Selama ini, gue coba melihat ke belakang untuk bisa mengambil pelajaran-pelajarannya. Kali ini pelajaran yang berhubungan dengan pekerjaan, terutama tentang karir. Alhamdulillahnya gue punya kesempatan belajar di beberapa perusahaan dan instansi selama gue memasuki dunia kerja.
Ternyata, dari beberapa kantor yang gue masukin punya ceritanya masing-masing. Setiap cerita pasti punya pelajaran yang bisa diambil. Bersyukurnya, gue selalu menerapkannya di pekerjaan berikutnya.
Beberapa pengalaman yang bisa gue ceritakan di sini antara lain:
1. Jadi profesional dan belajar memahami pimpinan
Ini pekerjaan pertama yang gue dapetin setelah 6 bulan lulus dari S1. Benar-benar gugup waktu pertama kali masuk kantor itu. Namun, karena kantornya mayoritas orang-orang teknik juga, jadi lumayan nyambung ngobrolnya meskipun baru masuk. Bahkan, sampe sekarang gue masih temenan sama orang-orang dari kantor itu, meskipun kami kerjanya udah misah-misah.
Pelajaran pertama yang bisa gue ambil dari pekerjaan ini adalah belajar jadi profesional pertama kali. Pengalaman magang waktu kuliah itu sama sekali berbeda dengan dunia kerja sebenarnya. Apalagi kalo magangnya cuman duduk-duduk doang kerjaannya cuman fotocopy dokumen kerjanya.
Dunia kerja itu stress level-nya udah 2-3 tingkat lebih tinggi daripada dunia perkuliahan teknik. Untungnya di kantor banyak yang bantuin dan ngajarin gue untuk lebih cepat beradaptasi di dalamnya. Lingkungan kerja juga salah satu faktor penting untuk adaptasi dan jadi karyawan yang cepat memahami work flow dan work culture di kantor.
Menjadi profesional pertama kali juga bergantung dengan siapa atasan kita. Kebetulan atasan gue ga terlalu banyak ngasih perintah/instruksi. Karena udah punya beberapa karyawan senior, dia minta karyawan senior aja yang ngajarin dan ngasih instruksi.
Pelajaran kedua yang gue dapatkan adalah belajar memahami pimpinan. Setiap pemimpin punya sifat dan karakternya masing-masing. Semakin cepat lu kenal sama pimpinan lu, akan semakin mudah lu bisa beradaptasi. Semakin lu kenal karakter pimpinan lu, semakin paham gimana mengatasi dan mengantisipasi sikapnya.
Dari sini lu juga bisa belajar untuk stress management terhadap tekanan pekerjaan dan atasan. Terlebih lagi kalo misalnya atasan lu agak moody-an orangnya. Gue bisa paham sama cerita orang-orang yang punya atasan yang ngambekan/baperan gitu. Karena gue juga lumayan baperan orangnya, tapi itu dulu.
Punya atasan dengan karakter seperti itu memang lumayan bikin stress. Tapi, dari situ harusnya bisa belajar untuk tau gimana cara mengatasi tekanannya. Terutama untuk diri lu sendiri yang bisa lu kontrol responnya. Lu bisa belajar untuk memilih respon yang tepat ketika atasan lu mulai moody-an. Bahkan ketika dia marahin lu bukan karena kesalahan lu sendiri.
2. Mengenal budaya kerja instansi/ASN
Setelah keluar dari perusahaan konsultan, gue kerja lagi di perusahaan konsultan yang lain. Bedanya, gue berkantornya di instansi provinsi. Jadi meskipun gue berkontrak sama perusahaan konsultan, kerjanya di instansi. Dari sana gue juga dapat beberapa pelajaran yang bisa diambil.
Pelajaran ketiga yang gue dapatin dari pekerjaan ini adalah belajar memahami dunia kerja instansi/ASN. Beda tempat kerja, udah pasti beda budayanya juga. Mindset orang-orangnya juga berbeda. Apalagi kalo di instansi lebih banyak insan generation boomer yang kerja di sana.
Dari hal generation gap ini aja sudah keliatan berbedanya. Kerjanya lebih slow dan agak kurang mau untuk ngajarin orang. Menurut keyakinan gue, orang-orangnya lebih punya mental fixed mindset, daripada growth mindset. Bisa jadi karena pekerjaannya yang monoton dan yakin punya masa depan terjamin. Jadi ga punya keperluan untuk mengembangkan diri atau meniti karier.
Kalo lu tau ada orang-orang dinas yang masuk jalur orang dalam, itu bukan isapan jempol. Nyata adanya, ini udah jadi rahasia umum. Ada banyak yang kerja di sana bukan karena kualitas orangnya, tapi kualitas koneksinya alias orang dalam. Dari situ gue tau, kayaknya kecil kemungkinan untuk bisa masuk instansi (lagi). Karena koneksi gue minim sekali orang dalam.
Karena mengetahui budaya bekerja ini, akhirnya berguna buat gue di kemudian hari.
