dapatin katur incaran mereka buat dimainin aja ga bisa, karena langka banget orang jual. Kalo pun ada yang jual, udah pasti harganya mahal banget. Sementara mereka ga mungkin mau beli harga kartu yang terlampau tinggi cuman untuk dimainin doang, kan?

Gue pernah liat ada scalper berkedok reseller ngaku dengan polosnya punya stok kolektor set Ledakan Peniada 4case! 1 case itu isinya 6 box kolektor set. Barti dia nimbun 24 box buat dijual dengan harga 2x lipat harga retail! Emang kurang ajar. Pantesan aja di pasar pada kosong stoknya.

Oiya, scalper ini juga bukan cuman orang yang modalnya gede yang bisa dapat. Tapi juga orang dalam dari jaringan distribusi produknya juga ada "main". Gue pernah dapat cerita ada kepala toko retail yang cabangnya ada di seluruh indonesia, inisialnya I belakangnya T, katanya jatah stok kartu pokemon di toko itu udah diborong semua sama dia! Udah gila kali.

Ciri scalper tu gampang banget ditandain: 1. Biasanya pake akun baru (di tiktok/marketplace) bahkan followersnya masih dikit. Ada juga yang pake bekas akun mereka sebelumnya, biar followersnya gede duluan dan keliatan "orang lama". 2. Kalo dia jual 2-5 kali lipat harga retail, itu udah fix mereka. Mau itu jualannya offline ataupun online, kalo harga set paling barunya udah kelewat mahal, barti fix itu hasil timbunan mereka. 

Gue pribadi menghindari banget untuk beli di scalper. Ga mau ngasih makan mereka, ntar mereka jadi tambah banyak. Gue lebih memilih menahan diri untuk ga beli dulu atau sampai ada open PO untuk seri berikutnya aja. Biar dapat harga retail dan bisa menikmati hobi brewek ini dengan nyaman tanpa diganggu sama manusia mata duitan.

Gue ga masalah harganya dinaikin, tapi yang wajar-wajar aja dong. Gue juga tau ini tuh ladang cuan, tapi kok gitu amat sama bangsa sendiri? Gue juga mau beli, gapapa dimahalin dikit paham kok. Untuk set yang udah rilis beberapa tahun sebelumnya, itu masih wajar kalo dikasih harga lebih mahal dikit daripada set yang baru. Tapi harga set yang baru ini mengalahkan harga set yang lama, itu sih udah ga waras.

Gue juga berharapnya lu ga beli di mereka. Kalo pun udah terlanjur yaudah mau gimana lagi? Tahan diri dan kendalikan nafsu biar ga FOMO. Mending nabung duitnya, trus nanti ikutan jalur PO yang disediain sama distributor resmi kartunya. Dengan begitu, lu akan menghidupi komunitasnya dengan sehat dan perlahan bikin mati scalper.


Dunia Kerja Itu Memang Ga Adil

Sebagai manusia normal, sudah sewajarnya kepengen semua haknya terpenuhi. Makanya sampai ada Piagam Hak Asasi Manusia Internasional, kan? Biar semua orang tau bahwa seluruh manusia itu punya hak yang sama dan setara.

Tapi, kita ini hidup di dunia yang ga ideal. Seidealis-idealisnya seseorang, bahkan ada yang ngasih nama "Radikal Idealis" dan akhirnya jadi pemain bola, tetap aja ga ada yang bisa ideal. Namanya juga hidup di dunia, ga semua yang kita pikirkan bisa terjadi/terwujud.

Kasarnya: dunia ini ga adil.

Kalo gue boleh bilang, dunia ini emang jahat. Untuk orang yang terlalu polos dan melihat dunia ini hanya sebatas hitam dan putih saja, bakalan bilang begitu. Tapi wajar, itu bukan khayalan, karema memang sejahat itu kenyataannya. Dunia ga pernah "baik" sama orang yang mentalnya kerupuk.

Kalo lu main gim pasti ada levelnya, kan? Untuk naik ke level yang lebih tinggi, kita mesti memenuhi quest yang ditentukan. Mesti punya experience point yang cukup untuk naik level. Ibaratnya, menghadapi kenyataan bahwa dunia ini ga adil, tuh, kayak mau lawan boss level akhir (anggaplah 100) tapi pengalaman lu masih level 50.

Artinya, secara mental lu masih belum siap untuk menghadapi boss level itu. Itu yang diibaratkan dengan "mental kerupuk" tadi. 

