Wikibadadapatan: mewujudkan komunitas yang inklusif

Komunitas Wikimedia Banjar (selanjutnya disebut "KWB") adalah salah satu komunitas resmi yang bernaung di bawah Wikimedia Indonesia (selanjutnya di sebut "WMID"). Sebenarnya KWB sudah ada sejak tahun 2016 (kalo ga salah). Tapi gue baru bener-bener join secara resmi ke KWB sekitar tahun 2022.

Sebenarnya KWB udah aktif beberapa tahun, tapi gue baru aktif sejak 2022. Mungkin karena waktu itu habis keluar dari salah satu organisasi pemuda kali, ya? Jadinya gue memutuskan untuk memilih bergabung ke KWB untuk menemukan petualangan baru.

Sebuah keputusan yang tepat, karena ada banyak sekali pengalaman yang gue dapatkan di KWB.

Pertama, tentu saja dapat temen dan koneksi baru. Gue juga udah pernah ceritain di blog ini. Gue memanfaatkan momen pergantian tahun dengan merefleksikan kehidupan setahun ke belakang. Salah satunya adalah dengan bergabung ke KWB.

Kedua, gue dapat kesempatan ikutan pelatihan misinformasi dan disinformasi di Makassar. Acara dari WMID yang bekerjasama dengan UNESCO. Kegiatan yang produktif sekali dan tentu saja fully funded, alias gratis.

Wikimedia Foundations (selanjutnya disebut "WMF") (induknya proyek Wikipedia) itu punya acara-acara luring yang beragam. Hampir semuanya fully funded, jadi semangat banget untuk nambahin kontribusi di proyek-proyeknya. Termasuk gue pribadi yang punya target sendiri untuk bisa ikutan acara-acaranya.

Nah, sampailah kita di pembahasan utamanya!

Wikimedia Indonesia selalu terbuka untuk siapapun yang mau berkontribusi. Intinya, Wikimedia Indonesia dan komunitas daerah yang berada di bawahnya itu inklusif dan transparan. Termasuk untuk ikutan ke acara-acara luring yang diselenggarakan oleh WMID. 

Untuk membuat KWB semakin inklusif di acara-acara luring WMID maupun WMF, gue mencoba menginisiasi Wikibadadapatan. Pilot project yang gue gagas untuk membantu anggota-anggota KWB untuk membantu memperbesar kemungkinan mendapatkan beasiswa perjalanan dalam dan luar negeri.

Ini sebenarnya acara internal dan bukan agenda rutin yang terjadwal di WMID. Malah belum sempat izin untuk ngadain acara ini. Tapi gue cukup yakin bakalan disetujuin, karena sama sekali ga ngerugiin WMID/WMF. Alhamdulillah-nya disetujuin beneran dan respon dari salah satu perwakilan WMID juga positif banget.

Konsep acara Wikibadadapatan ini sebenarnya sederhana banget. Gue mengajak beberapa orang yang pernah mendapatkan beasiswa perjalanan WMID/WMF untuk berbagi pengalaman mereka. Utamanya sih berbagi pengalaman gimana caranya mengisi form seleksi beasiswanya. Baik dari sisi teknis dan non-teknisnya.

Untungnya di KWB ada cukup banyak peserta yang udah pernah ikutan. Jadinya ada banyak pengalaman yang bisa dibagikan ke anggota-anggota lainnya.

Perekrutran narasumber kemaren berdasarkan mereka yang gue inget pernah ikut acara luring dari WMID/WMF aja. Ada beberapa narsum yang juga ikut tapi belum sempat jadi peserta. Karena waktunya yang terbatas, gue coba bawa 4 orang dulu. Jika memang ada kesempatan lagi, mereka yang belum sempat jadi narsum akan masuk slot prioritas narsum berikutnya.

Edisi perdana membawa 4 peserta yang membagikan pengalamannya mendapatkan beasiswa perjalanan. Salah satu pesertanya bahkan memiliki kasus cukup unik, berhasil mendapatkan beasiswanya namun batal berangkat. Persis kayak gue tahun lalu yang juga pernah dapat beasiswanya namun terpaksa harus batal karena baru aja masuk kerja bulan pertama.

Gue juga berusaha untuk tetap inklusif dalam merekrut narasumber. Selain soal gender, gue ga melihat dia itu berangkat atau ga ke acaranya. Cukup dipastikan lolos aja itu udah masuk kriteria menjadi narsum di Wikibadadapatan.