3. Koordinasi itu penting
Ini pelajaran ketika gue dapat kerjaan sebagai petugas lapangan di instansi kabupaten. Kami dibagi menjadi beberapa tim, gue masuk di tim rata-rata senior semua orangnya. Salah satu yang bikin gue ga cocok sama pekerjaan ini adalah pola kerjanya yang ga nentu. Kami ga ngantor kayak pegawai instansinya, hanya jadi semacam pendamping perangkat desa yang menjadi target pembangunan dari instansi tersebut.
Mayoritas kami bekerja hanya jika ada kegiatan saja. Misalnya ketika barang-barang hasil pembelian menggunakan dana dari APBD datang. Ketika ada pencairan uang dari bank yang perlu diambil. Ketika ada jadwal rapat dari pimpinan kami di instansi. Udah gitu doang. Sisanya kebanyakan di kamar kost aja. Buat gue, bisa dibilang ini kerjaan "setengah nganggur".
Pekerjaan ini cocoknya disebut freelance, karena hanya perlu aktif ketika momen tertentu saja. Gajinyapun bisa dibilang jauh di bawah UMK. Karena memang jatohnya ga full time juga. Ga cocok buat gue yang masih usia produktif dan pengennya kerja kantoran.
Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari kerjaan ini adalah berkoordinasi/komunikasi itu penting.
Waktu itu kami memang banyak berkoordinasi di grup kerjaan (whatsapp). Gue yang waktu itu menganggap chat di grup terlalu mainstream, jadinya koordinasi lewat japri aja ke sesama anggota tim. Masalahnya, gue koordinasi ke anggota tim doang, kalo ke koordinatornya jarang.
Ternyata, hal itu dianggap gue jadi ga koordinasi kerjaan sama dia. Jadilah gue dianggap ga kerja, karena ga ada komunikasi. Padahal, gue mah kerja-kerja aja, ke sana kemari nengokin perangkat desa yang gue pegang progressnya. Mungkin karena kurang passionate sama kerjaannya, jadi terbawa juga vibes-nya ke anggota kerjaan yang lain.
Pada akhirnya gue emang ga diperpanjang. Seandainya diminta perpanjang pun gue gamau. Karena kurang suka budaya kerjanya yang ga ngantor tiap hari. Mungkin kalo koordinatornya ganti, atau budaya kerjanya ganti, masih akan gue pertimbangkan.
4. Bare minimum profesional
Pelajaran selanjutnya yang gue dapat adalah di pekerjaan yang sekarang. Menurut gue, kerjaan yang sekarang ini salah satu yang paling berkualitas dari semua yang pernah gue jalani. Dari sisi manajerial, profesionalisme dan juga koordinasi, perusahaan ini tergolong well manage.
Mungkin inilah kondisi dimana setiap posisi krusial diisi oleh orang-orang yang profesional dibidangnya. Semua terkoordinir dengan baik, segala kemungkinan masalah dimitigasi lebih dulu. Jikapun ada masalah, diselesaikan dengan cara yang halus lebih dulu sebelum menggunakan cara yang "kasar". Cara kasar pun hanya dijalankan jika dalam keadaan terpaksa dan mendesak sekali.
Pelajaran yang gue dapatkan di pekerjaan ini adalah profesionalisme itu bare minimum.
Karena terbiasa bekerja dengan standar profesional yang biasa-biasa aja, gue cukup kaget ternyata profesionalisme itu bisa sedisiplin ini diterapkannya. Profesionalisme yang gue maksud misalnya seperti penerapan SOP perusahaan yang cukup ketat. Jalur koordinasi yang jelas dan filter informasi yang ketat.
Gue cukup yakin masih ada perusahaan yang punya standar profesionalisme lebih tinggi dari kerjaan gue sekarang. Tapi tau segini aja gue udah bersyukur banget, jadi ilmu yang akan gue bawa kemanapun. Bahkan, gue akan menerapkannya di luar dunia kerja juga. Karena disiplin dan profesionalisme itu 2 hal yang sangat jarang dimiliki oleh seseorang.
Dari pekerjaan inI gue juga belajar untuk memahami bahwa setiap perusahaan punya kebijakan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah kebijakan 6 hari kerja. Seperti yang pernah gue tulis, kalo gue sebenarnya lebih mendukung kebijakan 5 hari kerja.
Hikmahnya adalah gue belajar mensyukuri hari libur yang sedikit ini. Katanya kalo kita bersyukur, ntar nikmatnya ditambahin. Nanti kalo banyak-banyak bersyukur makin bertambah hari liburnya, kan?
Aamiin...
***
Gue pengennya tulisan ini bisa bermanfaat buat lu. Entah lu lagi nyari kerjaan, atau udah punya kerjaan. Can make your job step up to the next level of your carier. Kalo memang misalnya lu udah tau hal ini, coba bagikan tulisan ini ke junior-junior lu yang lain. Misalnya lu punya cerita/pengalaman terkait karir/pekerjaan yang pernah lu jalankan, tuliskan di kolom komentar, ya!
















