OSPEK (Orientasi Songong PEnghuni Kampus)

Mumpung masih awal-awal kuliah buat MABA ga ada salahnya bahas yang satu ini.
sumber foto sebelum di edit
Buat saya OSPEK zaman sekarang udah bergeser tujuannya. Yang seharusnya acara perkenalan lingkungan kampus buat Mahasiswa Baru

jadi acara untuk memperlihatkan senioritas penghuni kampus. Untuk apa memperlihatkan senioritas di kampus? Dapat duit kalo jadi senior? Nyari popularitas biar diingat sama MABA?

Saya pun pernah merasakan hal yang sama. Dulu saya memang belum menyadari bahwa OSPEK seharusnya bukan menjadi ajang untuk memperlihatkan kesenjangan antara senior dan junior. Mindset saya junior itu harus digalakin dulu biar tunduk sama senior.

OSPEK seharusnya jadi acara untuk memperkenalkan lingkungan sekitar kampus sebelum perkuliahan dimulai. Mengenal kaka tingkat dan kawan-kawan sesama angkatan itu sebuah keharusan, namun bukan berarti harus berlebihan. Berlebihan menurut saya itu seperti ini : misalnya untuk bisa kenalan sama kaka tingkatnya harus foto bareng sama dia. Kenalan sama cewe juga ga gitu-gitu amat perasaan? Yang sewajarnya aja lah. Mereka kenal kamu dan kamu senyum kalo mereka sapa. Udah. 

Untungnya sewaktu saya OSPEK kenalannya cuma minta tanda tangan. Bingung deh kalo misalnya disuruh foto bareng dulu sama kaka tingkat. Ga punya hp berkamera waktu itu. 

Tadi contoh pertama. Contoh lain yang menurut saya berlebihan adalah bentak-bentakin MABA. Alasannya sih biasanya biar mentalnya kuat. Oke biar mentalnya kuat, tapi ga mesti di samping telinga mereka juga dong? Kalo telinga mereka udah sakit duluan gimana? Ditambah teriakan kalian bukannya bikin tambah parah? Melatih mental bisa dengan cara lain yang lebih menghibur, misalnya melakukan permainan outbound yang menantang. Lebih keren OSPEK nya.

Saya sih udah biasa diteriakin sama Ibu saya kalo marahin saya, teriakan senior kampus waktu dulu saya anggap biasa. Hahaha emang bandel saya kayanya.

Yang paling parah adalah kontak fisik. Di kampus saya punya prinsip untuk tidak melakukan kontak fisik saat sesi 'songong' berlangsung. Teriak-teriak boleh tapi sentuhan apalagi sampai nampar, dorong-dorong itu dilarang. Dan seperti yang kalian lihat di berita masih ada kampus yang memberlakukan kontak fisik saat sesi 'songong' berlangsung. Ada yang ditendang, dipukul, macam-macam. Sampai-sampai disuruh jalan jongkok ke suatu tempat rame-rame. Berlebihan sekali. Mereka itu mahasiswa bukan penjahat. Jadi perlakukanlah mereka selayaknya mahasiswa.

Makanya saya bilang OSPEK itu bukan lagi Orientasi Studi Pengenalan Kampus tapi Orientasi Songong Penghuni Kampus. Budaya jelek ini semestinya ditinggalkan. Karena akan jadi lingkaran setan yang terus menerus berlangsung. Junior yang dulu pernah digalakin sama seniornya akan 'balas dendam' dengan junior yang lain. Begitu terus tak ada habisnya.

Lalu solusi apa yang bisa kamu kasih, mbo? Mungkin ini bukan solusi terbaik, tapi tidak ada salahnya dicoba. Untuk OSPEK Indonesia yang lebih baik.

Pertama kembali ke tujuan OSPEK sebenarnya. Jika tujuannya adalah mengenalkan lingkungan kampus dan studi maka kenalkanlah secara wajar. Belajar bersosialisasi dengan sekitar kampus, keliling komplek kampus atau yang lainnya. Atau bisa juga bertanya-tanya di mana letak warteg yang murah meriah dengan porsi kuli, menurut saya lebih informatif dan menghibur. Hahaha. Karna warteg murah dan porsi kuli itu adalah surga buat mahasiswa.

Jika ingin berkenalan dengan kaka tingkat bisa dengan wawancara santai dengan mereka, apa yang mereka lakukan jika tidak ada kuliah, dimana mereka biasanya nongkrong untuk ngerjakan tugas, website apa saja yang mereka liat kalo lagi nyari bahan skripsi atau makalah. Nah selain berbagi informasi, kalian bisa jadi lebih akrab dengan kaka tingkat kan? Hehehe.