Dunia sekolah dari SD ke SMP aja udah beda "pertarungannya". SMP ke SMA mirip-mirip tapi ke level yang lebih tinggi sedikit. Ketika lu udah kuliah, dunia akan sedikit demi sedikit membuka karakter aslinya. 

Ketika masuk perkuliahan ini lu harusnya gain experience banyak-banyak. Karena di sinilah bekal lu paling akhir sebelum masuk ke dunia paling kejam: dunia kerja. Ketika lu kuliah lu mungkin ngerasa ada yang ga adil sama perlakuan dosen lu. Itu belum seberapa dengan ketidakadllan yang mungkin akan lu liat atau bahkan terima di dunia kerja.

Kalo pengalaman, terutama mental lu, masih cetek akan susah survive di dunia kerja. Kalo lu ga keras sama diri lu sendiri, dunia yang akan keras ke diri lu. Pilihannya cuman itu, tapi jangan sampai pilihan yang kedua kejadian sama lu. Karena itu pasti akan berat banget buat lu.

Se-ga adil ga adilnya dunia ini buat lu, jangan sampai mental lu masih mental kerupuk! Terlebih ketika udah masuk dunia kerja, dunia bakalan keliatan lebih ga adil buat lu yang terlalu menye-menye.

Ingat ini: semesta ga peduli lu mau sesiap apa, pasti bakalan ada aja celahnya untuk nyakitin lu!

Lu cuman perlu menyiapkan mental sekuat mungkin. Bahkan kalo perlu lu latih sejak dini. Bukan berarti membiarkan diri lu untuk di-bully sama orang, ya. Tapi latih diri lu untuk ga lembek sama situasi apapun. Jangan terlena di zona nyaman, keluar dari sana biar lu bisa tau betapa kerasnya dunia sebenarnya.

Apalagi kalo lu ga punya previlage apa-apa selain mengandalkan diri sendiri. Banyak yang kondisinya sama seperti lu, tapi mentalnya kuat-kuat. Jadi jangan merasa kamu doang yang digituin terus pengennya dimanja aja. Ga bisa!

Ketika lu udah masuk dunia kerja lu bakalan banyak ketemu hal-hal ajaib. Ada orang yang keliatan banget ga bisa kerjanya, tapi duduk di posisi strategis. Ternyata punya koneksi sama orang dalam. Ada yang bisa banget kerjanya bagus, hasilnya oke, cuman jad staff bertahun-tahun, ternyata atasannya ga suka. Bahkan, ada juga yang dia nafas aja, orang udah ga suka duluan, padahal kenal pun juga ga. Ada banget yang kayak begitu.

Ga cuman orangnya aja, tapi lu bakalan ketemu kebijakan kantor yang ajaib juga. Cuti tahunan dipotong sama cuti bersama? Ada. Mau izin sakit aja susahnya minta ampun? Ada. Sesama temen kantor sikut-sikutan? Ini mah kayaknya hampir di setiap kantor ada aja yang kayak begini. Kantor yang hari Sabtunya masih masuk? Ada juga.

Gue nulis begitu biar lu ga kaget meliat realitanya. Jangan dikira masuk dunia kerja itu bakalan sama kayak dunia kuliah/sekolah. Kalo kuliah sama sekolah saingannya cuman karna nilai doang. Kalo dunia kerja ini saingannya duit, guys!! Orang bisa ngelakuin apa pun untuk ngejagain biar "jatahnya" aman atau makin banyak. 

Itulah dunia, ga ada yang bener-bener adil atau ideal 100%.

Mau itu di dunia nyata apalagi di dunia kerja. Semua sama aja. Semua modenya adalah bertahan hidup dengan caranya masing-masing. Tapi ga ada yang bisa bertahan hidup bermodalkan mental kerupuk. Kalo lu mentalnya masih kerupuk, siap-siap bakalan diremes-remesin sama orang lain.

Sekarang keputusannya ada di kamu: mau santai-santai aja nunggu dunia yang "keras" sama kamu, atau tempa mentalmu dari sekarang biar kerasnya dunia ga ada apa-apanya lagi buatmu.

Lakukan Ini Setelah Interview Kerja

Buat job seeker, apalagi yang masih fresh graduate, mungkin masih bingung habis ikut tes wawancara turs harus ngapain? Bahkan yang udah sering ikut interview mungkin masih pada bingung juga kayaknya. Tulisan ini gue harap bisa menambah sedikit informasi mengenai hal-hal yang perlu dilakukan setelah wawancara kerja.