Acara yang tadinya dijadwalkan hanya berdurasi 60 menit, jadi molor 90 menit karena keasikan membedah pertanyaan di borang pengajuan beasiswanya.

Gue juga salut banget sama narasumber yang rela membagi pengalamannya di acara ini secara sukarela. Karena ini acara internal, jadi ga ada budget yang dialokasikan untuk semuanya. Jadi benar-benar 0 modal, kecuali pake waktu, tenaga dam kuota/wifi internet masing-masing.

Rencana edisi selanjutnya

Sebelum jalannya Wikibadadapatan edisi perdana kemaren, udah terpikirkan edisi berikutnya seperti apa. Tapi akan gue simpan dulu aja menunggu respon dari kawan-kawan KWB. Kalo memang masih mau dilanjutkan kegiatannya, gue akan coba terapkan.

Edisi berikutnya mungkin akan jauh lebih ketat dari sisi pendaftaran peserta.

Pilot project kemaren kan semua anak-anak yang masuk di grup KWB wajib jadi peserta. Gue pengennya nanti untuk edisi berikutnya cuman anak-anak terpilih aja yang bisa join. Macam kartun digimon wahahaha!

Gue masih belum mendiskusikan ini ke anak-anak sih, masih wacana aja.

Pengennya tuh ada persyaratan khusus gitu. Misalnya ada minimal suntingan dalam 3 bulan terakhir. Atau pernah terlibat di proyek atau menjadi pj acara sekian kali.

Kesannya terlihat eksklusif, tapi kalo melihat dari sisi motivasi berkontribusi, harusnya jadi pemantik semangat. Karena kontributor di KWB itu jumlahnya tergolong sedikit yang aktif di proyek WMID. Siapa tau dengan adanya persyaratan tambahan untuk ikut Wikibadadapatan mereka makin terpacu semangatnya berkontribusi lebih banyak.

Kegiatannya pun akan sedikit berbeda. Gue sih maunya narsumnya 2-3 orang aja. Tapi mereka langsung mementori para peserta mengisi form pengajuan beasiswa perjalanannya saat itu juga. Narasumbernya bener-bener ngebimbing peserta untuk mengisi formnya satu-satu. 

Kalo bisa sih ada anggarannya juga. Terutama untuk narasumbernya, karena udah keluar waktu, tenaga dan pikiran. Meskipun buat pesertanya ga menjamin 100% lolos, tapi setidaknya dari KWB berusaha untuk bisa membuat komunitas ini makin inklusif untuk semua.

Tapi sekali lagi ini masih sebatas rencana. Kalo rencana artinya bisa dijalankan, bisa juga ga. Tergantung kesiapan peserta dan narasumber serta respon dari anggota KWB sendiri kayak gimana.

Intinya sih kalo dari gue pengennya ini tetap berlanjut. Ada/ga ada gue harusnya ini bisa tetap jalan. Karena ngejalaninnya sederhana banget ga perlu persiapan yang merepotkan sama sekali. Kecuali untuk lu yang mungkin tipe orang yang semuanya harus well prepared, ya.

Tujuan gue cuman 2: biar berkomunitas tu ada manfaatnya dan KWB tetap inklusif untuk siapapun yang bergabung.

Ide Kue Ulang Tahun Yang Anti Mainstream

Secara personal, gue ga terlalu ngikutin perayaan ulang tahun itu kayak gimana. Karena di keluarga inti gue jarang banget ngerayain ulang tahun. Apalagi ngerayainnya harus gelar pesta begitu. Waktu TK sih sempet kayak begitu, gue masih inget beberapa momennya. Tapi setelahnya udah jarang banget dirayain.

Tradisi ulang tahun sendiri udah ada sejak 3000 tahun sebelum masehi. Dilakukan oleh orang-orang peradaban Mesir kuno yang merayakan hari lahir sekaligus hari naik tahta bagi Firaun mereka. Gue ga tau gimana mereka ngerayainnya, tapi yang jelas dari sini kita tau setua apa tradisi ini berjalan.

Perayaan ulang tahun erat kaitannya dengan keberadaan kue ulang tahun.

Ternyata kue ulang tahun sudah ada sejak zaman Yunani Kuno. Kue ulang tahun zaman itu dibuat sebagai "sesajen" untuk Dewi Artemis, dewi bulan dan perburuan. Kue itu dihiasi lilin menyala agar menyerupai cahaya bulan. Dari sinilah asal muasal kue ulang tahun berbentuk bulat dan dipasangi lilin.

