Kurban Online dan Hukum dalam Agama

Bulan Dzulhijjah bentar lagi bakal datang. Bulan Dzulhijjah itu bulan yang banyak ditunggu sama umat muslim. Karna seperti yang kalian tau hari raya Idul Adha identik sama kurban. Di hari raya ini, umat muslim di seluruh dunia disaranin bisa berkurban dengan hewan kaya Kambing, Domba, Sapi atau Unta. Asal bukan perasaan.

Dengan berkurban, maka kita bisa lebih mendekatkan diri sama Allah SWT. Berkurban juga bisa jadi salah satu cara kita bersyukur atas segala rezeki dan kebahagiaan yang telah didapatkan.

kurban online dan hukum dalam agama

Di era yang makin modern dan berkembang ini, masyarakat nemuin sistem baru buat berkurban, yaitu dengan sistem online. Teknologi yang canggih dan kepraktisan pun diharapkan bisa ngebantu masyarakat jadi ga perlu ada halangan lagi kalo mau berkurban. Sistem kurban online ini dilakuin dengan cara yang gampang banget. Caranya cukup transfer sejumlah uang ke panitia sebesar harga kurbannya. Terus dengan uang itu, panitia penyelenggara bakal ngelakuin pembelian hewan kurban buat orang yang udah bayar tadi dan bisa dilakukan penyembelihan.

Kemudian di akhir proses sitem kurban online ini, daging dari potongan hewan kurban bakal dibagikan ke orang yang emang membutuhkan dan ada di daerah lainnya. Walaupun mudah dan praktis, tapi kita selaku orang yang berkurban ga tau siapa yang nyembelih hewan kurban kita. Dan ga ada jaminan apa emang uang yang ditransfer itu betul dipake buat kurban atau ga. Ga ada jaminan 100% karena hanya prinsip kepercayaan aja kurban secara online bisa dilakuin.

Mungkin sekarang ini banyak yang masih bingung terkait hukum kurban secara online ini. Berdasarkan pendapat dari para ulama, kurban secara online ini dibolehkan karena ga ada dalil yang jelas terkait hal ini beserta pelarangannya. Walaupun begitu, ada konsekuensi dari berkurban secara online ini, kita ga bisa tau keberadaan nyata hewan kurban kita. Karena ga bisa ngeliat secara langsung proses penyembelihannya. 

Selain itu, biasanya 1/3 dari bagian hewan kurban tersebut bakal dikasih ke pemiliknya jadi bisa disedekahin buat orang lain. Tentu aja hal ini ga bakal berlaku buat kita yang berkurban dengan cara online.

Hukum yang biasa dilaksanakan adalah orang yang berkurban bisa ngeliat sendiri proses penyembelihan nya. Tapi tetap bisa diwakilkan sama orang lain. Proses utama ini juga ga akan bisa dirasain bagi orang yang berkurban secara online. 

Sehingga ini jadi kekurangan buat sistem ini. Bagi kita yang emang punya kemudahan buat berkurban, alangkah baiknya berkurban langsung jadi semua prosesnya bisa diliat langsung. Tapi kalo ada halangan misalnya lagi di luar negeri, bisa aja kurban secara online.


Untuk Kalian Yang Benci Dengan Masa Lalu Sendiri

Berapa umur kalian sekarang?

Berapa kesedihan yang sudah kalian lewati? Berapa banyak kebahagiaan menghampiri? Apakah terlalu banyak kesedihan lalu kemudian kalian membencinya? Sampai tak mau lagi mengingatnya dan berusaha menganggapnya tak pernah terjadi.

Untuk Kalian Yang Benci Dengan Masa Lalu Sendiri

Karna hidup kalian adalah kumpulan hari-hari. Dimana di antaranya terselip hari bahagia disela hari gelap. Dan hari kelabu yang terselip di antara hari bahagia. Kita ga tau hari apa yang mengetuk pintu rumah kita esok hari.

Bisa jadi hari buruk yang bahkan kalian ga bisa ngebayangin hal itu bakal kejadian. Sampai akhirnya kejadian itu selalu terngiang-ngiang di kepala. Saking buruknya.

