INI YANG LEBIH BERANI DARI MENS REA PANDJI

Komoidoumenoi merupakan acara lawakan tunggal Pandji ke sembilan yang digelar pada tahun 2022-2023. Final shownya diadakan di Istora Senayan Jakarta di hadapan 7000 penonton. Berkat dirilisnya Mens Rea di Netflix, gue bisa nonton spesial show ini di platform comika.id hanya dengan paket basic. Biasanya untuk spesial show tertentu ada add on biaya lagi untuk nonton digital streamingnya.

Setelah gue menonton 10 acara standup comedy Bang Pandji, baik dalam bentuk CD, Digital Download dan nonton langsung, gue berkesimpulan: Mens Rea ga ada apa-apanya. 

Mungkin lu mengira materi Mens Rea terlalu pinggir jurang karena ada di Netflix dan aksesnya bisa dinikmati banyak orang. Tapi kalo lu nonton acara Pandji lainnya di platform comika.id, deh. Lu bakalan tau kalo ada materi yang lebih berbahaya dan tajam.

Gue ga akan spill semua review spesial show-nya di sini. Tapi akan gue kasih perbandingan 3 spesial show dari 10 yang sudah dilakukan. Ditambah Mens Rea yang udah gue review di tulisan sebelumnya.

1. Ternyata Ini Sebabnya dan Keadaan Kahar 

Menurut gue 2 spesial ini punya kemiripan secara vibes. Pertama diadain pas lagi pandemi menyerang, jadi penontonnya terbatas banget dan diadakan di cafe atau restoran doang. Beda banget dari spesial sebelumnya yang diadain di gedung berkapasitas besar.

Selain dari sisi tempat materi di spesial ini juga tergolong mirip-mirip. Pokoknya ga jauh-jauh dari ngobrolin pandemi yang meresahkan. Selain itu, menurut keyakinan gue, beberapa bitnya juga terkesan rada maksa. Bahkan di beberapa bit ada sempat muncul kalimat""ga lucu, ya? padahal menurut gue itu lucu lho?"

Kualitas spesial show  dari orang yang udah ngelakuin hal kayak gini lebih dari 5 kali seperti ini, gue rasa itu ga layak muncul dari seorang Pandji. Terlihat sekali ada bit yang memang belum pernah dicobain alias ga matang. Beberapa kali bahkan gue denger dia ngomong belibet kebalik balik gitu.

Dari materi Ternyata Ini Sebabnya gue jadi tau awal ketemu Pandji dengan istrinya yang sekarang. Kita jadi tau kalo Pandji pernah giting di Belanda sama kru-nya yang lain saat ngejalanin tur standup beberapa tahun silam. Dari sini pula kita tau kalo Pandji rutin ke psikolog/psikiater untuk konsultasi terhadap anger management-nya yang buruk.

Keadaan Kahar (force majeur) lebih chaos lagi dari sisi penyelenggaraan acara. Udah mah tempatnya semi outdoor, di lantai 70 lagi. Ga cuman angin kencang yang jadi kendala, tapi juga cuaca yang menentu. Dari video digital streaming yang gue tonton, acara sempat terhenti beberapa menit karena cuaca (sepertinya ujan). Bukan tipikal acara "Pandji banget" yang biasanya well prepared.

Menurut keyakinan gue, 2 spesial ini lebih mirip openmic berbayar pas pandemi daripada spesial show dari pelawak tunggal. Membuktikan 1 hal yang masih terbukti sampe sekarang: kalo Pandji emang jago jualan.

2. Hiduplah Indonesia Maya

Berawal dari IP (intelectual propery) siniar (podcast) Pandji di platform Noice, akhirnya siniar ini menjadi sebuah festival. Salah satu rangkaian acaranya adalah standup comedy show yang diisi oleh Pandji sendiri. Siniar HIM (HIduplah Indonesia Maya) ini membahas tentang hal-hal yang lagi viral di dunia maya dalam format social commentary.

Pertunjukkan HIM ini sudah proper dan sesuai standar Pandji saat mengadakan pertunjukkan lawakan tunggal. Biasanya ada 3 kriteria: in door dengan akustik suara bagus, kapasitas penonton lebih dari 300 orang dan sound system yang mumpuni.

Dari sisi materi juga udah Pandji banget. Solid, rapi, story telling yang panjang namun ga ngebosenin. Karena temanya HIM, jadi materinya mayoritas ngebahas yang lagi rame di medsos, kala itu yang lagi rame adalah pilpres. Makanya materinya di sini dominan sekali membahas pilpres dan presiden-presiden di Indonesia.

HIM ini sebenanyar spesial "pengganti" untuk Septictank yang tidak ada versi digitalnya sama sekali. Menurut Pandji, Septictank tidak ditayangkan di platform manapun dikarenakan untuk menjaga kerahasiaan materinya di sana. Meskipun begitu, beberapa materi Septictank diselipkan di pertunjukkan HIM ini.

3. Komoidoumenoi

Merupakan spesial show Pandji ke-9 sebelum Mens Rea. Tema besar dari spesial kali ini ngomongin tentang ketersinggungan. Mayoritas sih kejadian-kejadian yang berhubungan ketersinggungan yang deket sama dia. Karena kita tau semua kalo Pandji sering banget tersangkut kasus ketersinggungan.