Bahan dasar pembuatan kue ulang tahun yang berasal dari tepung pun juga sudah dilakukan sejak zaman itu.

Artinya secara bahan dasar ga banyak berubah, hanya bentuk penyajiannya aja yang menyesuaikan zaman. Seiring perkembangan zaman, orang-orang makin kreatif bikin variasi kue ulang tahun.

Nah, biar lu bisa ngerayain ulang tahun yang ramah lingkungan, gue coba kasih alternatif "kue" ulang tahun biar ga mubazir.

1. Nasi Tumpeng

Ini udah sering dijadiin alternatif kue ulang tahun.Siapa sih yang ga suka sama nasi tumpeng?? Udah mah rasanya gurih, berlemak dikit, lauk-lauknya lengkap, ngenyangin juga.

Kalo nasi tumpeng dibagi-bagi, udah pasti dimakan, kan? Kalo kue dari tepung, gue ragu semua orang bakalan makan. Termasuk gue sendiri yang ga terlalu suka yang terlalu manis, apalagi white cream di kue ulang tahun yang udah jelas isinya cuman gula.

Gue bisa bilang kalo nasi tumpeng ini cocok banget dijadikan alternatif kue ulang tahun. Menurut gue budaya "tumpengan" justru lebih melestarikan budaya lokal Indonesia.

2. Sajian Indomie

Indomie tuh udah jadi pengganti nasi buat orang Indonesia. Ga ada yang ga suka sama varian mie instan satu ini. Lokal banget, varian rasanya udah macam-macam sekarang. Favorit gue Indomie Goreng yang original, ga ada yang bisa lawan rasanya.

Gue bisa bilang, kue ultah indomie ini salah satu sajian alternatif yang cocok. Lu bisa bikin porsinya khusus untuk yang ultah doang, sesuai indomie favoritnya dia. Bisa juga porsi dibagi-bagi ke orang-orang terdekat lu.

Lu ga perlu ngebayangin kue ultah Indomie ini yang bulat dan ada white cream gitu ya. Menurut gue sih cukup pake sajian 1 porsi indomie di dalam piring makan, tambahin lilin ultah. Sesederhana itu aja, ga perlu yang mewah-mewah. Irit modal, irit tenaga juga bikinnya.

Kalo bicara habis/ga habis, gue hampir 100% yakin sajian ini bakalan habis dimakan. Artinya, ga ada yang bakalan terbuang di perayaan ultah lu kalo "kue"-nya berbentuk sajian Indomie. 

Btw, gue nulisnya sambil ngebayangin aja udah ngiler banget. Gimana kalo ada dihadapan mata? Wahahahaha! Langsung ludes gue makan!

3. Sekeranjang buah

Daripada pake kue berbahan dasar tepung dan gula yang bikin resiko penyakit makin gede, ganti buah-buahan aja. Gausah buah yang dihias-hias gitu, kan bisa aja pake keranjang diisi buah-buahan. Lebih sederhana dan ga buang-buang makanan.

Dengan sekeranjang buah, buat gue, dibagi ke orang-orang udah pasti kemakan. Apalagi buah-buahan sekarang rada mahal harganya, kalo ga dimakan/dibuang ya mubazir banget. Lebih sehat juga buat yang lain, daripada makan kue ultah yang isinya gula doang.

Sekali lagi, jangan dibayangkan kue-kue ulang tahun yang mewah. Termasuk "kue" yang gue bilang sekeranjang buah ini.

4. Gorengan dan minumannya

Mari menggeser persepsi terhadap perayaan ulang tahun yang harus menyajikan kue-kue manis. Cobalah sesekali pake gorengan untuk merayakan ulang tahun. Siapa sih yang ga suka gorengan? Kecuali yang lagi diet, ya.

Sajian pisang goreng, tahu isi, tempe mendoan, bakwan yang panas. Ditambah petis dan cabe rawit alias cengek adalah kombinasi yang sulit untuk ditolak. Ngerayain ultah sambil makan gorengan bareng sama orang-orang terkasih tu momen yang sulit untuk dilewatkan. Minumnya pake teh panas atau kopi.

Sederhana banget, tapi sangat intim dan ga gampang untuk dilupain momennya.

5. Buku

Ini memang agak melenceng dari makanan. Gue belum pernah liat orang yang dirayain ultahnya dengan segepok buku. Padahal menurut gue justru ini benda yang lebih bermanfaat daripada kue ultah doang.