Tapi sekuat apapun kalian ngelupain, ingatan akan hari buruk itu justru semakin melekat. Semakin kalian mengingatnya, semakin benci akan hal itu. Sedikit saja ada hal yang membuat kalian ingat, tubuh kalian menggigil, mual. Pokoknya segala cara dilakuin biar lupa. Tapi ga bisa, kan?

Mau sampai kapan kaya gitu terus? Kapan kalian mengizinkan tubuh kalian untuk bisa nerima semua itu? Kenapa harus menolak semuanya? Kenapa ga coba untuk menerima?

Terima kalo kalian pernah punya masa lalu yang suram. Jelek. Hitam. Pahit. Bahkan kopi pahit yang kalian minum, masih lebih manis dibandingkan masa lalu yang pernah kalian alami. Kenapa harus dibenci? 

Apalagi yang kalian harapkan dari masa lalu? Semuanya udah terjadi dan ga ada yang bisa diubah. Sebenci-bencinya dengan masa lalu, dia akan tetep aja begitu. Ada dan ga kemana-mana.

Yang bisa kalian ubah itu masa depan. Fokus sama itu aja. Masa depan kalian jauh lebih berharga daripada harus ngurus masa lalu. Memang, hidup kalian yang sekarang itu adalah hasil yang kelakuan kita di masa lalu. Ga bisa dipungkiri. Emang itu faktanya. Tapi yaudahla.

IPK rendah dan sulit nyari kerja atau mungkin badan kecil kaya gue ga bisa daftar di perusahaan yang masukin persyaratan tinggi badan. Benci pasti. Ada temen yang bisa masuk di perusahaan yang selama ini kita impikan, dia cuman sekali coba langsung lulus. Benci banget pasti.

Tapi yaudahla, mau gimana juga itu udah ga bisa diubah lagi. Sebenci apapun, tetep aja kaya gitu. Udah dari sononya. Kaya Matahari deh, mau kita seneng, sedih tetep aja dia terbit. Ga peduli mendung, cerah, kabut tetep aja dia terbit.

Semua kenangan buruk, hari-hari menyakitkan itu akan selalu ikut kemanapun kalian pergi. Mereka akan selalu ada dan kalian ga bisa ngelawan itu. Kalo ngelawan gue yakin ga akan menang. Gimana pun caranya. 

Jadi, lebih baik berdamai dengan semuanya. Kenangan buruk, hari-hari menyedihkan, dan semua yang hitam, pahit yang pernah kalian alami. Berdamai dengan diri sendiri. Karna sejatinya hidup itu bukan perkara menang atau kalah. Hidup itu perjalanan panjang memaknai keberadaan diri kalian sendiri. 

Konsultan Perencana? Makanan apa itu?

Kamu kerjanya apa? Pertanyaan paling sulit gue jawab. Karna setelah gue jawab, mereka ga bakal langsung ngerti. Padahal cuman satu kata, tapi susah ngejelasinnya.

Konsultan.


Kata yang gue sendiri bingung ngejelasinnya gimana. Apalagi kalo gue tambahin kata berikutnya, pasti mereka makin bingung.


Konsultan Perencana.

konsultan perencana adalah
via mediaarsi.com

Orang awam itu taunya cuman Konsultan Hukum. Mungkin mereka sering liat di tv banyak konsultan hukum yang wara-wiri. Jadi cuman taunya itu aja. Padahal, konsultan ga cuman buat hukum. Banyak variannya. Kaya Indomie.

Konsultan itu banyak dari keuangan, kejiwaan (psikolog), hukum. Mereka itu ibarat genre lagu, genrenya pop. Nah, yang aliran indie itu kaya konsultan perencana, konsultan pengawas. Sayangnya gue kerja di aliran indie, konsultan perencana. Ga banyak orang yang tau, selain yang emang bersinggungan langsung sama kerjaannya.


Konsultan perencana kerjanya emang bisa dibilang underground. Tapi bukan berarti palsu, ya. Namanya juga "perencana" jadi ya emang ga keliatan hasilnya secara langsung. Perencana berarti merencanakan, kasarnya "menghayal", tapi ngehayalnya pake itung-itungan. Kerjaan anak teknik terutama teknik sipil dan teknik lingkungan, dari kuliah udah diajarin perencanaan. Kerja yang berhubungan sama teknik juga ga jauh-jauh dari itu.

