Konsultan Perencana? Makanan apa itu?

Kamu kerjanya apa? Pertanyaan paling sulit gue jawab. Karna setelah gue jawab, mereka ga bakal langsung ngerti. Padahal cuman satu kata, tapi susah ngejelasinnya.

Konsultan.


Kata yang gue sendiri bingung ngejelasinnya gimana. Apalagi kalo gue tambahin kata berikutnya, pasti mereka makin bingung.


Konsultan Perencana.

konsultan perencana adalah
via mediaarsi.com

Orang awam itu taunya cuman Konsultan Hukum. Mungkin mereka sering liat di tv banyak konsultan hukum yang wara-wiri. Jadi cuman taunya itu aja. Padahal, konsultan ga cuman buat hukum. Banyak variannya. Kaya Indomie.

Konsultan itu banyak dari keuangan, kejiwaan (psikolog), hukum. Mereka itu ibarat genre lagu, genrenya pop. Nah, yang aliran indie itu kaya konsultan perencana, konsultan pengawas. Sayangnya gue kerja di aliran indie, konsultan perencana. Ga banyak orang yang tau, selain yang emang bersinggungan langsung sama kerjaannya.


Konsultan perencana kerjanya emang bisa dibilang underground. Tapi bukan berarti palsu, ya. Namanya juga "perencana" jadi ya emang ga keliatan hasilnya secara langsung. Perencana berarti merencanakan, kasarnya "menghayal", tapi ngehayalnya pake itung-itungan. Kerjaan anak teknik terutama teknik sipil dan teknik lingkungan, dari kuliah udah diajarin perencanaan. Kerja yang berhubungan sama teknik juga ga jauh-jauh dari itu.

Padahal, dulu waktu milih jurusan kuliah gue justru menghindari banget kuliah yang banyak itung-itungannya. Gue lemah di sana. Gue kuat di teori, analisis, tapi lemah kalo mantan update foto di instagram hitung-hitungan. Makanya milih jurusan Teknik Lingkungan. Eh, ternyata malah itung-itungan juga. Pengen ngehindarin ketemu mantan gebetan eh taunya ketemu sama mantan beneran. Emang ada mantan yang imitai? Eh imitasi?


Rata-rata anak teknik lingkungan, teknik sipil, ataupun teknik arsitek kerja di konsultan. Kalo ga jadi perencana ya pengawas. Setidaknya itu yang keliatan di kantor gue. Menurut gue, anak teknik yang pengen ilmu tekniknya kepake sehabis lulus, kerja di konsultan perencana atau pengawas udah paling cocok, deh. Karna semua ilmu teknik yang kita pelajarin bisa diaplikasikan di kerjaan.


Trus konsultan perencana itu sebenernya apa, sih? Makanan khas mana?


BUKAN MAKANAN! TAPI CEMILAN! PUAS?


Sepengetahuan gue, konsultan perencana itu ya planner. Perencana yang ditugaskan oleh instansi, biasanya dari Dinas Pekerjaan Umum entah itu tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota, untuk ngerjain proyek pemerintah. Proyek dari swasta juga biasanya dikerjain juga, tapi jarang.

Konsultan Perencana tuh hasil kerjaannya dokumen ataupun gambar desain istilah tekniknya DED (Detailed Engineering Design). Beda sama kontraktor (pemborong) yang hasil kerjaannya bentuk fisik. Karna tugas mereka emang ngerjain bagian fisiknya. Biasanya alurnya gini: (ini agak teknis bahasanya, kemungkinan rada membosankan. Jadi mohon bersabar.. ini ujian)


konsultan perencana adalah

Proyek sarana dan prasarana dari pemerintah sebelum dibuat fisiknya harus dibikin dulu dokumen perencanaannya. Nah, dokumen teknis perencanaan dan gambar desain (DED) ini dibuat sama konsultan perencana. --> Kalo udah kelar proyek perencanaannya, biasanya di tahun berikutnya bakal diadain lelang pekerjaan fisik sekalian lelang pekerjaan pengawasan -> Untuk pekerjaan fisik infrastruktur, yang ngerjain Kontraktor. Pedoman mereka buat ngerjain proyek itu dokumen teknis sama gambar desain dari Konsultan Perencana tadi. Kontraktor juga bakal dibantu sama Konsultan Pengawas.