Kedua. Saya paham betul kenapa sesi 'songong' pada OSPEK itu harus ada. Tujuannya (lagi-lagi) melatih mental dan yang kedua agar junior tunduk dan respect dengan senior. Sebenarnya tidak perlu seperti itu. Untuk membuat mereka tunduk dan respect dengan kita lihat niatnya. Jika niatnya baik, pasti mereka sendiri yang berusaha untuk ngebaik-baikin kita. Selama ga ngerepotin kita bantu aja. Nah kalo ada yang ngelunjak baru deh tinggalin. Adik tingkat yang ngelunjak ga bakal dapat bantuan dari kaka tingkatnya. Mungkin ada yang ngebantu, tapi karna kasian bukan ikhlas. Hahaha.
sumber

MABA bakal selalu butuh kaka tingkat. Sebanyak-banyaknya kalian punya kawan sesama angkatan ga bakal cukup kalo ga ada bantuan kaka tingkat. Paling ga, kalian perlu kaka tingkat kalo mau minjem laporan praktikum atau Tugas Besar (anak teknik pasti Tugas Besar itu apaan). Nah kalo mereka ga ada minjem kemana?

Sesi 'songong' itu ga sepenuhnya nunjukkin 'kekejaman' dunia perkuliahan,kok. Dosen kalian ga mungkin kaya gitu. Mereka juga cape kali kalo teriak-teriak terus. Dan kalian sudah jadi MAHAsiswa, artinya pemikiran kalian itu harusnya lebih dewasa daripada anak SMA. Kalo kalian bandel sama dosen paling-paling dikasih nilai E di mata kuliah beliau. Hahaha. Dosen itu bukan guru yang kalo kalian bandel mereka bakalan negur mati-matian. Kalo kalian bandel ya tanggung sendiri resikonya. Kalian udah kuliah, masa yang kaya gitu masih ditegur juga?

Saya ingatkan satu hal : banyak uang belum tentu bisa membeli nilai. Karna ga semua dosen mau kaya begitu. Banyak belajar itu lebih masuk akal daripada banyak uang tapi ga pernah belajar. Sama aja boong.

Bagaimana Jika

Bagaimana Jika

Bagaimana Jika Kita Adalah Alien
Bagaimana jika kita adalah makhluk luar angkasa yang ternyata memusnahkan penghuni asli Bumi dan menjadikannya tempat tinggal kita? Kita sebenarnya adalah alien yang mengungsi karena di planet kita sudah rusak dan tidak bisa di tinggali lagi. Kita menemukan Bumi yang cocok dengan planet kita sebelumnya lalu berusaha untuk merebutnya dari makhluk asli Bumi. Karena teknologi kita yang terlampau maju dari mereka kita bisa berhasil memusnahkan mereka. Bagaimana jika itu benar?

Bagaimana Jika Tuhan itu Tidak Ada
Bagaimana jika Tuhan itu adalah sebuah rekaan belaka. Bahwa sesungguhnya manusia hanya ingin membuat sesuatu yang tingkatannya lebih tinggi dari mereka agar kehidupan di dunia ini bisa teratur dan terjaga. Agar tindakan manusia itu seolah-olah bisa dikontrol karena adanya Tuhan ini.

Bagaimana Jika Surga dan Neraka Itu Tidak Ada
Jika Tuhan tidak ada, maka semua yang ada di belakangnya pun menjadi meragukan. Termasuk kisah Surga dan Neraka. Bagaimana itu hanya diciptakan agar manusia berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan saja? Padahal sebenarnya hal semacam surga itu tak pernah benar-benar ada. Bisa saja yang namanya 'surga' itu adalah balasan kebaikan dari kebaikan yang sebelumnya kita lakukan. Bisa saja 'surga' dan 'neraka' itu bukanlah tempat, melainkan hanya sebuah nama.

Bagaimana Jika Semua Teori Yang Ada di Bumi Ini Salah
Semua teori yang telah diumumkan oleh para ilmuwan itu pasti berdasarkan riset. Namun bagaimana jika semua riset itu adalah salah? Bagaimana jika benua atlantik itu sebenarnya memang tidak tenggelam? Bagaimana jika sebenarnya Bumi ini tidaklah bulat? Bagaimana jika segitiga bermuda itu hanya karangan belaka yang menyembunyikan tujuan sebenarnya? Bagaimana jika temuan-temuan benda atau fosil pada zaman masa lalu itu semua diagnosanya salah? Bagaimana jika suku Maya itu sebenarnya bukan membuat kalender kiamat?

Biasakan untuk selalu mempertanyakan suatu hal. Karena dari sana kalian bisa mendapatkan hal baru. Jangan cuma diam saja mendengarkan apa penjelasan orang lain. Karena bisa saja mereka itu salah. Sikap skeptis sering kali perlu dilakukan. Agar kita bisa membuktikan kecurigaan kita. Bertanya adalah salah satunya. Banyak bertanya bukan berarti anda bodoh. Anda justru bodoh jika tidak bertanya hal yang terasa aneh bagi diri anda. Belajar untuk tidak menerima informasi mentah-mentah. Selidiki jika memang masih kurang mendapatkan penjelasan.

Pertanyaan-pertanyaan di atas hanya sebagian kecil dari pertanyaan yang ada di seluruh dunia. Jika seandainya jawaban dari pertanyaan ini adalah benar maka akan jadi sesuatu yang menggemparkan. Namun jika jawabannya benar bisa jadi memang itulah jawabannya.