Kalo ngomongin wawancara kerja, gue sering banget baca ada yang takut banget untuk menjalani tes ini. Karena katanya ga terbiasa ngomonglah, ngejelasinnya njlimet lah macam-macam lah alasannya. Padahal untuk keahlian berkomunikasi ini sebenarnya bisa dilatih. Sering-sering aja ngobrol sama orang atau bertukar pikiran sama temen-temen. Jangan sekadar nge-gosipin yang ada di fyp kamu doang.

Tips singkat menghadapi tes wawancara kerja sepengalaman gue: cari tau informasi dasar tentang perusahaan tempat kamu melamar, cari tau pertanyaan yang biasanya diajukan sama HRD, cari tau range gaji di posisi yang kamu lamar. Selebihnya kamu bisa explore ketika praktik wawancara kerja langsung.

Lalu apa saja yang perlu dilakukan setelah wawancara kerja? 

1. Ucapkan terima kasih

Pertama kamu bisa ucapkan terima kasih karena sudah diberikan kesempatan untuk mengikuti tes wawancaranya. Berikan testimoni singkat terhadap perasaanmu mengikuti tesnya seperti apa. Mau chat kamu dibalas/ga, jangan terlalu dipikirkan apalagi dibaperin. Kamu cuman perlu menunjukkan bahwa kamu memang menantikan kesempatan itu.

Akan lebih bagus kamu kirim pesan terima kasih ini langsung secara personal ke HRD yang ngewawancarain kamu. Karena kebiasaannya rata-rata yang ngechat job seeker mengundang wawancara itu staff HRD-nya aja. Tapi meskipun ga dapat nomer si pewawancara juga gapapa kok, kamu bisa aja bilang "sampaikan ke Bapa x/Bu y ucapan terima kasih saya".

2. Kirim lamaran

Kaget, ya? Buat gue sih emang kebiasaannya kayak gini. Prinsipnya selalu sama: sehabis wawancara lupakan dan lanjut kirim lamaran kembali. Selama kamu belum menerima atau menandatangani kontrak apapun, artinya kamu masih belum dapat kerja. Selama itu pula kamu harus tetap kirim lamaran.

Trus gimana kalo interview yang kemaren dipanggil untuk ikut seleksi berikutnya? Ya gapapa, jalanin aja, kan masih seleksi doang, bukan tanda tangan kontrak. Semakin banyak nyebarin lamaran semakin gede peluang lu untuk bisa dipanggil interview.

Kalo perlu pake target, per hari kirim sekian lamaran. Apalagi sekarang zaman udah bisa online kirim lamaran kerjanya. Bisa kirim lamaran via email ataupun lamar via website si perusahaannya. Jangan terpaku sama 1 platform lamaran kerja doang, manfaatkan semuanya. Pokoknya dimana ada lowongan kerja, di situ lu kirim lamarannya.

3. Follow up

Ini kondisinya udah sekitar lebih dari semingg ga ada kabar setelah wawancara. Kalo gue ngasih waktu maksimal banget 2 minggu setelah wawancara untuk lakukan follow up. Kalo lu mau, bisa jadwalin follow up pada minggu pertama dan minggu kedua setelah wawancara.

Jika kedua kesempatan follow up itu ga ada respon, tinggalin dan move on. Mau itu perusahaan impian lu kek, mau itu perusahaan gede kek, kalo mereka ga ada respon, segera move on! Ga semua HRD bisa punya waktu untuk balas chat. Ga perlu dibaperin dan ga perlu dibilang ga profesional juga. 

Kadang ga semua yang kita pengen itu yang kita butuhin, termasuk keinginan lu untuk kerja di perusahaan impian lu itu.

***

Terlepas dari itu semua, gue sangat menyarankan lu untuk sering-sering latihan dan mengevaluasi interview bersama HRD/user yang sudah lu lakukan. Karena pada dasarnya setiap interview punya pengalamannya sendiri-sendiri. Udah pasti bakalan dapat sesuatu setiap kali lu ikutin tesnya. Jadi jangan sampai setiap interview yang lu lakuin itu berlalu begitu saja tanpa ada manfaat yang bisa lu ambil.

Sesuatu yang udah ditakdirkan jadi milik lu, pasti akan jadi milik lu gimanapun caranya. Mungkin lu bisa kerja di perusahaan yang biasa-biasa aja, tapi lu happy banget ngejalaninnya. Bisa lu bayangin ga kalo lu masuk ke perusahaan impian lu itu, tapi ternyata lingkungan kerjanya toksik atasan lu micro manage, sikut-sikutan jabatan. Emang lu mau masuk ke kondisi kerjaan kayak begitu?

