WikiLatih Wikipedia merupakan salah satu acara luring yang diselenggarakan untuk mengajarkan wikipedia lebih intensif kepada pengguna baru. Pada acara wikilatih ini biasanya peserta akan diajarkan dasar-dasar teknik menyunting di platform wikipedia. Pengajarnya bisa dari kontributor lokal senior ataupun langsung dari Jakarta.
Kebetulan untuk acara yang ini, seluruh pelatih dan pendampingnya adalah kontributor lokal Wikipedia Banjar. Sehingga penyampaiannya lebih organik dan lebih mudah dipahami para pesertanya. Gue juga termasuk dalam panitia kepelatihan ini juga, jadi pelatih pendamping WikiLatih.
Menjadi pelatih WikiLatih merupakan salah satu target pribadi gue yang sampai hari ini masih belum tercapai. Setidaknya pada acara WikiLatih kemaren membuat gue lebih dekat selangkah untuk bisa jadi pelatih utamanya. Gue pengennya dalam waktu dekat ini bisa jadi pelatih utama di acara wikipedia lainnya.
Soalnya udah kangen banget tampil di hadapan banyak orang. Rasanya lama banget ga ngomong di dengerin banyak orang secara langsung. Biasanya ngonten di youtube, instagram sama tiktok doang.
Filosofi pelatih
Ini bukan pelatih olahraga, ya! Tapi lebih ke konsep pematerinya seperti apa.
Kalo gue pribadi lebih suka konsep pelatihan tatap muka. Karena akan lebih mudah ditangkap penyampaiannya. Gue juga bisa liat langsung orang-orangnya seperti apa. Ngobrolnya juga lebih nyaman dan pertanyaan akan lebih mudah terjawab.
Ketika melakukan pelatihan tatap muka, kita bisa ngeliat langsung reaksi pesertanya. Respon-respon mereka itu energi buat gue. Kalo mereka ga ngerespon, barti itu tantangan buat gue untuk bisa menarik perhatian mereka.
Kendala kalo misalnya sebuah acara workshop dilakukan secara daring itu banyak banget. Dari yang mulai jaringan jelek, suara ga kedengaran. Belum lagi pesertanya diem-diem semua, ga bisa dengerin ekspresinya. Kayak berasa ngobrol sendiri jadinya.
Follow up acara luring juga menurut gue lebih mudah. Bikin grup whatsapp atau telegram, bisa jadi tempat diskusi sama pesertanya. Bahkan, kalo kendalanya ada yang pernah dirasain sama peserta lain, mereka akan saling bantu di grup. Engagement-nya jadi lebih bagus, kan?
Kalo misalnya ada acara lain, kita bisa langsung promosiin di dalam grup itu juga. Untuk yang udah pernah ikutan acara kita sebelumnya dan dia ngerasa acara sebelumnya bagus, gue sih yakin dia akan ikut lagi pelatihan berikutnya. Bahkan bisa jadi dia bakalan bawa temen-temennya yang lain untuk ikutan ngerasain pengalaman yang sama.
Gue sendiri mungkin bisa handle 7-10 peserta. Mungkin maksimal 13 orang masih bisa. Kalo pesertanya lebih dari itu, gue udah pasti perlu pelatih pendamping. Karena ga mungkin gue sendiri ngehadapin semuanya. Mungkin perlu nambah 1-2 orang lagi, tergantung jumlah pesertanya juga.
Portofolio Menjadi Pelatih/Pengajar
Gue udah pernah jadi pelatih/pemateri di beberapa acara sebelumnya.
Acara pelatihan yang paling gue inget salah 3-nya adalah acara pelatihan penulisan blog di salah satu universitas tahun 2019. Gue ngajar gimana menulis blog untuk pemula dari dasar banget. Tapi karena gue dulu belajar nulisnya otodidak, jadi yang gue bagikan tu bukan hal-hal teknis. Lebih ke hal yang realistis aja dan mudah untuk cepat dipraktikkan.
Pada acara ini konsepnya lebih kayak seminar. Gue mencoba mengenalkan blog kepada para penerima beasiswa dari universitas tersebut. Blog menurut gue lebih sederhana untuk bikin kontennya. Meskipun konten video semakin menjamur, tapi semua konten awalnya pasti dari menulis dulu.
Ada juga yang bisa langsung bikin konten video, pendek/panjang, tanpa menulis skripnya lebih dulu. Mungkin karena dia terbiasa ngomong, jadi di dalam kepalanya udah "nulis" skripnya sendiri. Kalo gue jujur masih belum selancar itu. Perlu nulis dulu baru bisa bicara di depan kamera.
Salah satu pertanyaan peserta yang gue inget adalah potensi pembajakan tulisan di internet. Sebenarnya ini jadi kekhawatiran gue juga. Tapi gue percaya, kalo kita nulis/bikin karya dari hati, orang-orang pun tau kalo ada yang ngebajak, ga akan bisa 100% sama.