Padahal, dulu waktu milih jurusan kuliah gue justru menghindari banget kuliah yang banyak itung-itungannya. Gue lemah di sana. Gue kuat di teori, analisis, tapi lemah kalo mantan update foto di instagram hitung-hitungan. Makanya milih jurusan Teknik Lingkungan. Eh, ternyata malah itung-itungan juga. Pengen ngehindarin ketemu mantan gebetan eh taunya ketemu sama mantan beneran. Emang ada mantan yang imitai? Eh imitasi?


Rata-rata anak teknik lingkungan, teknik sipil, ataupun teknik arsitek kerja di konsultan. Kalo ga jadi perencana ya pengawas. Setidaknya itu yang keliatan di kantor gue. Menurut gue, anak teknik yang pengen ilmu tekniknya kepake sehabis lulus, kerja di konsultan perencana atau pengawas udah paling cocok, deh. Karna semua ilmu teknik yang kita pelajarin bisa diaplikasikan di kerjaan.


Trus konsultan perencana itu sebenernya apa, sih? Makanan khas mana?


BUKAN MAKANAN! TAPI CEMILAN! PUAS?


Sepengetahuan gue, konsultan perencana itu ya planner. Perencana yang ditugaskan oleh instansi, biasanya dari Dinas Pekerjaan Umum entah itu tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota, untuk ngerjain proyek pemerintah. Proyek dari swasta juga biasanya dikerjain juga, tapi jarang.

Konsultan Perencana tuh hasil kerjaannya dokumen ataupun gambar desain istilah tekniknya DED (Detailed Engineering Design). Beda sama kontraktor (pemborong) yang hasil kerjaannya bentuk fisik. Karna tugas mereka emang ngerjain bagian fisiknya. Biasanya alurnya gini: (ini agak teknis bahasanya, kemungkinan rada membosankan. Jadi mohon bersabar.. ini ujian)


konsultan perencana adalah

Proyek sarana dan prasarana dari pemerintah sebelum dibuat fisiknya harus dibikin dulu dokumen perencanaannya. Nah, dokumen teknis perencanaan dan gambar desain (DED) ini dibuat sama konsultan perencana. --> Kalo udah kelar proyek perencanaannya, biasanya di tahun berikutnya bakal diadain lelang pekerjaan fisik sekalian lelang pekerjaan pengawasan -> Untuk pekerjaan fisik infrastruktur, yang ngerjain Kontraktor. Pedoman mereka buat ngerjain proyek itu dokumen teknis sama gambar desain dari Konsultan Perencana tadi. Kontraktor juga bakal dibantu sama Konsultan Pengawas.

Tugas Konsultan Pengawas itu beda sama Mandor. Kalo Mandor ngawasin tukang, posisinya di bawah kontraktor. Nah kalo Konsultan Pengawas tugasnya ngawasin kontraktor. Selain harus ngawasain kerjaan fisik, dia juga mesti ngawasin bahan dan barang yang dibeli sesuai sama apa yang diperlukan. Siapa tau ada yang kurang beli materialnya, itu tugas Konsultan Pengawas buat ngasih tau. Konsultan Pengawas harus berpedoman sama gambar desain yang udah dibikin sama Konsultan Perencana. Gambar perencanaan dan pekerjaan fisik harus sinkron, ga boleh beda. Nanti bisa jadi temuan kalo suatu saat Badan Pengawas Keuangan/Inspektorat meriksa hasil kerjaan mereka. Konsultan Pengawas juga mesti bikin laporan harian buat ngasih tau progress pekerjaan fisiknya.

Ngebuat dokumen teknis sama gambar desain itu ga segampang keliatannya. Kalo lokasinya udah ditentuin instansinya lebih gampang, misalnya di Kecamatan X, kita mesti tau dulu keadaan sekitar lokasi kaya gimana. Cocok ga kalo pekerjaan fisiknya dikerjain di sana? Gimana tanggapan masyarakat kalo misalnya proyek ini dikerjain, bersedia atau malah menolak? Kadang yang ga bisa diprediksi itu respon masyarakat sekitar. Ini tantangan sebenarnya di lapangan.