Dari gue sih pesannya adalah ga perlu terlalu idealis kalo mau cari kerja. Karena ga ada perusahaan/kantor yang ideal-ideal banget 100% di dunia ini. Semua ada plus dan minusnya, ada green flag dan red flag-nya juga. Lu cuman bisa milih, mana red flag yang paling bisa lu tolelir ketika kerja. 

Kalo lu ga ngerasa kayak begitu dan menurut lu ada tempat kerja yang ideal 100%, ya silakan gapapa. Itu mungkin rezeki lu yang ga semua orang punya. Gue sih berharapnya lu bisa kerja di sana sampe lu pensiun alias ga pindah-pindah. Kan menurut lu udah ideal 100%.

Wiki Nusantara 2026

Wiki Nusantara merupakan salah satu agenda nasional tahunan Wikipedia Indonesia. Mengumpulkan kontributor-kontributor wikipedia di seluruh Indonesia dalam 1 tempat. Bahasa sederhananya: jambore kontributor wikipedia Indonesia.

Kegiatan ini terbuka untuk umum tapi tetap melalui tahapan seleksi. Salah satu penilaian yang diperhatikan adalah kontribusi di wikipedia. Semakin signifikan kontribusi lu, semakin memperbesar peluang lu untuk ikutan acaranya.

Wiki Nusantara 2026 ini seharusnya jadi acara Wiki Nusantara yang kedua kalinya gue ikutin. Tapi, pada kesempatan pertama itu gue memutuskan untuk ga ikutan karena terkendala posisi saat itu baru dapat kerjaan baru. Ga enak kalo baru masuk langsung izin ga masuk, kan?

Setiap kali ada kesempatan untuk ikutan acara yang diadain sama Wikipedia atau sejenisnya, gue selalu ikutan daftar. Mau itu lolos atau ga, gue ga terlalu berharap. Yang terpenting adalah gue tetap berkontribusi ke proyek wikipedianya. Kan gue berkontribusi di wiki tujuan utamanya untuk membebaskan pengetahuan. Bukan untuk ikutan acara-acaranya.

Balik lagi ke Wiki Nusantara 2026, gue akhirnya bisa ngikutin acara tahunan ini ketika acaranya di Makassar. Kalo berdasarkan lokasinya, barti gue udah 2 kali ke Makassar dan dua-duanya lewat acara wiki. Waktu ke Makassar pertama kali udah gue ceritain, baca aja.

Selain Wiki Nusantara 2026, gue juga ikut Wiki Cendekia 2026. Artinya dalam setahun ini, gue udah 2 kali ikutan acara Wikipedia. Sejauh ini, tahun ini adalah tahun terbanyak gue ngikutin acara-acara luringnya. Biasanya acara daring doang kebanyakan.

Ga sabar pengen tau ada gebrakan apalagi dari Wikipedia Indonesia tahun ini. Ga sabar juga untuk ikut terlibat di acaranya lebih banyak lagi.

Wiki Nusantara kali ini mengusung tema Bhinneka, Berkarya, dan Berkelanjutan. Tema yang menurut gue "wiki banget" mengingat kontributornya tersebar di seluruh Indonesia. Namun, kebanyakan hanya bertemu secara daring, jarang bisa ketemu secara luring. Melalui forum seperti Wiki Nusantara ini bisa jadi alternatif untuk bertemu-sapa dengan kontributor lain di Indonesia.

Wiki Nusantara 2026

Meskipun namanya "kontributor", namun semua suntingan yang dilakukan oleh mereka tetaplah menjadi "karya". Namun, karya di Wikipedia tentu saja harus bebas hak cipta. Tidak dapat diklaim sebagai milik sendiri. Meskipun begitu, kontributor tetap masih aktif menyunting di wikipedia untuk membebaskan pengetahuan. Inilah yang filosofi sederhana dari berkelanjutan itu.

Ini pengalaman pertama yang menyenangkan sekali. Karena bisa ketemu lebih banyak lagi kontributor wikipedia seluruh Indonesia. Bisa saling tukar pengalaman dan tukar tips/trik mengelola komunitas juga. Buat gue 1000 temen tu terlalu sedikit, 1 musuh terlalu banyak. Semakin banyak jaringan/koneksi yang bisa dibangun, semakin baik.