Tugas Konsultan Pengawas itu beda sama Mandor. Kalo Mandor ngawasin tukang, posisinya di bawah kontraktor. Nah kalo Konsultan Pengawas tugasnya ngawasin kontraktor. Selain harus ngawasain kerjaan fisik, dia juga mesti ngawasin bahan dan barang yang dibeli sesuai sama apa yang diperlukan. Siapa tau ada yang kurang beli materialnya, itu tugas Konsultan Pengawas buat ngasih tau. Konsultan Pengawas harus berpedoman sama gambar desain yang udah dibikin sama Konsultan Perencana. Gambar perencanaan dan pekerjaan fisik harus sinkron, ga boleh beda. Nanti bisa jadi temuan kalo suatu saat Badan Pengawas Keuangan/Inspektorat meriksa hasil kerjaan mereka. Konsultan Pengawas juga mesti bikin laporan harian buat ngasih tau progress pekerjaan fisiknya.

Ngebuat dokumen teknis sama gambar desain itu ga segampang keliatannya. Kalo lokasinya udah ditentuin instansinya lebih gampang, misalnya di Kecamatan X, kita mesti tau dulu keadaan sekitar lokasi kaya gimana. Cocok ga kalo pekerjaan fisiknya dikerjain di sana? Gimana tanggapan masyarakat kalo misalnya proyek ini dikerjain, bersedia atau malah menolak? Kadang yang ga bisa diprediksi itu respon masyarakat sekitar. Ini tantangan sebenarnya di lapangan.

Harus survey berkali-kali kalo misalnya lokasinya belum ditentuin. Jadi si konsultan perencananya sendiri yang harus nyari lokasi yang cocok. Tantangannya lebih berat kalo yang kaya gini. Karna semakin lama nentuin lokasi, kerjaan juga bakal telat selesainya.Walaupun output-nya "cuma" dokumen, bukan berarti Konsultan Perencana bisa leyeh-leyeh ngerjainnya. Karna ini kerjaan pemerintah, ada kontraknya. Kalo telat bakal ada denda/kompensasi yang harus dibayar. Udah uang proyek ga cair, kita juga kena denda. Ruginya dobel.

Gila panjang juga gue ngejelasinnya. Itu baru luarnya doang padahal. Kurang lebihnya kaya gitu, deh. Mohon maaf kalo ada yang kurang. Dan siapa tau diantara kalian yang kerjaannya sama kaya gue dan ngerasa ada yang perlu dikoreksi kasih tau aja di kolom komen ya.

konsultan perencana adalah

Jadi intinya, jaringan pipa air minum yang dibikin buat ngalirin air bersih ke rumah kalian ataupun penataaan taman kota yang kalian nikmati sekarang adalah hasil dari perencanaan beberapa tahun. Bukan tau-tau jadi gitu aja. Ada proses panjang di dalamnya. Yang kalian liat itu adalah hasil dari seluruh proses panjang yang udah gue jelasin di atas.

Gue lagi seneng-senengnya sama kerjaan sekarang. Bikin dokumen teknis barti gue harus nulis. Dan karna emang suka nulis jadi udah ga kaget lagi harus ngetik banyak halaman. Tapi nulisnya ga sembarangan, pake bahasa teknik yang bisa dipahami sama orang awam. Kerjanya juga ga cuman duduk di belakang meja aja. Kadang gue juga ke lapangan buat survey lokasi kerjaan. Buat nambah data di dokumen yang lagi dikerjain. Asiklah, ga ngebosenin.

Tapi gue masih bermimpi bisa kerja di pemerintahan/BUMN. Biar gue bisa lebih banyak terlibat buat negara ini. Lebay banget bahasanya, tapi ya itulah cita-cita gue sekarang. Terlibat di dalam program pemerintah untuk bisa ngebantu rakyat jadi lebih maju. Untuk sekarang gue ngebantu dari sisi swasta dulu. Semoga dalam waktu dekat bisa ngebantu dari posisi yang lebih strategis. Aamiin.

Curhat Blogger Daerah

Beruntunglah kalian para blogger yang dilahirkan di ibukota. Karna masa depan dunia perbloggeran kalian setidaknya lebih jelas daripada blogger di daerah. Karna sepanjang yang gue tau, acara-acara yang ngelibatin blogger itu kebanyakan berpusat di Pulau Jawa. 

blogger daerah

Iri udah pasti. Kenapa kami, blogger-blogger daerah, malah minim perhatian dari mereka yang punya hajat? Padahal, potensi kami ga kalah menjanjikan daripada blogger-blogger ibukota. Memang hype-nya tak senyaring di sana, tapi kami selalu bergerak, kok. Kami hidup dan kami ada.