Lagian, klo misalnya yang ultah bagi-bagi buku gratis, akan jadi adegan langka. Kapan lagi ada orang yang ulang tahun, yang dibagi bukan kue ultah, tapi buku. Ini mewah banget! Lu tau kan harga buku itu semahal apa sekarang?

Tapi karena minat baca di Indonesia masih rendah, mungkin ga banyak yang kepikiran kayak begini. Mereka mikirnya "Ah ngapain ngasih buku, kayak dibaca aja".

Gue sih ada kepikiran untuk ngerayain ultah dengan bagi-bagi buku begitu. Tapi masih ga tau buku apa yang harusnya dibagiin. Lebih tepatnya, ke siapa buku itu harus dibagi? Wahahaha!

***

Gue sih berharap ga ada lagi tradisi buang-buang kue di acara ulang tahun. Sangat tidak ramah lingkungan dan buang-buang duit doang bisanya. Bukan berarti gue ga ada duit, tapi alangkah baiknya kalo duitnya itu bisa punya banyak manfaat ketika dipakai.

Tulisan ini ga memaksa untuk mengubah tradisi ulang tahun di kehidupan lu. Tapi kalo memang bisa ngajak lu untuk berubah ke arah yang lebih baik, gue bersyukur banget. Meskipun lu ga suka sama apa yang gue tuliskan ini, gue tetap berterima kasih karna lu mau baca.

Dukung blog ini dengan membagikan tulisan favorit yang pernah lu baca ke temen-temen lu yang lain, ya! Kalo lu punya pengalaman menarik terkait ulang tahun dan sekitarnya, tulis di kolom komentar, ya!

Survival Kit Saat Zombiepocalypse Menyerang

Pernah ga sih lu kepikiran kalo Indonesia kena wabah virus mematikan yang harus membuat lu mengungsi dan kehidupan lumpuh total? Harus ngapain, apa yang perlu disiapin, kemana kita mengungsinya, rute apa yang paling cepat dilalui ke sana?

Itu yang ada di dalam kepala gue ketika nonton Abadi Nan Jaya di Netflix. Gue mikir, kira-kira apa ya yang harus gue siapkan ketik bencana kayak di film itu terjadi?

Inilah yang kira-kira akan gue siapkan untuk bisa survive ketika ada zombiepocalypse.

1. Stok makanan dan minuman yang tahan lama

Ketika ada bencana, sumber makanan akan menjadi barang langka. Bukan cuma karena sulit dibeli karena harus menyelamatkan diri, tapi juga karena orang yang ngirimin ga bisa. Harus menyiapkan stok makanan dalam jumlah banyak dan tahan lama juga.

Makanan yang awet mungkin sarden kalengan, atau makanan yang sering dipake buat para prajirut perang itu kali, ya? Kalo minuman udah pasti air putih aja, gausah aneh-aneh.

Berapa banyak stok yang harus disediakan? Mungkin untuk 3 bulan dulu, amannya stok buat 6 bulan sampe setahun. Anggap aja lu sehari makannya cuman 2 kali untuk menghemat stok. Trus dikali jumlah keluarga di dalam rumah lu. Kalo lu ada budget lebih, kalikan lagi 2 atau 3 dari jumlah perkalian tadi. Gue sukanya cari aman daripada cari masalah soalnya.

2. Air buat mandi dan memasak

Menurut gue air untuk keperluan mandi dan memasak harusnya dipisah dengan air keperluan minum. Keperluan minum dan memasak jangan disamain biar ga boros pemakaiannya. Air buat masak harusnya lebih mudah didapatkan, misalnya dari air hujan.

Kalo mau lebih bersiap lagi, buat alat filter air hujan sendiri dari awal. Jadi lu punya sumber air hampir ga terbatas karena sumbernya dari air hujan. Kecuali saat itu ga ada hujan sama sekali, lu harus cari alternatif lainnya.

Akan lebih bagus lagi kalo lu punya sumur air tanah. Sumurnya dijadiin cadangan aja untuk jaga-jaga. Jangan dipakai kalo ga darurat banget. Kalo PDAM udah ga jalan lagi pas ada zombiepocalypse, bisa tuh lu pake.

3. Stok Baju dan Celana

Bukan apa-apa, gue takutnya kalo lu ga punya banyak stok baju, ntar pas lu jadi zombie, zombienya telanjang kan malu-maluin. Udah mah jadi malapetaka buat manusia lain, telanjang pula! Aib lu kan jadi double-double di dunia.

