Banyak yang menghubungkan kedewasaan dengan bertambahnya umur seseorang. Semakin tua seseorang maka semakin dianggap dewasa oleh yang lain. Benarkah? Saya kira itu pernyataan relatif. Kedewasaan seseorang itu tidak bisa diukur dari tua atau tidaknya seseorang.
| kedewasaan |
Memang tidak ada standar yang pasti yang menunjukkan bahwa orang ini telah dewasa atau belum. Artinya, dewasa itu adalah sebuah proses, bukan hasil. Berarti secara teknis, manusia itu tidak pernah dewasa sampai akhir hayat. hahaha (ini kesimpulan songong saya, jangan 100% dipercaya, 99% boleh kok *nawar*)
Begini, sebenarnya kedewasaan dapat diukur, bukan melalui umur. Tapi melalui sikap, pola pikir, dan cara seseorang menghadapi masalah dan menyelesaikannya. Dan mungkin masih banyak lagi cara lain, namun saya akan menganalisanya dari 3 cara itu saja. Mari kita kupas bersama.
Sikap menentukan kedewasaan. Menurut saya ini yang utama. Kedewasaan seseorang bisa dilihat sikapnya terhadap orang disekelilingnya. Apakah dia menghormati orang yang lebih tua, menghargai yang lebih muda darinya. Atau bisa juga terlihat dari sikapnya kepada orang tuanya, bagaimana dia memperlakukan ayah ibunya, dan menurut saya bagaimana sikap dia terhadap orang tuanya itu bisa jadi tolok ukur ketegasan orang tua itu terhadap anak mereka. Semakin tegas orang tuanya, maka semakin hormat anaknya. Ingat, tegas, bukan keras. Beda kata beda makna.
Lingkungan tempat tinggal seseorang juga mempengaruhi sikapnya. Jika tinggal di daerah yang atmosfirnya nyaman, tenang, tetangga yang bersahabat, tentu seseorang bisa bersikap ramah. Beda halnya jika tinggal di daerah yang lingkungannya kumuh, kotor, tidak nyaman. Ini menurut saya,sih.
Sikap seseorang yang egois, mau menang sendiri, dan harus dituruti semua keinginannya itu menurut saya bukan sikap orang yang telah dewasa, itu lebih kekanak kanakan. Jika kalian merasa punya salah satu dari 3 sikap yang disebutkan di atas, ada kemungkinan kalian belum dewasa dalam hal sikap. Atau mungkin kalian pernah menuduh orang dengan alasan yang tidak relevan dan menganggap kerugian yang kalian terima adalah hasil dari perbuatannya? itu juga salah satu cirinya. hehehe
Kemudian kita bahas pola pikir. Pola pikir bisa terbentuk dari mana saja. Yang paling pertama tentu saja dari orang tua. Pola pikir orang tua menurut saya yang paling dominan membentuk pola pikir anak. Semakin matang umur orang tua, maka pola pikir anak semakin bijak. Mungkin itu sebabnya BKKBN menyarankan untuk menikah di usia 25 bagi pria dan 23 bagi wanita. Menurut BKKBN, lelaki dan waanita dengan seperti itu, kondisi psikologisnya sudah cukup baik untuk berumah tangga.
Semakin matang usia orang tua, maka semakin baik mendidik dan membentuk pola pikir anak. Pola pikir ini seharusnya sulit untuk dirubah karena tertanam sejak kecil. Namun seiring masuk informasi dari berbagai kesempatan, bisa saja pola pikir seseorang berubah.
Bagaimana mendapatkan pola pikir yang positif? Seperti yang dikatakan di atas, pola pikir terbentuk seiring masuknya informasi dari berbagai kesempatan, bisa bermacam-macam, apakah itu dari orang tua, guru, teman sekolah, buku, film, komik, dll. Jika ingin mendapat pola pikir yang positif, masukkan informasi yang positif dan sesuai dengan keyakinan kita. Jangan takut untuk menguji pola pikir kita dengan orang yang bersebrangan pendapatnya dengan kita, dengan banyak diskusi kita bisa membuka wawasan dan pikiran terhadap orang lain, agar kita tidak menjadi pribadi yang egois.
Udah ngelantur kayanya,nih. Kita lanjut ke 3 aja ya. Kedewasaan bisa menentukan cara seseorang untuk menghadapi masalah. Masalah selalu datang pada setiap orang, dan Tuhan selalu memberikan masalah tidak melebihi kemampuan hambaNya. Maka dari itu, kita bisa melihat kedewasaan seseorang dalam menyikapi masalah tersebut. Apakah dia menyelesaikannya dengan tuntas? atau Menunda menyelesaikannya karena menganggapnya hanya masalah sepele? atau malah menghindari masalah yang dihadapinya?