Kalo di ibukota sebulan bisa 4-5 kali ada acara yang ngundang blogger. Di Banjarmasin (Kalsel) 4-5 kali juga, dalam setahun. Saking jarangnya. Emang sih udah ada yang kenal sama kami, kalo mereka ada acara biasanya langsung ngehubungin. Tapi belum banyak brand yang kaya gitu di sini.

Gue pernah ngediskusiin hal ini ke grup blogger ibukota. Biar ga keliatan promosi, sebut saja depannya Warung belakangnya Blogger. Gue pernah lempar topik ini ke mereka. Dan tanggapannya macam-macam. Seru banget! Kaya diskusi gitu. Padahal iya.

Dari diskusi itu ada beberapa hal yang gue tangkap. Dan emang belum kami lakukan di sini. Di antaranya:

Internal Yang Solid

Sebelum "keluar" untuk promosi sama brand, internal anggotanya harus solid. Sering ngumpul, ada kegiatan off air yang dilakuin dan lainnya. Ga sekadar aktif di sosmed. Harus seimbang antara aktivitas offline dan online. Biar keliatan serius komunitasnya. Ga abal-abal, jadi brand percaya.

Ngumpulin Admin Sosmed/Selebgram/Selebtwit Lokal

Yang ini emang rada ga terorganisir, sih. Kami kenal sama beberapa admin akun berfollower berjibun di sini. Bukan Lambe_Turah, tapi lumayan lah kalo mau bikin "ngebakar timeline". Sayangnya cuman sekadar tau, ga difollow up jadi sumber daya yang baik buat promosi. Padahal kalo mereka ini digabungin, ga kebayang berapa banyak feedback yang bakal diterima sama brand yang diajakin kerjasama.

Buat Akun Sosmed

Sebenernya komunitas blogger Banjarmasin udah punya akun sosmed. Entah itu twitter, instagram, ataupun blog. Lumayan sering dipake buat media promosi acara sendiri atapun kerja sama. Biasanya sih kegiatan kemahasiswaan. Tapi karna terkendala kesibukan masing-masing, jad sekarang akunnya kaya mati suri. Update seperlunya aja. Ini yang gue rasa masih kurang. Padahal kalo bisa dimaksimalin, ga cuma acara sendiri atau yang lain bisa dipromoin tapi juga ngajakin temen-temen lain yang belum gabung ke komunitas.

Konsisten

Ini yang selalu jadi masalah di setiap komunitas. Susah buat konsisten. Termasuk kami. Karna kesibukan yang terus bertambah, kegiatan komunitas jadi sedikit terabaikan. Wajar, sih. Semuanya juga punya kegiatan masing-masing. Tantangannya di sini. Gimana sebuah komunitas bisa bikin anggotanya buat bergerak. Komunitas didirikan bersama-sama. Kalo cuman 1-2 orang yang gerak namanya bukan komunitas. Makanya harus selalu jaga kekompakan biar semangatnya terus terjaga.

* * *

Bukan berarti kami ngeblog karna pengen dapat goodie bag. Tapi kami pengen bisa dikenal kalo komunitas blogger itu bukan cuma ada di ibukota. Tapi ada di daerah juga. Dan kami punya potensi yang sama untuk berkembang.

Mungkin beberapa saran di atas bisa kita praktekin bareng-bareng. Ayo! Temen-temen komunitas blogger daerah yang lain, yang ngerasa senasib kaya kami, bangun sama-sama komunitasnya. Biar semangat ngeblognya selalu terjaga, ga cuman ngeblog karna ada acara aja.

Mengejar Ketidakpastian Dan Rhenald Kasali

Kenapa ya kita doyan banget menghindari hal-hal yang ga pasti? Kita selalu aja diarahin untuk nyari yang jelas-jelas. Bahkan hal "sejelas" Raisa aja, di mata Keenan Pearce bisa jadi bayang-bayang. Bisa jadi karna kita emang tipikal manusia yang takut ngambil resiko kali, ya? Entahlah gue juga bingung.


Einstein pernah bilang "Yang pasti itu tidak ada. Cuma 1 hal yang pasti di dunia ini, ya ketidakpastian itu sendiri"

Ngomongin ketidakpastian, udah 2 kali gue ngejar ketidakpastian dan selalu gagal. Ya apalagi kalo bukan acara rekrutmen NET TV beberapa waktu yang lalu. Ini emang gue yang bego atau tesnya yang susah? Awalnya gue ga mau ke sana karna emang udah pasrah ga dapat undangan nikahan mantan tes. 