Harus survey berkali-kali kalo misalnya lokasinya belum ditentuin. Jadi si konsultan perencananya sendiri yang harus nyari lokasi yang cocok. Tantangannya lebih berat kalo yang kaya gini. Karna semakin lama nentuin lokasi, kerjaan juga bakal telat selesainya.Walaupun output-nya "cuma" dokumen, bukan berarti Konsultan Perencana bisa leyeh-leyeh ngerjainnya. Karna ini kerjaan pemerintah, ada kontraknya. Kalo telat bakal ada denda/kompensasi yang harus dibayar. Udah uang proyek ga cair, kita juga kena denda. Ruginya dobel.

Gila panjang juga gue ngejelasinnya. Itu baru luarnya doang padahal. Kurang lebihnya kaya gitu, deh. Mohon maaf kalo ada yang kurang. Dan siapa tau diantara kalian yang kerjaannya sama kaya gue dan ngerasa ada yang perlu dikoreksi kasih tau aja di kolom komen ya.

konsultan perencana adalah

Jadi intinya, jaringan pipa air minum yang dibikin buat ngalirin air bersih ke rumah kalian ataupun penataaan taman kota yang kalian nikmati sekarang adalah hasil dari perencanaan beberapa tahun. Bukan tau-tau jadi gitu aja. Ada proses panjang di dalamnya. Yang kalian liat itu adalah hasil dari seluruh proses panjang yang udah gue jelasin di atas.

Gue lagi seneng-senengnya sama kerjaan sekarang. Bikin dokumen teknis barti gue harus nulis. Dan karna emang suka nulis jadi udah ga kaget lagi harus ngetik banyak halaman. Tapi nulisnya ga sembarangan, pake bahasa teknik yang bisa dipahami sama orang awam. Kerjanya juga ga cuman duduk di belakang meja aja. Kadang gue juga ke lapangan buat survey lokasi kerjaan. Buat nambah data di dokumen yang lagi dikerjain. Asiklah, ga ngebosenin.

Tapi gue masih bermimpi bisa kerja di pemerintahan/BUMN. Biar gue bisa lebih banyak terlibat buat negara ini. Lebay banget bahasanya, tapi ya itulah cita-cita gue sekarang. Terlibat di dalam program pemerintah untuk bisa ngebantu rakyat jadi lebih maju. Untuk sekarang gue ngebantu dari sisi swasta dulu. Semoga dalam waktu dekat bisa ngebantu dari posisi yang lebih strategis. Aamiin.

Curhat Blogger Daerah

Beruntunglah kalian para blogger yang dilahirkan di ibukota. Karna masa depan dunia perbloggeran kalian setidaknya lebih jelas daripada blogger di daerah. Karna sepanjang yang gue tau, acara-acara yang ngelibatin blogger itu kebanyakan berpusat di Pulau Jawa. 

blogger daerah

Iri udah pasti. Kenapa kami, blogger-blogger daerah, malah minim perhatian dari mereka yang punya hajat? Padahal, potensi kami ga kalah menjanjikan daripada blogger-blogger ibukota. Memang hype-nya tak senyaring di sana, tapi kami selalu bergerak, kok. Kami hidup dan kami ada.

Kalo di ibukota sebulan bisa 4-5 kali ada acara yang ngundang blogger. Di Banjarmasin (Kalsel) 4-5 kali juga, dalam setahun. Saking jarangnya. Emang sih udah ada yang kenal sama kami, kalo mereka ada acara biasanya langsung ngehubungin. Tapi belum banyak brand yang kaya gitu di sini.

Gue pernah ngediskusiin hal ini ke grup blogger ibukota. Biar ga keliatan promosi, sebut saja depannya Warung belakangnya Blogger. Gue pernah lempar topik ini ke mereka. Dan tanggapannya macam-macam. Seru banget! Kaya diskusi gitu. Padahal iya.

Dari diskusi itu ada beberapa hal yang gue tangkap. Dan emang belum kami lakukan di sini. Di antaranya:

Internal Yang Solid

Sebelum "keluar" untuk promosi sama brand, internal anggotanya harus solid. Sering ngumpul, ada kegiatan off air yang dilakuin dan lainnya. Ga sekadar aktif di sosmed. Harus seimbang antara aktivitas offline dan online. Biar keliatan serius komunitasnya. Ga abal-abal, jadi brand percaya.

