Showing posts with label StandUp Comedy. Show all posts
Showing posts with label StandUp Comedy. Show all posts

Manfaat Standup Comedy

Standup Comedy merupakan hal yang baru bagi masyarakat Indonesia, bagi yang belum mencobanya, saya akan paparkan beberapa alasan mengapa kalian harus mencobanya suatu saat.

1. Jadi Sarana Mengatasi Rasa Gugup
Yang pertama kali coba SUC pasti pernah mengalami gugup yang luar biasa. Saya juga waktu pertama kali mencobanya. Namun jika sudah terbiasa, maka gugup itu pun akan terkontrol dengan sendirinya. Banyak-banyaklah ikut openmic, semakin sering ikut, semakin mudah untuk kita melatih rasa gugup. Tips yang saya dapat dari teman-teman yang sudah sering openmic untuk mengatasi rasa gugup : sebelum naik panggung, tarik nafas panjang lalu hembuskan perlahan, buat seluruh anggota badan rileks agar tidak kaku di panggung, kemudian berdoa.

2. Menguatkan Hafalan
Semua comic wajib menghafal materinya sendiri. Oleh karena itu materi harus sering-sering dilatih. Sewaktu openmic usahakan tidak membawa cacatan materi agar kita bisa tes kemampuan hafalan kita. Meskipun dalam ajang latihan sah-sah saja membawa catatan, namun usahakan jangan terbiasa melihat catatan. Dan untuk show, tidak boleh sama sekali membawa catatan. Karena sewaktu show materi yang disampaikan adalah materi yang sudah 'matang' dan sudah dites berulang-ulang saat diopenmic. Seharusnya tidak memerlukan catatan lagi.

3. Melatih Kemampuan Berbicara
Standup Comedi juga bisa dijadikan ajang untuk melatih kemampuan berbicara. Karena tidak banyak orang yang mampu berbicara sendiri di depan panggung dan membuat penonton tertarik akan apa yang dibicarakannya. Kita bisa melatih intonasi, ekspresi, diksi kita dalam berbicara. Beda sedikit saja dalam pemilihan diksi/intonasi dalam berbicara, akan mempengaruhi performa kita di atas panggung.

4. Percaya Diri
Setiap comic harus percaya diri akan materinya sendiri. Jika comic saja tidak bisa percaya pada materinya, bagaimana orang lain bisa menikmati? Percaya pada materi sendiri walaupun ga lucu itu lebih baik daripada percaya pada materi yang ngejiplak materi orang lain tapi lucu. Menurut saya,sih. hehehe.

5. Melatih Kepekaan Akan Lingkungan Sekitar
Untuk menjadi Standup Comedian, sudut pandang pribadi adalah poin penting. Maka dari itu comic haruslah punya kepekaan terhadap apa yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. Entah itu dari rumahnya, sekolah/kampus/kantornya, pacarnya sendiri, atau yang lebih umur seperti kejadian-kejadian di televisi/postingan aneh di twitter/facebook dan lain-lain.. Semakin peka seorang comic akan suatu kejadian di sekitarnya, maka akan semakin luas jangkauan materi yang dimiliki.

6. Melatih Menulis
Kebanyak komika itu harus punya kemampuan menulis yang baik. Karena materi sebelum dihafal harus ditulis terlebih dahulu. Teknik menulis materi itu tergantung dari comic masing-masing. Ada yang menulis hanya keyword materinya saja, ada yang menulis menggunakan mind map, ada juga yang menulis semua kata yang akan diucapkan. Terserah, sama saja sebenarnya. Yang penting, semakin sering menulis materi, semakin kita tau sejauh mana kemampuan menulis kita.

7. Mendapatkan Uang
Semakin profesional seorang comic, tentu value nya akan semakin meningkat. Dan sudah pasti akan mendapat bayaran tiap kali tampil di sebuah show. Semakin tinggi kelas shownya, misalnya masuk ke stasiun tv, maka semakin mahal bayarannya. Tentu hal ini tidak akan didapatkan dengan mudah, harus sering-sering latihan dan rajin mengolah materi.