Tapi Tuhan berkehendak lain. Gue pun berangkat naik elang. Tapi boong. Ga cuma naik elang, gue juga harus menanggung resiko dimarahin sama atasan di kantor, karna minta izinnya mendadak.

Semua itu resiko yang harus gue tunggang eh tanggung!

Isyana Jakarta emang menawarkan banyak ketidakpastian yang menggiurkan. Liat aja seberapa banyak orang yang mau bertaruh hidup mengais rezeki ke sana? Lebih-lebih kalo pasca lebaran. Kayanya, gue juga termasuk ke dalam golongan yang kaya gitu. 

Gue pengen tau aja, dari ngejar yang kaya gini, apa hikmah yang bisa diambil? Seberapa banyak "keuntungan" yang bisa diraup dari sekian banyak modal yang gue keluarkan. Untung ruginya harus dihitung. Ngapain cape-cape keluar modal pas pedekate kalo ujung-ujungnya cuman ditinggal nikah?

Meskipun banyak ketidakpastian yang ditawarkan, tetep aja gue mau nyobain terus. Ketagihan. Nagih kaya pelukan sama pacar. Gue pengen berjuang sampai titik penghabisan. Dan gue emang niatnya pengen nyari kerja di Pulau Jawa. Tapi bukan di Jakarta, Bandung lebih tepatnya.

Entah kenapa Bandung selalu menarik buat gue. Kotanya cantik kalo menurut gue, cewenya juga cantik. Cowonya ga kalah cantik. Meskipun sering kena macet kalo lagi weekend, tapi gue tetep suka. Ada aura yang beda. Kaya kamu dan tv one, berani beda.

Eh.. malah ngomongin Bandung.

Kita kan emang hidup di dalam ketidakpastian. Coba bayangin, kalian tau ga besok itu kalian bakal bisa hidup? Kalian yakin hidup kalian masih kaya gini besok? Kalian yakin pacar yang selama ini dibangga-banggain itu setia sampe besok? Ga pasti juga kan? Soal kerja tadi, walaupun udah pasti, kalian yakin bisa betah di sana? Sama suasananya? Kerjaannya?


mdp IV net
Didotz, Icha, gue

Dari yang ga pasti ini, kita semua bisa jadi kaya sekarang. Kita di saat ini, ditentukan oleh pilihan kita di masa lalu. Dari hal-hal yang ga pasti kaya gini, kita jadi seorang risk taker. Walaupun sebenarnya, gue dan juga beberapa dari kalian pasti ga suka ngambil resiko.

Gue ke Jakarta dengan segudang cucu. Eh bukan! Resiko. Selain ga pasti lulus (dan emang ga lulus pada akhirnya), gue juga ga pasti dapat izin dari atasan. Modal nekad, akhirnya gue ambil itu semua. Kalo ga gitu, gue akan tau hasilnya kaya gimana. Pokoknya coba aja dulu.

Walaupun pada akhirnya gue ga lulus. Tapi gue seneng. Akhirnya gue bisa ketemu beberapa temen dari MDP IV yang sebelumnya cuman bisa ngeliat di foto-foto yang mereka share di grup waktu ngumpul. Ada Didotz, Ica, Nuri yang ngebawain bolu meranti asli Medan, Yuni dan juga yang lainnya. 

Selain itu gue juga bisa ketemu sama temen baru, Gebi, Dwiki, Vivi, dan MIa di MDP V. Belakangan gue tau, kalo si Mia ternyata juga pernah ikutan MDP IV. Ternyata dia senasib sama gue, cuman nyampe tahap psikotes. Dan MDP V juga gitu hahaha.. emang kompak.

Ketemu sama anak WWF juga, si Mia yang gue ajakin iseng buat ikutan MDP V. Dia juga ga lulus. Sedih sih tapi karna iseng kayanya dia selow aja dah. Lagian rumah dia di Depok juga, ga perlu keluar modal banyak kaya gue.

Satu yang paling berkesan dari kunjungan ketidakpastian ini adalah gue ketemu langsung sama Prof. Rhenald Kasali. Adalah mamang Ayub yang ngajakin gue buat menghadiri peluncuran buku beliau yang terbaru: 30 Paspor. Well, yang nulis sih Bang Jombang itu, tapi yang punya idenya tetap Prof. Rhenald.

Rhenald Kasali

Gue diajakin Ayub ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Perpustakaan yang di dalamnya ada Setarbak. Ngapain coba? Itu mall apa perpus? Gagal paham gue. Di samping perpus ada ruangan kecil semacam auditorium mini. Acara launching-nya diadain di sana. Dan itu gratis buat siapa aja yang mau datang. Kebetulan Perpus UI lagi ngerayain ultah, jadi peluncuran buku ini adalah salah 1 dari serangkaian acaranya.