Ngumpulin Admin Sosmed/Selebgram/Selebtwit Lokal

Yang ini emang rada ga terorganisir, sih. Kami kenal sama beberapa admin akun berfollower berjibun di sini. Bukan Lambe_Turah, tapi lumayan lah kalo mau bikin "ngebakar timeline". Sayangnya cuman sekadar tau, ga difollow up jadi sumber daya yang baik buat promosi. Padahal kalo mereka ini digabungin, ga kebayang berapa banyak feedback yang bakal diterima sama brand yang diajakin kerjasama.

Buat Akun Sosmed

Sebenernya komunitas blogger Banjarmasin udah punya akun sosmed. Entah itu twitter, instagram, ataupun blog. Lumayan sering dipake buat media promosi acara sendiri atapun kerja sama. Biasanya sih kegiatan kemahasiswaan. Tapi karna terkendala kesibukan masing-masing, jad sekarang akunnya kaya mati suri. Update seperlunya aja. Ini yang gue rasa masih kurang. Padahal kalo bisa dimaksimalin, ga cuma acara sendiri atau yang lain bisa dipromoin tapi juga ngajakin temen-temen lain yang belum gabung ke komunitas.

Konsisten

Ini yang selalu jadi masalah di setiap komunitas. Susah buat konsisten. Termasuk kami. Karna kesibukan yang terus bertambah, kegiatan komunitas jadi sedikit terabaikan. Wajar, sih. Semuanya juga punya kegiatan masing-masing. Tantangannya di sini. Gimana sebuah komunitas bisa bikin anggotanya buat bergerak. Komunitas didirikan bersama-sama. Kalo cuman 1-2 orang yang gerak namanya bukan komunitas. Makanya harus selalu jaga kekompakan biar semangatnya terus terjaga.

* * *

Bukan berarti kami ngeblog karna pengen dapat goodie bag. Tapi kami pengen bisa dikenal kalo komunitas blogger itu bukan cuma ada di ibukota. Tapi ada di daerah juga. Dan kami punya potensi yang sama untuk berkembang.

Mungkin beberapa saran di atas bisa kita praktekin bareng-bareng. Ayo! Temen-temen komunitas blogger daerah yang lain, yang ngerasa senasib kaya kami, bangun sama-sama komunitasnya. Biar semangat ngeblognya selalu terjaga, ga cuman ngeblog karna ada acara aja.

Mengejar Ketidakpastian Dan Rhenald Kasali

Kenapa ya kita doyan banget menghindari hal-hal yang ga pasti? Kita selalu aja diarahin untuk nyari yang jelas-jelas. Bahkan hal "sejelas" Raisa aja, di mata Keenan Pearce bisa jadi bayang-bayang. Bisa jadi karna kita emang tipikal manusia yang takut ngambil resiko kali, ya? Entahlah gue juga bingung.


Einstein pernah bilang "Yang pasti itu tidak ada. Cuma 1 hal yang pasti di dunia ini, ya ketidakpastian itu sendiri"

Ngomongin ketidakpastian, udah 2 kali gue ngejar ketidakpastian dan selalu gagal. Ya apalagi kalo bukan acara rekrutmen NET TV beberapa waktu yang lalu. Ini emang gue yang bego atau tesnya yang susah? Awalnya gue ga mau ke sana karna emang udah pasrah ga dapat undangan nikahan mantan tes. 

Tapi Tuhan berkehendak lain. Gue pun berangkat naik elang. Tapi boong. Ga cuma naik elang, gue juga harus menanggung resiko dimarahin sama atasan di kantor, karna minta izinnya mendadak.

Semua itu resiko yang harus gue tunggang eh tanggung!

Isyana Jakarta emang menawarkan banyak ketidakpastian yang menggiurkan. Liat aja seberapa banyak orang yang mau bertaruh hidup mengais rezeki ke sana? Lebih-lebih kalo pasca lebaran. Kayanya, gue juga termasuk ke dalam golongan yang kaya gitu. 

Gue pengen tau aja, dari ngejar yang kaya gini, apa hikmah yang bisa diambil? Seberapa banyak "keuntungan" yang bisa diraup dari sekian banyak modal yang gue keluarkan. Untung ruginya harus dihitung. Ngapain cape-cape keluar modal pas pedekate kalo ujung-ujungnya cuman ditinggal nikah?