Nentuin stok baju dan celana ini menurut gue agak tricky. Karena kita ga tau akan seberapa lama menjalani kehidupan di zaman zombiepocalypse ini. Mungkin bisa siapin selusin pasang baju dan celana dulu deh. Kalo menurut lu ga cukup, tambahin selusin lagi.

Meskipun ada yang bilang zombie itu ga suka sama bau busuk, tapi menurut gue sih lebih baik wangi daripada bau badan. Tapi kayaknya bau badan bisa juga sih dijadiin senjata buat menangkal zombie. Lu coba aja sendiri lebih works yang mana di antara wangi sama bau. Kalo ada kesempatannya buat nyobain.

4. Powerbank kapasitas besar

Pastikan lu punya powerbank yag selalu standby buat keadaan darurat kayak gini. Apalagi kalo nanti listriknya mati dan ga bakalan nyala dalam waktu yang lama. Minimal lu masih punya hp untuk dipakai, entah untuk komunikasi atau sekadar menghilangkan bosan.

Gue tau mungkin aja nanti jaringan internet juga bakalan hilang. Tapi setidaknya hp lu selalu standby siapa tau ada cara lain untuk menghubungkan internet tanpa adanya listrik atau jaringan internet lain.

Kalo nentuin jumlahnya itu tergantung keperluan lu ya. Mungkin gini hitungannya, kalo lu punya 3 handphone, pilih 1 aja yang paling dipake. Sediakan 6-5 powerbank untuk 1 handphone. Dengan asumsi lu cuman charge handphone lu sampe 80% aja, harusnya bisa tahan 1-2 mingguan.

5. Kotak P3K dan pisau serbaguna

Usahain selalu dalam keadaan sehat dan prima, terlebih di kondisi seperti zombiepocalypse begini. Makanya gaya hidup lu harus sehat seimbang biar ga gampang sakit. Kalo perlu pas keadaan udah mau kiamat pun tetap coba sempatkan olahraga juga.

Isi kotak P3K lu harusnya obat-obat mainstream kayak sakit kepala, batuk, flu gitu. Tambahin juga stok obat untuk keperluan pribadi lu yang lain. Kalo perlu tambahin vitamin juga, biar jadi tambahan sumber energi buat badan lu di saat penuh tekanan kayak gitu.

Pisau serbaguna juga perlu lu miliki. Biar bisa dipake motong-motong sesuatu, buka sesuatu di saat darurat. Jangan cuman punya satu, tapi 3-5 biji buat cadangan. Kalo bisa sih jangan dikasih pinjem ke orang, biar stok lu aman. Tapi terserah sih, klo lu emang mulia hati silakan aja.

***

Gue tau mungkin zombiepocalypse ini cuman ada film-film. Tapi ngeliat perkembangan teknologi yang makin gila, rasa-rasanya sih kejadian kayak begini bisa kejadian beneran. Meskipun gue ga yakin Indonesia bakalan selamat dari hal-hal kayak gini.

Gue agak ragu pemerintah sekarang ngerti sama wabah beginian. Waktu ada corona aja disuruh banyak-banyak berdoa daripada nyuruh jaga kesehatan. Religius boleh, tapi harus realistis juga. Apalagi di zaman medsos sekarang tuh masyarakat jadi lebih teredukasi, asal nonton video yang bener. Jadi kalo pemerintahnya "asal bunyi" masyarakatnya ngerti.

Kalo ada zombiepocalypse kayaknya Indonesia deh salah satu negara yang duluan "hilang" wahahhaak!! Apalagi pemerintahan yang sekarang lebih percaya hasil survei daripada ilmuwan! Benar-benar double apocalypse.

Tulisan ini ga saklek untuk diikuti, tapi bisa jadi salah satu pedoman lu untuk menyiapkan diri. Kalo lu punya referensi lain terkait survival kit yang harus dibawa, tulis aja di kolom komentar, ya! Siapa tau ide lu bisa menyumbang inspirasi buat yang lain untuk menyiapkan diri.

Ngejar Belajar, Kerjaan Ketinggalan

Buat manusia yang ga terlalu bisa multitasking, akan kesulitan untuk bisa fokus kalo ngerjain banyak tugas sekaligus. Harus kelar dulu kerjaan yang satu, baru pindah kerjain yang lain. Jadinya, ketika ada kerjaan 2 biji kerjaan urgent yang perlu diselesaikan, harus pakai skala prioritas.


Maklum, orangnya agak perfeksionis, jadi ngerjain sesuatu tu pengennya fokus. Biar hasilnya juga maksimal dan gue yang ngerjain juga puas ngeliatnya. Soalnya kalo udah fokus ngerjain dan hasilnya masih biasa-biasa aja rasanya kayak ga kerja.