Dalam speech-nya, Prof Rhenald kurang lebih bilang begini:


Dari awal mata kuliah Pemasaran Internasional, semua mahasiswa saya akan langsung disuruh menentukan 1 negara untuk dikunjungi dan 1 angaktan ga boleh ada yang sama negaranya. Kalopun terpaksa harus beda wilayah. Sendirian dan tidak boleh serumpun dengan Indonesia. Dananya? Cari sendiri, entah itu dengan sponsor, kerja tambahan, apa saja asal tidak boleh minta orang tua. 
Banyak alumni 30 paspor yang sekarang sukses di bidangnya masing-masing. Contohnya founder kitabisa.com adalah salah satu alumni dari 30 Paspor. Kemandirian membuat seorang manusia bisa dengan cepat mengambil keputusan, mereka bisa bicara dengan diri mereka sendiri. Karna hanya itulah yang bisa mereka andalkan. Dengan demikian mereka pun terlatih untuk tidak bergantung dengan orang lain. Mata kuliah Pemasaran Internasional yang saya pegang, ga pernah mengajarkan hal ini di buku manapun. Tapi dengan begini, mereka bisa mengaplikasikan mata kuliah yang saya berikan secara langsung.
prof rhenald kasali

Misi mereka di luar negeri bukan cuma sekadar mengunjungin negara orang terus pulang. Tapi juga harus melakukan sesuatu di sana untuk dibawa pulang dan diceritakan kepada teman-teman yang lain. Untuk 30 Paspor edisi kali ini, mereka ditugaskan untuk menjadi "duta perdamaian" untuk Indonesia ke setiap negara yang mereka kunjungi. 
Kalo anak-anak kita ga diajarin mandiri dari sekarang, mereka akan terus bergantung sama orang tuanya. Padahal yang bakal ngehadapin masa depan bukan kita, tapi anak-anak kita. Makanya mereka saya kirim ke luar negeri, sendirian, dan ga boleh ngunjungin negeri yang serumpun sama Indonesia. Biar mereka tau gimana caranya mengambil keputusan, gimana caranya mereka harus mengandalkan diri mereka sendiri, kalo tersesat harus ngapain, biarkan mereka di lepas sendiri. Sebagian orang tua pasti nganggap hal ini gila, ngelepas anak mereka sendirian di tengah negara yang ga mereka kenal. Tapi ini adalah treatment paling ampuh untuk membuat mereka mandiri secara penuh, dan membuat mereka bermetamorfosis menjadi "seekor burung Garuda". 
Pidato beliau ini jelas versi upgrade dari keinginan gue untuk merantau yang udah dicanangkan semenjak 3 tahun yang lalu. Sama persis. Bedanya gue cuman "berani" di dalam negeri, sementara mahasiswa beliau udah berangkat ke luar negeri. Sendirian pula!

Ego gue langsung terusik mendengar hal ini. Semacam ada rasa kesel, sebel, iri, dengki ngeliat mereka. Kenapa gue ga bisa kaya mereka? Semenjak pidato beliau itu, gue langsung berpikir untuk segera ngerencanain buat berangkat ke luar negeri. Gimana pun caranya!

Perjalanan kali ini, yang kata Mama adalah sebuah ketidakpastian, membuka mata gue. Bahwa ternyata masih banyak hal yang belum gue lakuin. Gue masih ciprik belum ada apa-apanya. Mereka udah berangkat ke luar negeri semua, pake uang sendiri. Padahal masih kuliah dan belum pada kerja. Sementara gue? Halah! TLQ PTQ!

Gue yakin 100% kalo bilang rencana ini duluan ke Mama, udah pasti ga dikasih izin. Yakin banget gue. Dia emang ga bisa ngeliat anaknya pergi jauh-jauh. Yang kemaren ke Jakarta aja, gue rada berat ninggalin Mama sendirian.

Jadi rencana ini akan gue simpan rapat-rapat dulu sebelum semuanya jelas, siap dan pasti. Meskipun nyampe sana gue ga pasti mau ngapain. Lah gimana?

Ya emang sih keliling Indonesia aja belum kelar. Tapi itu rasanya kurang greget aja. Gue udah keliling Jogja, sebagian Jakarta, Bali, sebagian Bandung. Kalimantan aja belum semua. Kal-Teng cuman Palangkaraya doang. Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Tarakan malah belum pernah sama sekali. 
rhenald kasali



Gue rasa emang ini kesempatan yang pas buat berangkat. Mumpung masih single dan insha allah uangnya cukup. 