Acara ini digelar di Istora Senayan, tempat Glenn pernah gelar konser. Pandji sering sekali bawa nama Glenn setiap pertunjukkannya, dia mengakui bahwa Glenn adalah sosok idolanya. Apapun yang dilakuin Glenn dalam berkarya, Pandji sebisa mungkin akan ngikutin.

Kali ini meskipun acaranya terlihat proper ada aja kendalanya. Waktu gue nonton di digital downloadnya, penonton di barisan depan ngeluh karena silau kena lampu sorot. Karena panggungnya bundar, jadi ada lampur sorot yang mengarah ke penonton dan bikin mereka silau.

Kedua, perkara sound yang ga kedengeran untuk penonton di tribun. Katanya masalah suara ini tuh udah dari waktu Marcell jadi opening, tapi karena keahlian crowd control-nya yang sudah teruji, masih bisa teratasi. Waktu Pandji naik, masalahnya masih belum kelar, penonton ngeluh lagi. 

Pandji bahkan harus crowd work dulu sekitar 15 menit lebih, tapi masih belum kelar juga tu masalah sound. Kasian banget penonton di tribun, udah bayarnya paling murah, dikasih suara kualitas jelek pula. Meskipun begitu, kalo ga salah ada ada kompensasi buat penonton acara ini karena kualitasnya jelek.

Materi dari Komoidoumenoi ini menurut gue sangat antagonis dan frontal sekali. Jarang sekali Pandji menggunakan strategi "menyerang" seintens ini. Semua dia sikat, dari awal crowd work aja semua orang "diabsenin" satu-satu buat dia serang. Dari fisiknya, sukunya sampe agamanya semuanya kena. Udah gila.

Kata dia, di rangkaian tur Komoidoumenoi ini salah 1 daerah ada penonton yang pulang di tengah acara. Menggambarkan betapa sensitif dan frontalnya materi yang dia bawakan.

Biasanya dalam setiap tur stand up itu, materi komikanya akan berkembang terus versinya. Sampai pada menemukan final form-nya di kota terakhir (finale). Kalo punya rezeki lebih, coba nonton 2 kali deh. 1 kali waktu tur kota-kota besarnya dan nonton di finalenya. Lu bakalan ngeliat materinya akan berbeda banget dari pertama kali lu tonton.

Nah, kalo Komoidoumenoi ini aja ketika tur daerahnya bisa bikin penonton pulang di tengah-tengah acara. Lu bisa ngebayangin ga separah apa materi di finalenya? Terlepas dari penontonnya emang baperan atau punya urusan lain, kita asumsikan materinya emang separah itu.

Menurut gue sih, materi di Komoidoumenoi ini edgy, bold, beran dan menantang batas ketersinggungan. Pandji mendorong jauh batas ketersinggungan penontonnya hingga ke tepi jurang penghinaan. Buat gue, tipis banget batas antara ketersinggungan, becanda dan menghina di Komoidoumenoi.

Saking tajamnya materi di Komoidoumenoi, gue beberapa kali meringis mendengarnya. Meringis itu udah hal normal ketika dengerin materi Komoidoumenoi. Tertawanya itu bukan hanya lucu, tapi ada ironi, satir di dalamnya. Beberapa kali dia selalu bilang "gue jarang solat" atau "saya ga pernah ngaji" untuk menunjukkan betapa dangkalnya pengetahuan agamanya saat itu.

Bahkan, salah satu materinya yang nyeritain jalan-jalan ke museum itu mencoba menggoyahkan iman umat muslim. Jujur gue sampe ngilu dengernya dan ngebayangin kalo materi ini sampe bocor keluar dari platform ini apa respon yang bakalan dia dapatkan. Orang-orang yang fanatik sih menurut keyakinan gue bakalan ngamuk kalo hal itu dipertanyakan.

Lu tonton sendiri, dah materi fullnya kayak gimana ye!

***

Buat gue pribadi, kalo soal "berani-beranian" materinya, Komoidoumenoi kurang lebih setara beraninya dengan Mens Rea. Karena keduanya sama-sama membahas isu sensitif. Kalo Mens Rea berani dari sisi pembahasan soal tokoh-tokoh politik. dan oknum-oknum instansi. Komoidoumenoi berani dari sisi religiusitasnya dan mendorong batas ketersinggungan seseorang.

Bersyukurnya, Komoidoumenoi dirilis di platform eksklusif aja, ga di Mens Rea. Jadi yang terpapar dengan materi ini ga terlalu banyak. Kalo pun ada, mungkin udah ngerti bahwa ini hanyalah pertunjukkan komedi. Kalo di Netflix, orang-orang yang belum pernah terpapar stand up comedy justru keliatan gagap. Kayak baru pertama kali ngeliat standup.

Tapi jadinya bagus sih, orang-orang jadi tau apa yang dibicarakan seorang komika ketika lagi manggung. Ada banyak pembahasan sebenarnya, setiap komika cuma ciri khasnya masing-masing. Mereka bebas memilih mau nonton siapa dan suka sama materi yang mana. Balik lagi ke selera masing-masing, ya. Ketika bicara soal selera, maka tidak bisa maksa orang lain untuk ngikutin seleranya kita.

Kalo menurut lu sendiri, lu suka ga materi standupnya Bang Pandji, coba tulis di kolom komen, ya!

0 Comments:

Post a Comment

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.

Seedbacklink