Termasuk ketika belajar hal yang baru, ga bisa "digandeng" sama tugas yang lain. Semisal kayak nyimak webinar yang ada hubungannya sama kerjaan, gue ga bisa sambil ngerjain hal lain, kecuali yang kecil-kecil. Tapi kalo webinar sambil ngedit dokumen atau sambil meeting sama atasan, udah jelas ga bisa.

Jadinya, ketika ada momen yang ngerjain 2 tugas bersamaan, gue mau ga mau harus memilih salah satu.

Tentunya gue akan prioritasin kerjaan utama dulu. Meskipun belajar untuk update ilmu juga penting. Akhirnya, karena ada target deadline yang harus dikejar, pelajarannya jadi ketinggalan. Untuk nyusulin satu-satu lumayan banget meluangkan waktunya.

Solusinya ya nunggu kalo ada sosialisasi dari Dinas atau stakeholder lain dulu baru belajar dari sana. Sebuah solusi yang tidak praktis sebenarnya, tapi daripada ga ada sama sekali, kan? Idealnya memang harus belajar dari awal, agar punya safety net kalo-kalo (amit-amit) kejadian sesuatu.

Gue pengennya ga ada kejadian apa-apa. Males berurusan sama APH (Aparat Penegak Hukum). 

Kerjaan gue udah banyak, ga perlu ditambahin lagi sama keterlibatan dari pihak eksternal. Makanya sebisa mungkin gue main aman terus, baik dari sisi administratifnya ataupun juga dari teknisnya. Kalo kita amanin duluan, APH juga males ngerecokinnya.

Makanya belajar mengetahui peraturan-peraturan baru jadi krusial. Tapi kadang, momen belajarnya ini barengan sama kerjaan yang lain. Akhirnya cuman bisa nontonin rekaman belajarnya atau belajar text book doang. Padahal, kita perlu tau juga alasan/dasar dari sebuah pasal/ayat itu apa aja.

Kalo kata dosen pembimbing gue dulu "Selalu kritis dengan data".

Simpel banget, tapi krusial. Sampe sekarang masih gue pake untuk hal apapun.

Akhirnya informasi apapun yang gue terima ga akan langsung diiyain. Harus ada tahap verifikasi dulu, ditanya dulu sumbernya darimana, alasannya apa informasi ini harus diproses?

Keliatannya memang ribet, tapi ini filter yang gue terapkan biar informasi mentah ga langsung masuk ke atasan. Pokoknya ga boleh informasi mentah  lolos ke atasan kecuali emang udah mentok. Masalahnya, ga semua orang bisa punya mindset kayak begini.

Sosialisasinya jangan kepanjangan, dong!


Anyway, jujur gue rada keteteran kalo harus ngejar untuk belajar peraturan-peraturan baru ini. Ditambah lagi sosialisasi peraturan barunya itu durasinya puaanjaaaanggg bangeettt!! Ada yang 3 jam sendiri buat ngejelasinnya, buset dah!

Kenapa ya dinas-dinas ini ga bisa efektif kalo ngejalanin acara?

Udah mah online doang, bukannya dipersingkat malah dipanjang-panjangin durasinya.

Gue ngeliat slide pematerinya udah nunjukkin "1/200" udah langsung nguap pasti! Udah jelas ga efektif acaranya.

Perlu dipahami ini kritik untuk acaranya, bukan dinasnya ataupun pematerinya. Harusnya sih gue ga perlu ngasih disclaimer begini, ya. Kan situ ASN, lebih memahami konteks daripada gue. Lu pada kan udah ikutan SKD sebelum masuk ASN!

Bisa dong bikin acaranya jadi lebih singkat? 

Biar personil yang ikutan juga bisa fokus sama kerjaan utamanya. Lu tau kan pesertanya juga punya kerjaan lain? Ga perlu ambil waktu berharga mereka untuk dengerin materi yang panjang-panjang.

Langsung masuk ke intinya aja, tanpa harus bertele-tele.

Kalo memang mau dipanjang-panjangin durasinya, mending durasi diskusinya yang dibanyakin.

Gue justru lebih suka kalo belajar itu lebih banyak tanya-jawabnya. Karena akan lebih konkrit contohnya dan ga sekadar belajar berteori aja. Karena pesertanya juga profesional dan praktisi, harusnya pertanyaan itu berdasarkan kejadian nyata di lapangan.