Kalo kalian gimana? BIar jadi mandiri dan bisa ngandalin diri sendiri apa yang kalian lakuin?

Catatan Perjalanan Bali-Jawa: JOGJA!

Sebetulnya, liburan di Jakarta direncanain 3 hari. Tapi ngeliat situasi yang ga memungkinkan gue memutuskan cuman 2 hari. Di hari ke-3 langsung cus ke Jogja. Karna naik pesawat nampak terlalu hedon, gue pengen nyobain naik kereta.




Niat naik kereta sempet dibikin parno sama Mama (yang orangnya emang parnoan). Dia bilang kalo gue harus naik kereta yang bisnis atau eksekutif. Karna kalo naik yang ekonomi banyak pedagang asongan. Ya, gila aja gue ambil bisnis atau eksekutif! Harga tiketnya mahal banget! Durasinya sama aja 7 jam 42 menit juga! Dih!

Akhirnya gue ambil kereta eksekutif. Takut kualat.

Belakangan Mama tau sekarang pedagang asongan udah ga boleh masuk ke stasiun lagi. Kalo udah ga dikasih masuk dari stasiun, gimana mereka bisa ada di gerbong? Dulu kumuh banget, sekarang udah keren dan rapi kaya bandara! Goks!

Karna berangkat pas weekday jadi gerbong yang gue masukin cendrung kosong. Di gerbong gue yang heboh itu cuman rombongan anggota DPRD (dari topik pembicaraannya yang ga jauh-jauh dari komisi X, komisi Z, walikota, pemda, dll,dkk). Mereka ada sekitr 6 atau 7 orang gitu. Berisik.

7 jam cuman duduk doang cukup bikin pantat gempor. Seandainya bawa laptop, gue bisa nulis banyak! Sialnya malah ga bawa laptop. "bekal' di jalan cuman handphone sama buku yang gue bawa dari rumah. Sungguh sebuah ke-gabut-an yang ga efisien sekali.

Oiya, kereta yang gue naikin namanya Taksaka. Enak, bersih, rapi, pramugari(?)nya ramah. Kurangnya cuman ga ada monitor di tiap bangku aja, sih. Tiap gerbong cuman dikasih 2 tv. 1 di bagian depan 1 di belakang. Dan posisi gue kurang strategis untuk nonton tv-nya. Laptop kaga bawa, nonton tv pun ga bisa. Lengkap sudah.

Soal ketepatan waktu kereta api juara banget. Entah gue yang terlalu udik ngeliat ini atau emang pelayanannya oke. Jam berangkat dan jam tibanya sama persis di tiket. Padahal udah diselingi mampir ke 5 stasiun.

Temen-temen SMA gue udah duluan nyampe Jogja 2 hari sebelumnya. Jadi gue ketinggalan sebagian agenda mereka. Setelah sekian lama cuman bisa piknik bareng di sekitaran Kalsel aja. Ini pertama kalinya gue liburan bareng mereka di Pulau Jawa. Total kami ada 6 orang.

Selama di Jogja kami nyewa motor, enak buat jalan kemana-mana. Gue yang paling ribet bawaannya. Karna harus ngangkut koper. Temen-temen pada protes ngapa gue pake koper. Ya kalo sehari dua hari doang ngapain juga bawa koper? Kan dari Bali sono berangkatnye, mau ga mau mesti bawa koper -_-

Sebelum pulang ke asrama, kami makan lotek porsi "astagirifullah" di deket UGM. Sebenernya nama warungnya Lotek Sagan, sih. Tapi setelah mesen dan liat porsinya, gue langsung istigfar. BUANYAK BANGET! Asli deh kalo kalian ga lapar banget mending gausah ke sini. Tapi enak. Gue baru pertama kali makan lotek langsung nagih. Sayangnya ga bisa nambah karna kekenyangan.



Niatnya di Jogja mau ketemuan sama salah satu anak WWF. Si Ayunda, tapi sayang dia lagi hectic wisudaan jadi ga sempet. Semoga di lain waktu bisa ketemu dia dan anak-anak WWF yang di Jogja lainnya.

Setelah puas hampir mati kekenyangan makan lotek, akhirnya pulang ke asrama. Gue awalnya ga menduga bakal nginep di asrama. Mereka bilangnya nginep di guest house. Gue lupa kalo yang lagi diajak ngomong ini manusia-manusia kampret yang kalo boongin orang sekongkolan semua.