Meskipun banyak ketidakpastian yang ditawarkan, tetep aja gue mau nyobain terus. Ketagihan. Nagih kaya pelukan sama pacar. Gue pengen berjuang sampai titik penghabisan. Dan gue emang niatnya pengen nyari kerja di Pulau Jawa. Tapi bukan di Jakarta, Bandung lebih tepatnya.

Entah kenapa Bandung selalu menarik buat gue. Kotanya cantik kalo menurut gue, cewenya juga cantik. Cowonya ga kalah cantik. Meskipun sering kena macet kalo lagi weekend, tapi gue tetep suka. Ada aura yang beda. Kaya kamu dan tv one, berani beda.

Eh.. malah ngomongin Bandung.

Kita kan emang hidup di dalam ketidakpastian. Coba bayangin, kalian tau ga besok itu kalian bakal bisa hidup? Kalian yakin hidup kalian masih kaya gini besok? Kalian yakin pacar yang selama ini dibangga-banggain itu setia sampe besok? Ga pasti juga kan? Soal kerja tadi, walaupun udah pasti, kalian yakin bisa betah di sana? Sama suasananya? Kerjaannya?


mdp IV net
Didotz, Icha, gue

Dari yang ga pasti ini, kita semua bisa jadi kaya sekarang. Kita di saat ini, ditentukan oleh pilihan kita di masa lalu. Dari hal-hal yang ga pasti kaya gini, kita jadi seorang risk taker. Walaupun sebenarnya, gue dan juga beberapa dari kalian pasti ga suka ngambil resiko.

Gue ke Jakarta dengan segudang cucu. Eh bukan! Resiko. Selain ga pasti lulus (dan emang ga lulus pada akhirnya), gue juga ga pasti dapat izin dari atasan. Modal nekad, akhirnya gue ambil itu semua. Kalo ga gitu, gue akan tau hasilnya kaya gimana. Pokoknya coba aja dulu.

Walaupun pada akhirnya gue ga lulus. Tapi gue seneng. Akhirnya gue bisa ketemu beberapa temen dari MDP IV yang sebelumnya cuman bisa ngeliat di foto-foto yang mereka share di grup waktu ngumpul. Ada Didotz, Ica, Nuri yang ngebawain bolu meranti asli Medan, Yuni dan juga yang lainnya. 

Selain itu gue juga bisa ketemu sama temen baru, Gebi, Dwiki, Vivi, dan MIa di MDP V. Belakangan gue tau, kalo si Mia ternyata juga pernah ikutan MDP IV. Ternyata dia senasib sama gue, cuman nyampe tahap psikotes. Dan MDP V juga gitu hahaha.. emang kompak.

Ketemu sama anak WWF juga, si Mia yang gue ajakin iseng buat ikutan MDP V. Dia juga ga lulus. Sedih sih tapi karna iseng kayanya dia selow aja dah. Lagian rumah dia di Depok juga, ga perlu keluar modal banyak kaya gue.

Satu yang paling berkesan dari kunjungan ketidakpastian ini adalah gue ketemu langsung sama Prof. Rhenald Kasali. Adalah mamang Ayub yang ngajakin gue buat menghadiri peluncuran buku beliau yang terbaru: 30 Paspor. Well, yang nulis sih Bang Jombang itu, tapi yang punya idenya tetap Prof. Rhenald.

Rhenald Kasali

Gue diajakin Ayub ke Perpustakaan Universitas Indonesia. Perpustakaan yang di dalamnya ada Setarbak. Ngapain coba? Itu mall apa perpus? Gagal paham gue. Di samping perpus ada ruangan kecil semacam auditorium mini. Acara launching-nya diadain di sana. Dan itu gratis buat siapa aja yang mau datang. Kebetulan Perpus UI lagi ngerayain ultah, jadi peluncuran buku ini adalah salah 1 dari serangkaian acaranya.