Kalo seperti itu kondisinya, gue akan dengan senang hati ngikutin sesinya.

Gue pribadi lebih suka belajar tentang peraturan baru ini dengan cara menerapkannya ke sebuah studi kasus. Lebih praktis dan ga cuman sekadar teori aja. Meskipun nanti pada praktiknya mungkin penerapan aturannya akan berbeda, ga masalah.

Intinya kan tergambar penerapan aturan barunya terhadap kondisi kegiatan usahanya.

Saran dan kesimpulan

Gue menyarankan kepada penyelenggara acara untuk melaksanakan acara secara lebih efektif. Entah itu secara durasi ataupun penyajian materinya. Materi paparan yang lebih singkat dan efisien akan membuat peserta lebih fokus.

Selain itu, sosialiasi peraturan baru ini jangan cuma diadakan oleh Kementerian pusat aja. Meskipun mereka yang menerbitkan aturannya, dinas setempat pasti punya penerapan berbeda. Oleh karena itu, harusnya ada juga sosialisasi dari dinas setempat untuk level provinsi ataupun kota. 

Menurut keyakinan gue, orang-orang kementerian ini ga semuanya ngerti apa yang terjadi di daerah. Setiap daerah punya studi kasusnya sendiri dan mungkin aja kasusnya ada yang ga nyampe ke kementerian. Justru akan lebih mudah memahami penerapan aturannya ketika sosialisasinya dilakukan dalam skala regional.

Untuk gue pribadi sebagai peserta, harus cari cara lain untuk bisa mengejar ketertinggalan ini. Ada webinar-webinar dari stakeholder swasta yang ngebantu banget ngejar pembelajarannya. Tapi, tentu saja terbatas juga aksesnya. Ga semua pihak ada yang mau menggelar acara seperti ini. Kalo pun ada, biasanya berbayar.

Gue ngerti semua hal bisa ideal. Apalagi yang ada hubungannya sama pemerintah.

Tapi bukankah pemerintah yang paling banyak punya sumber daya? Mulai dari SDM-nya, gadget-nya sampai akses ke pihak-pihak yang mungkin berpengaruh mengambil keputusan. Sementara swasta? Belum tentu punya semua itu.

Kalo masih pake alasan efisiensi, gue ga bisa terima. Efisiensi itu solusi, kalo pengen bikin susah rakyatnya. Kalo pengen bikin rakyat enak, tinggal tarik pajak dari orang-orang kaya. Bukan malah bikin yang miskin makin miskin.

Semoga tulisan ini ga didengerin, biar generasi 2045 makin (menc)emas(kan).

13 Tahun ga ngapa-ngapain

Gimana rasanya ga pernah ngapa-ngapain selama 13 tahun? Pasti rasanya sangat membosankan dan rasanya gagal jadi bermanfaat buat orang lain. Kira-kira itulah yang gue rasain ketika melihat perjalanang ngeblog sejauh ini. Hampir 13 tahun dan rasanya kayak ga ngapa-ngapain.

Sebenarnya perjalanan ngeblog ini bisa dibilang bukan sebuah "karier" juga. Karena memang pada awalnya nulis dipake untuk menjalankan hobi saja. Namun seiring berjalannya waktu, hobi menemukan jalannya sendiri untuk berkembang. Dari yang awalnya sendiri, ternyata ketemu komunitas sesama blogger di Indonesia. Sampai bisa ikutan acara yang mengundang blogger untuk belajar tentang perubahakn iklim.

Gue paham, mungkin beberapa tahun lalu blogger masih dilirik sama orang-orang. Karena tiktok kala itu masih ga booming kayak sekarang. Zaman sekarang yang katanya banyak generasi berliterasi rendah, blog jadi agak terpinggirkan. Peminatnya udah ga sebanyak dulu lagi.

Gue juga ngeliat pergeseran yang terjadi di dunia blogger sendiri. Sekarang ada banyak blogger yang menjadi influencer entah itu di tiktok ataupun instagram. Gue bahkan kenal beberapa blogger secara personal dan sekarang jadi selebgram/selebtok. Bersyukur banget bisa ngeliat mereka berkembang dari yang awalnya nulis terus sekarang influencer.

Pergerseran itu gue refleksikan ke dalam diri sendiri. Kayaknya gue emang ga terlalu cocok kalo jadi influencer gitu. Makanya meskipun gue rutin upload di instagram/tiktok tapi perkembangan followersnya stagnan. Akhirnya gue ketinggalan sama blogger-blogger lain yang ngebangun akun medsosnya dari awal.