Yaudahlah akhirnya harus terima nasib tidur berjejal di sebuah kamar asrama yang kecil berisikan 6 orang makhluk hidup. Kalo kaya gini jadi inget waktu ngekos bareng mereka. Padahal kamar deket-deketan, tapi karna males tidur sendiri, jadi tidurnya di 1 kamar rame-rame. 

Ternyata di Jogja temen-temen gue sama sekali ga nyiapin itinerary dari awal. Tujuannya random aja gitu. Tergantung hasil googling. Sementara gue yang ga tau apa-apa soal Jogja cuman manut ngikut sama mereka. Gue orangnya males repot, sih. Tapi resikonya ga boleh ngeluh dan banyak protes.

Selama di Jogja kami lebih banyak ngunjungin tempat-tempat wisata hiburan. Inilah agenda wisata yang gue idam-idamkan. Ga perlu belanja-belenji yang ga penting. Mending ngunjungin tempat-tempat kece buat foto. Kan lumayan nambahin feed instagram.

Beberapa tempat yang sempet kami kunjungin antara lain, Goa Pindul, Bukit Bintang, Candi Borobudur (destinasi wajib sih kalo ini), Gereja Ayam (yang sebenernya Merpati) di Bukit Rhema, Museum D'Mata yang ternyata studio foto 3D, Taman Pintar di deket Malioboro, Tugu Yogja (ga boleh ketinggalan). Mungkin sebagian bakal gue ceritain di tulisan yang lain.

candi borobudur jogja

Satu hal yang paling nempel di kepala gue tentang Jogja adalah lampu merahnya. Lampu merahnya banyak banget! Hampir di tiap simpangan punya lampu merah. Kalo kita ngelewatin simpangan ada 4 kali, barti lampu merah yang mesti kita lewatin ada 5. Ya gitulah kira-kira rasionya.

Jogja walaupun keliatan padat tapi macetnya ga separah Jakarta, sih. Kurang lebih kaya di Banjarmasin juga. Macetnya "masih" seminggu sekali pas weekend doang. Suasananya juga mirip kaya Banjarmasin. Kalo mesti tinggal lebih lama di Jogja mau gue. Asal dapat tempat berteduh dan makan yang enak.

Jogja jadi kota pertama di luar Kalsel gue nyobain jalan-jalan naik motor sendiri. Kalo sama ortu udah jelas ga dibolehin hahaha. Karna ini sama temen-temen gue bisa lebih bebas. Lumayan lah ngerasain jalan-jalan di kota orang sendirian. Walaupun harus nyasar dulu.

Hal yang gue sayangkan adalah kami pulang dengan sangat terburu-buru. Ini karna kebiasaan kami yang suka lelet kalo siap-siap. Terlalu santai. Ortu gue, terutama bapa paling anti telat kalo masalah akomodasi pergi jauh kaya gini. Apalagi pesawat, dia harus tiba 2 jam sebelum boarding time. Ya karna emang peraturannya kaya gitu.

Hari terakhir kami di Jogja serba ngebut. Karna kami pulang ke Banjarmasin via Solo, jadi kami harus naik kereta dulu dari stasiun Jogja. Terlambat 2 menit aja, kami ditinggal sama kereta. Di bandara pun begitu. Terlalu santai. Waktu tinggal sejam lagi mau boarding, kami pesan makan, eh taunya setengah jam sebeum boarding time udah panggilan ke-2. 

Makanan yang niatnya kami makan di tempat terpaksa harus kami bungkus. Gue udah panik karna takut ketinggalan pesawat, buru-buru check in duluan. Gue ga peduli temen-temen gue masih beberes hahaha. Gila gue ga pernah dapat panggilan kedua kaya begitu sebelumnya. Jelas aja gue panik.

gua pindul jogja

Dan emang pada akhirnya kamilah penumpang terakhir yang naik ke pesawat. Kampret banget. Masih untung ditungguin sama pilotnya. Kalo kaga? Kelar deh nginep di Solo nunggu pesawat esok hari.

Saking paniknya gue udah ga sempet pamitan sama temen yang nganter ke bandara. Gue baru inget pas udah di atas pesawat. Kaya orang ga tau terimakasih aja jadinya. Ngerasa bersalah tapi mau gimana lagi. Semoga ada rezeki bisa ketemu lagi dan minta maaf.