Dalam speech-nya, Prof Rhenald kurang lebih bilang begini:


Dari awal mata kuliah Pemasaran Internasional, semua mahasiswa saya akan langsung disuruh menentukan 1 negara untuk dikunjungi dan 1 angaktan ga boleh ada yang sama negaranya. Kalopun terpaksa harus beda wilayah. Sendirian dan tidak boleh serumpun dengan Indonesia. Dananya? Cari sendiri, entah itu dengan sponsor, kerja tambahan, apa saja asal tidak boleh minta orang tua. 
Banyak alumni 30 paspor yang sekarang sukses di bidangnya masing-masing. Contohnya founder kitabisa.com adalah salah satu alumni dari 30 Paspor. Kemandirian membuat seorang manusia bisa dengan cepat mengambil keputusan, mereka bisa bicara dengan diri mereka sendiri. Karna hanya itulah yang bisa mereka andalkan. Dengan demikian mereka pun terlatih untuk tidak bergantung dengan orang lain. Mata kuliah Pemasaran Internasional yang saya pegang, ga pernah mengajarkan hal ini di buku manapun. Tapi dengan begini, mereka bisa mengaplikasikan mata kuliah yang saya berikan secara langsung.
prof rhenald kasali

Misi mereka di luar negeri bukan cuma sekadar mengunjungin negara orang terus pulang. Tapi juga harus melakukan sesuatu di sana untuk dibawa pulang dan diceritakan kepada teman-teman yang lain. Untuk 30 Paspor edisi kali ini, mereka ditugaskan untuk menjadi "duta perdamaian" untuk Indonesia ke setiap negara yang mereka kunjungi. 
Kalo anak-anak kita ga diajarin mandiri dari sekarang, mereka akan terus bergantung sama orang tuanya. Padahal yang bakal ngehadapin masa depan bukan kita, tapi anak-anak kita. Makanya mereka saya kirim ke luar negeri, sendirian, dan ga boleh ngunjungin negeri yang serumpun sama Indonesia. Biar mereka tau gimana caranya mengambil keputusan, gimana caranya mereka harus mengandalkan diri mereka sendiri, kalo tersesat harus ngapain, biarkan mereka di lepas sendiri. Sebagian orang tua pasti nganggap hal ini gila, ngelepas anak mereka sendirian di tengah negara yang ga mereka kenal. Tapi ini adalah treatment paling ampuh untuk membuat mereka mandiri secara penuh, dan membuat mereka bermetamorfosis menjadi "seekor burung Garuda". 
Pidato beliau ini jelas versi upgrade dari keinginan gue untuk merantau yang udah dicanangkan semenjak 3 tahun yang lalu. Sama persis. Bedanya gue cuman "berani" di dalam negeri, sementara mahasiswa beliau udah berangkat ke luar negeri. Sendirian pula!

Ego gue langsung terusik mendengar hal ini. Semacam ada rasa kesel, sebel, iri, dengki ngeliat mereka. Kenapa gue ga bisa kaya mereka? Semenjak pidato beliau itu, gue langsung berpikir untuk segera ngerencanain buat berangkat ke luar negeri. Gimana pun caranya!

Perjalanan kali ini, yang kata Mama adalah sebuah ketidakpastian, membuka mata gue. Bahwa ternyata masih banyak hal yang belum gue lakuin. Gue masih ciprik belum ada apa-apanya. Mereka udah berangkat ke luar negeri semua, pake uang sendiri. Padahal masih kuliah dan belum pada kerja. Sementara gue? Halah! TLQ PTQ!

Gue yakin 100% kalo bilang rencana ini duluan ke Mama, udah pasti ga dikasih izin. Yakin banget gue. Dia emang ga bisa ngeliat anaknya pergi jauh-jauh. Yang kemaren ke Jakarta aja, gue rada berat ninggalin Mama sendirian.

Jadi rencana ini akan gue simpan rapat-rapat dulu sebelum semuanya jelas, siap dan pasti. Meskipun nyampe sana gue ga pasti mau ngapain. Lah gimana?

Ya emang sih keliling Indonesia aja belum kelar. Tapi itu rasanya kurang greget aja. Gue udah keliling Jogja, sebagian Jakarta, Bali, sebagian Bandung. Kalimantan aja belum semua. Kal-Teng cuman Palangkaraya doang. Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Tarakan malah belum pernah sama sekali. 
rhenald kasali



Gue rasa emang ini kesempatan yang pas buat berangkat. Mumpung masih single dan insha allah uangnya cukup. 

Kalo kalian gimana? BIar jadi mandiri dan bisa ngandalin diri sendiri apa yang kalian lakuin?
Seedbacklink