Tetap bertahan ngeblog di tengah gempuran konten video memang berat. Ga semua orang mau baca tulisan kayak dulu lagi. Tapi entah kenapa gue malah makin rajin nulis. Mungkin karena tekanan pekerjaan dan emang udah kebiasaan aja kali, ya?

Mungkin karena udah kebiasaan itu yang bikin gue bisa bertahan 13 tahun ngeblog selama ini. Atau bisa jadi karena gue bukan influencer yang sibuknya ngonten video daripada tulisan, kali ya? Karena sekarang alat untuk ngonten video tu banyak dan gampang banget makenya.

Kalo nulis begini memang butuh usaha ekstra, terutama dibagian nulisnya. Buat orang lain mungkin nulis tiap hari dan upload tulisan setiap hari itu gampang. Buat gue, nulis 1 tulisan itu perlu 3-4 hari untuk bisa jadi 1 tulisan utuh. Makanya ga bisa upload tiap hari. Solusinya gue usahain untuk bisa upload tulisan seminggu sekali.

Tapi gue happy ngelakuinnya, karena udah jadi aktivitas dari dulu. Bahkan sekarang jadi bisa rutn upload seminggu sekali tiap hari Senin pagi. Padahal dulu tuh nganggur, ga bisa sekonsisten ini. Sekarang pas udah kerja malah makin konsisten, bingung sendiri, tapi bahagia.

Pengalaman nulis 13 tahun ini buat gue masih ga ada apa-apanya, deh. Karena ga ada "karya" yang bener-bener bisa gue ciptain dari blog ini selain tulisan yang lu baca. Maksudnya, gue ga punya buku atau bentuk karya lain yang bisa mewakili perjalanan 13 tahun menulis ini.

Makanya gue bilang, 13 tahun ga ngapa-ngapain. Karena buat gue, pengalaman nulis ini tuh ga punya dampak signifikan buat orang lain, terutama buat gue sendiri. Lu liat aja, hampir semua tulisan gue ga ada komen apapun. Bahkan gue ragu ada yang beneran baca tulisan-tulisan itu.

Emang, sih soal tulisan itu ada yang baca/ga baca itu bukan di gue kontrolnya. Tapi pengennya ada tulisan yang berdampak buat pembacanya. Gue sih kepikiran untuk ikutan kelas belajar nulis. Siapa tau dari sana pikiran gue jadi makin terbuka terhadap dunia tulis menulis khususnya blog ini.

Atau ekspektasi gue aja yang ketinggian, ya? Pengennya tulisannya punya dampak, tapi kualitas tulisannya masih segitu-gitu aja? Kalo kayak gitu, bener barti judul tulisan ini: 13 tahun ga ngapa-ngapain. Nulis sih nulis, tapi ga ada dampaknya buat orang lain.

Bisa jadi gue terlalu ngebandingin diri sama temen-temen blogger lain yang usahanya lebih banyak daripada gue. Atau bisa juga emang jalan kayak gini yang emang harus ditempuh. 13 taun rasanya udah jauh banget, tapi kayak ga berasa apa-apa. Mungkin memang jalan yang harus dilalui sejauh itu.

Tiap orang memang punya jalannya sendiri-sendiri. Kalo memang harus menempuh perjalanan lebih jauh lagi, gue harus siap. Mungkin memang belum saat ini tulisan gue ada dampaknya. Atau bisa jadi ga perlu ada dampaknya juga. Tulisan gue mungkin ga harus punya dampak, yang penting nulis konsisten aja.

Pada akhirnya, setiap manusia menjalani perannya masing-masing. Memang ada perannya yang ga terlalu signifikan, ga masalah juga. Intinya masih berperan, cuman ga keliatan aja. Hidup ga perlu terlalu idealis banget, berat apalagi kalo berada di jalur yang ga ideal kayak gue.

Untuk yang udah jadi silent reader tulisan-tulisan di blog ini, makasih banget, ya! Meskipun kalian ga terlihat secara fisik, tapi semoga apa yang kalian baca ini bisa ngasih vibes positif.

Gue minta maaf kalo selama 13 tahun ini mungkin tulisan gue ga ada dampaknya buat lu baca. Gue akan berusaha terus untuk memperbaiki setiap tulisan di blog ini. Kalo lu punya kritik/saran/masukan gue akan coba tampung, ya. Kecuali hinaan/cacian/makian yang ga ada isinya, ga akan gue tampung hehehe.

Seedbacklink