Semakin besar masalah yang dihadapi seseorang dan kemudian berhasil mengatasinya, maka penglamannya akan bertambah dan pikirannya akan semakin bijaksana dan rendah hati kepada orang lain.
Umur tidak menjadi patokan untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Bisa jadi anak kecil pemikirannya sudah lebih dewasa daripada orang tua umur 30 atau 40an tahun. Oleh karena itu, jangan menutup telinga dan menutup mata ketika orang yang lebih muda dari kita ingin maju dan ingin melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Malah seharusnya kita dukung, karena dia lebih berani daripada kita yang seharusnya menjadi teladan. Berpikiran terbuka adalah salah satu kunci untuk bisa menerima orang-orang yang lebih dewasa dari kita.
Saya kira cukup ngelanturnya untuk hari ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Intinya,
Lingkungan tempat tinggal seseorang juga mempengaruhi sikapnya. Jika tinggal di daerah yang atmosfirnya nyaman, tenang, tetangga yang bersahabat, tentu seseorang bisa bersikap ramah. Beda halnya jika tinggal di daerah yang lingkungannya kumuh, kotor, tidak nyaman. Ini menurut saya,sih.
Sikap seseorang yang egois, mau menang sendiri, dan harus dituruti semua keinginannya itu menurut saya bukan sikap orang yang telah dewasa, itu lebih kekanak kanakan. Jika kalian merasa punya salah satu dari 3 sikap yang disebutkan di atas, ada kemungkinan kalian belum dewasa dalam hal sikap. Atau mungkin kalian pernah menuduh orang dengan alasan yang tidak relevan dan menganggap kerugian yang kalian terima adalah hasil dari perbuatannya? itu juga salah satu cirinya. hehehe
Kemudian kita bahas pola pikir. Pola pikir bisa terbentuk dari mana saja. Yang paling pertama tentu saja dari orang tua. Pola pikir orang tua menurut saya yang paling dominan membentuk pola pikir anak. Semakin matang umur orang tua, maka pola pikir anak semakin bijak. Mungkin itu sebabnya BKKBN menyarankan untuk menikah di usia 25 bagi pria dan 23 bagi wanita. Menurut BKKBN, lelaki dan waanita dengan seperti itu, kondisi psikologisnya sudah cukup baik untuk berumah tangga.
Semakin matang usia orang tua, maka semakin baik mendidik dan membentuk pola pikir anak. Pola pikir ini seharusnya sulit untuk dirubah karena tertanam sejak kecil. Namun seiring masuk informasi dari berbagai kesempatan, bisa saja pola pikir seseorang berubah.
Bagaimana mendapatkan pola pikir yang positif? Seperti yang dikatakan di atas, pola pikir terbentuk seiring masuknya informasi dari berbagai kesempatan, bisa bermacam-macam, apakah itu dari orang tua, guru, teman sekolah, buku, film, komik, dll. Jika ingin mendapat pola pikir yang positif, masukkan informasi yang positif dan sesuai dengan keyakinan kita. Jangan takut untuk menguji pola pikir kita dengan orang yang bersebrangan pendapatnya dengan kita, dengan banyak diskusi kita bisa membuka wawasan dan pikiran terhadap orang lain, agar kita tidak menjadi pribadi yang egois.
Udah ngelantur kayanya,nih. Kita lanjut ke 3 aja ya. Kedewasaan bisa menentukan cara seseorang untuk menghadapi masalah. Masalah selalu datang pada setiap orang, dan Tuhan selalu memberikan masalah tidak melebihi kemampuan hambaNya. Maka dari itu, kita bisa melihat kedewasaan seseorang dalam menyikapi masalah tersebut. Apakah dia menyelesaikannya dengan tuntas? atau Menunda menyelesaikannya karena menganggapnya hanya masalah sepele? atau malah menghindari masalah yang dihadapinya?
Semakin besar masalah yang dihadapi seseorang dan kemudian berhasil mengatasinya, maka penglamannya akan bertambah dan pikirannya akan semakin bijaksana dan rendah hati kepada orang lain.
Umur tidak menjadi patokan untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Bisa jadi anak kecil pemikirannya sudah lebih dewasa daripada orang tua umur 30 atau 40an tahun. Oleh karena itu, jangan menutup telinga dan menutup mata ketika orang yang lebih muda dari kita ingin maju dan ingin melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Malah seharusnya kita dukung, karena dia lebih berani daripada kita yang seharusnya menjadi teladan. Berpikiran terbuka adalah salah satu kunci untuk bisa menerima orang-orang yang lebih dewasa dari kita.
Saya kira cukup ngelanturnya untuk hari ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Intinya,