Ghost In The Shell: Scarlet Johansson Versi Sibernatik

Gimana kalo teknologi robot masa depan bisa bersatu sama tubuh manusia? Pertanyaaan gila seperti ini bisa sedikit terjawab waktu nonton Ghost In The Shell.

ghost in the shell
via id.bookmyshow.com


Versi live action dari anime dengan judul yang sama ini, diperankan sama kesayangan kita semua, Scarlet Johansson. Tante Scarjo, kebagian peran utama di Ghost In The Shell. Puas banget liat wajahnya yang sangar-sangar cantik itu di layar bioskop segede gaban.

Walaupun judulnya Ghost In The Shell tapi film ini sama sekali ga ada unsur horrornya. Kata "ghost" di sini merepresentasikan "roh" bukan "hantu". Tenang aja filmnya ga nakutin kok. Yang takut nonton film horror ga perlu cemas nonton Ghost In The Shell.

Diceritakan pada zaman itu kemajuan teknologi masa depan mengaburkan batas antara manusia dan robot. Sampe ada percobaan cangkok otak manusia ke dalam tubuh buatan. Dan Perusahaan Hanka Robotics yang berhasil melakukan percobaan itu.

Scarlet Johansson yang meranin Mayor Mirai Killian, beruntung banget bisa jadi eksperimen yang berhasil. Karna keberhasilan ini, ngebuat dia jadi satu-satunya manusia sibernatika di dunia. Otomatis jadi paling kuat, tugasnya jadi pembasmi kejahatan. Produk unggulan Hanka Robotics, masa depan perusahaan. Begitu kata Pimpinan Hanka Robotics.

Ternyata program cangkok otak ini ga selamanya berjalan mulus. Mayor selalu diganggu sama ingatan masa lalunya kala ia masih jadi manusia. Tapi karna pihak perusahaan melakukan sesuatu terhadapnya, dia cuman bisa mengingat potongan-potongan aja. 

Dari sinilah konfliknya dimulai. Mayor Mirai mencari tau jati dirinya di masa lalu menggunakan tubuh sibernatiknya itu. Sambil memerangi orang yang mencoba meretas jaringan perusahaan dan juga membunuh satu per satu ilmuwannya, dia ketemu sama Kuze (Michael Pitt). Trus ngapain dia sama Kuze? Mwehehehe nonton sendiri aja lah ya.

Menurut gue alurnya rapih banget. Ga ada yang bikin gue sampe bertanya-tanya. Kadang ada beberapa film yang bikin penontonnya, terutama gue, penasaran sampe filmnya abis. Buat gue Ghost In The Shell bukan termasuk kategori kaya gitu. Gue yang ga pernah tau ada versi anime dari film ini, masih bisa ngikutin ceritanya kok.

ghost in the shell
via id.bookmyshow.com

Karna ini versi live action pasti ada yang beda sama versi anime-nya. Terutama dari sisi karakter utama. Kalo di anime namanya Mokoto Kusanagi, di sini justru Mirai Killian. Tapi emang pada akhirnya dia tau kalo sebenernya nama aslinya Mokoto. Mungkin karna nyesuaikan sama pemerannya yang dari Amerika kali, ya? 

Jarang banget di film Hollywood pemeran utamanya dari Asia. Walaupun filmnya hasil copas konten dari Asia kaya gini. Atau gue yang salah? Kalo kalian pernah liat/nonton film hollywood pemeran utamanya dari Asia kasih tau di kolom komen, ya!

Overall, film Ghost In The Shell ini enak kok buat ditonton. Dengan sentuhan CGI yang futuristik, kalian bisa ngebayangin gimana Jepang di masa depan. Gambarannya lumayan detail. Dari iklan 3D di atap-atap gedung, sampe teknologi pertahanan macam Tank Laba-Laba bisa kalian liat di sini.

Scarlet Johansson juga tampil lumayan seksi di sini. Dia make kostum robot sibernatikanya bikin dia seolah-olah telanjang. Walaupun ga ada adegan tidak senonoh atau kata-kata kasar, tapi tetep aja film ini ga cocok ditonton untuk anak-anak.




Film ini ratenya PG-13. Artinya ga cocok ditonton untuk kalangan 13 tahun ke bawah. Tapi masih ada aja gitu orang tua yang bawa bocah nonton ini. Gue rasa mereka ini penonton "kesasar" yang kehabisan tiket nonton film khusus anak-anak yang tayangnya barengan.

Gue masih berharap orang tua ngecek rating filmnya dulu sebelum ngajakin anak-anaknya nonton. Googling aja rateing film itu kaya gimana. Banyak kok. Asal rajin nyari aja.

Bijaklah menonton film dari sekarang.