Apalagi kalo yang nulisnya punya konsep kayak gue. Orang yang menuangkan dalam tulisan apa yang ada di dalam kepalanya. Sesuatu yang ada di dalam kepala seseorang, sekalipun dia kembar, pasti ga akan pernah sama dengan yang lain. Jadi, tulislah sesuatu yang otentik, yang kita banget, sehingga dimanapun orang menemukan karya kita, meskipun dibajak, mereka tau karya itu punya siapa.
Kegiatan selanjutnya yang gue inget adalah pelatihan pembuatan blog bekerjasama dengan LPM sebuah universitas tahun 2020. Kebetulan ketua LPM-nya waktu itu temen 1 komunitas, jadi dia ngajakin kolab.
Konsep acara ini pelatihan, jadi gue ngajar sekalian tutorial juga. Untungnya pesertanya ga banyak, ga nyampe 10. Jadi masih bisa dikerjakan oleh segelintir orang aja. Gue juga dibantu sama 1 temen lain untuk melancarkan acara ini.
Sebenarnya gue pengen ada follow up untuk kegiatan ini. Misalnya ada tugas untuk seluruh peserta menulis 1 artikel per minggu. Temanya bebas atau tematik sesuai kondisi saat pelaksanaan tantangan menulisnya. Dia yang paling konsisten menulis, sampai di akhir periode tantangan akan mendapatkan hadiah.
Apalagi mereka ini, kan, anggota LPM semua. Harusnya menulis bukan lagi sebuah "tantangan" yang harus mereka taklukan. Namun, akan jadi tantangan ketika LPM-nya jarang aktif sehingga anggotanya jadi jarang menulis.
Kalo ada LPM kampus yang mau kerjasama untuk ngadain workshop/seminar menulis boleh kontak ke email, ya! Mwehehehe!
Acara ketiga yang menurut gue cukup komprehensif adalah acara yang bekerjasama dengan salah 1 sekolah yang mengadakan seminar kepenulisan. Kerjasamanya dilakuin antara organisasi yang gue ikutin sama sekolah SMA. Salah 1 rangkaian acaranya ada pengenalan tentang tulis menulis blog, bahkan ada praktiknya juga waktu itu.
Makanya gue bilang komprehensif karena mereka ga sekadar dapatin teorinya aja, tapi juga ada praktik menulis langsungnya. Kalo ga salah ada penilaiannya juga, tapi gue lupa. Intinya seluruh peserta itu dimasukin ke dalam grup nanti diumumin tulisan terbaiknya siapa seminggu setelah acara.
Sayangnya gue ga punya lagi dokumentasi acaranya.
Konsep Acara Pelatihan Yang Ideal
Gue pribadi lebih suka konsep acara tatap muka yang paket lengkap. Artinya peserta tidak hanya diberikan teori saja, namun juga praktik langsung. Kemudian ada kegiatan selanjutnya untuk memperdalam/mempertajam teori dan praktik yang sudah dilakukan pada hari H pelatihannya.
Artinya pesertanya tetap "dirawat" dibimbing terus hingga mereka terbiasa mengerjakannya sendiri. Melatih muscle memory emang ga bisa sebentar, minimal 3 bulan. Itupun menurut gue masih sebentar, harusnya 6 bulan. Tapi tentu waktu sepanjang itu akan memakan biaya yang besar. Jika pelatihannya diadakan gratis, tentu merawat peserta selama 6 bulan lumayan berat juga.
Tentu tidak semua peserta bisa "bertahan" pada atmosfir seperti itu. Karena gue mengakui sendiri, kalo menjalankan rutinitas/kebiasaan baru itu sulitnya bukan main. Hanya orang-orang yang punya tingkat disiplin tinggi dan punya mindset kuat yang bisa bertahan.
Gue aja, baru bisa mempertahankan kebiasaan menulis setiap hari setelah lebih dari 9 tahun menulis di blog. Terlalu lama mungkin, ya? Harusnya 5 tahun udah bisa jalan otomatis. Bahkan, gue baru bisa konsisten posting setiap minggu 1 tulisan sepanjang tahun itu baru kejadian tahun 2025 kemaren.
Bayangin. Gue udah nulis kurang lebih 13 tahun, untuk membiasakan menulis setiap hari baru bisa disiplin setelah 9 tahun nulis. Baru bisa konsisten posting 1 tulisan setiap minggu di tahun 2025. Artinya berdasarkan pengalaman gue, bimbingan 6 bulan pun sebenarnya masih belum cukup.
Mungkin kalo gue dibantu sama temen-temen yang lain, yang punya tingkat disiplin lebih tinggi daripada gue, bisa jadi terlaksana, sih. Terlebih pesertanya juga punya mindset yang sama: ingin belajar dan bertumbuh.