Hari pertama acara Wiki Nusantara bisa dibilang terlalu padat, ya. Karena acara dimulai dari pagi hari, dengan 1 kali coffee break sama 1 kali makan siang. Kemudian acara sorenya dilanjutkan dengan kegiatan walking tour di siang hari. Kegiatan tur keliling ini dimulai dari Mesjid 99 Kubah karya Ridwan Kamil, kemudian dilanjutkan ke Fort Rotterdam dan berakhir di Monumen Mandala Pembebasan Irian Barat.

Pada lokasi terakhir ini, kami melanjutkan kegiatan malam keakraban. Meskipun dilaksanakan secara out door, namun karena suhunya pengap dan panas, kami tetap aja keringetan. Anehnya, gue ga kena gigit nyamuk di situ. Padahal badan gue rentan banget digigit nyamuk kalo malam-malam di tempat yang remang dan banyak pepohonannya gitu.

Rangkaian acaranya berakhir sekitar jam 9 malam. Dengan diiringi badan yang udah cape banget, hanya sisa-sisa tenaga doang yang ada. Meskipun begitu, gue tetap aja ga bisa langsung tidur. Akibatnya malah jadi begadang dan tidurnya kayak kemaren lagi larut malam.

Hari kedua, gue menyempatkan diri untuk jalan kaki lagi ke sekitaran hotel. Awalnya gue milih untuk ke Losari lagi. Tapi kan udah pernah, jadinya gue balik arah dan ganti tujuan ke tempat lain. Gue memutuskan untuk ngeliat lokasi Museum Makassar dan gedung Balai Kota Makassar.

Karena masih pagi hari, museumnya masih tutup dan cuman bisa fotoin dari luarnya aja. Gedung balai kota juga gue liat dan foto dari luar aja. Pagi itu gue dapet jalan kaki sejauh 2 kilo lebih berdasarkan perhitungan aplikasi strava. Harusnya lebih dari 2 kilo tapi karena nyalain aplikasinya udah jalan 10 menit lebih, jadinya ga terlalu akurat hasilnya.

Hari kedua merupakan penutupan rangkaian acara Wiki Nusantara 2026. Agenda kali ini full dalam ruangan dengan menyajikan beragam acara diskusi bersama teman-teman komunitas dan induk komunitas wikipedia se-Indonesia. Rangkaian acaranya ditutup dengan penganugerahan kepada sukarelawan terbaik dan 3 penghargaan lainnya.

Setelah itu acara bebas buat peserta. Biasanya bakalan dimanfaatin untuk jalan-jalan di kotanya sekalian beli oleh-oleh juga. Kayak waktu di Surabaya, gue manfaatin hari penutupan untuk beli oleh-oleh sekalian jalan-jalan.

Alhamdulillahnya, gue bisa nemu toko oleh-oleh yang deket sama hotel. Jujur, gue ga tau apakah toko oleh-oleh ini mark up harga barangnya sejauh apa, karena ga tau juga standar harganya berapa. Gue udah coba nanyain ke temen gue yang tinggal di Makassar toko oleh-oleh yang rekomen. Tapi waktunya ga mencukupi untuk belanja ke sana.

Setidaknya gue udah berusaha untuk ngebawain sesuatu buat temen-temen di kantor, lah.

Evaluasi yang bisa gue lakukan untuk kegiatan luar kota ke depannya:

1. Merencanakan agenda jalan kaki yang lebih matang. Mulai mendata lokasi-lokasi bersejarah dan wisata yang deket sama lokasi menginap. Mulai dari jarak terdekat, sampai jarak terjauh yang bisa ditempuh berjalan kaki. Bisa sih ke lokasi yang agak jauh, asal menarik dan memang worth it untuk disamperin.

2. Harus merasakan cita rasa kuliner lokalnya. Saat di Makassar ini gue lebih banyak merasakan masakan hotelnya doang. Meskipun masakan hotelnya juga ada yang khas Makassar, ya. Tapi buat gue akan lebih otentik kali bisa mencoba langsung di warung makan yang legendaris di kotanya, kan? 

3. Mengalokasikan waktu khusus untuk mencari oleh-oleh yang proper. Akan lebih bagus kalo mencari oleh-oleh di lokasi yang direkomendasiin sama warlok. Karena mereka bisa jadi shortcut informasi terkait hal-hal yang perlu dicari lebih cepat. Soal harga murah/mahal menurut gue masih relatif, ya.

Mau nanti berangkatnya karena ada kegiatan Wikipedia lagi atau pun berangkat sendiri harusnya ga berpengaruh. Poinnya adalah biar kegiatan luar kotanya jadi lebih efektif dan semua kegiatan bisa dilakukan dan terdokumentasi dengan baik.

Seedbacklink