Saya itu adalah beberapa manfaat dari menggeluti Standup Comedi yang saya dapat dari berbagai sumber. Semoga menginspirasi anda-anda yang membacanya, dan menjadi tertarik untuk ikut mencoba SUC di daerahnya masing-masing. Jika ada yang kurang berkenan silahkan sampaikan komentar di bawah postingan ini atau mention saya langsung ke twitter. Salah khilaf mohon dimaafkan.

VIVA LA KOMTUNG !

Menonton Standup Comedy

Mungkin banyak yang sudah membahas tentang pertunjukkan standup comedy, namun jarang yang membahasnya dari sisi penonton. Saya akan coba bahas di sini.


Sumber : halakrantaumanagement.com


Menjadi penonton dalam sebuah show standup comedy, apalagi itu adalah show berbayar, itu bisa jadi 2 perannya, pertama adalah dia memang penikmat standup comedy dan berniat nonton ingin ketawa, dan yang ke-2 adalah dia ingin mengapresiasi si comic dan menghargai jerih payah panitia yang bekerja di balik show tersebut. Kalo menurut saya, jika anda termasuk kegolongan yang pertama, mungkin anda orang yang pertama kali menonton show SUC, tidak masalah. Namun, anda akan kecewa ketika si comic yang naik panggung tidak selucu yang anda harapkan. Wajar memang, ekspektasi anda pasti mengharapkan comic yang tampil harus lucu, dan ketika anda melihat perform si comic tidak seperti yang diharapkan, anda akan kecewa.

Jika anda termasuk ke dalam golongan yang ke-2, selamat ! anda telah masuk ke dalam penonton SUC pada level yang lebih tinggi ! pada golongan ke 2 ini, anda tidak akan mempermasalahkan apakah perform si comic ini lucu atau tidak, yang terpenting mereka datang dan menonton apa yang disuguhkan di panggung.

Mereka mengapresiasi usaha si comic untuk bisa mencapai panggung show besar si comic itu sendiri.
Mau anda masuk golongan pertama atau kedua tidak masalah, perannya sama-sama penting untuk perkembangan SUC. Karena tanpa penonton, comic tidak bisa berkembang dengan baik.

Oke sekarang mari membahas bagaimana menonton sebuah standup comedy show yang adil dan beradab. hehehe.
Penonton saat SUC Festival Pertama. Credit to yang punya foto.

Beberapa peraturan yang umum berlaku dalam setiap SUC Show berbayar antara lain adalah : 

Dilarang merekam, Jelaslah dilarang, kalian bayar untuk menonton sebuah show, bukan merekamnya. Buat diri kalian menjadi bagian eksklusif dari acara SUC show yang berbayar tersebut. Kalian sudah mahal-mahal bayar, biarkan kalian simpan kenangan bagaimana menonton SUC Show secara langsung tanpa sensor di tv dalam memori otak kalian saja.

Dilarang memoto dengan menggunakan blitz kamera. Dilarang membuang sampah sembarangan. Dilarang membawa senjata tajam. Dilarang nyimeng. Dilarang berbuat mesum. dan lain-lain.

Yang menurut saya paling penting adalah, penonton harus tenang. Jika tidak boleh dikatakan diam. Maksudnya adalah, penonton berlaku sewajarnya, saat harus ketawa, tertawalah, saat harus menjawab pertanyaan dari si comic, jawablah. Namun ketika si comic lagi menyampaikan materinya, penonton jangan mengganggu dengan teriakan-teriakan yang tidak penting. Saya sering sekali menjumpai penonton yang tidak sopan saat comic tampil. Mereka meneriaki si comic yang sedang menyampaikan materinya. Seakrab apapun kalian dengan si comic yang ada di panggung, kalian tidak berhak menyela mereka dengan teriakan yang tidak penting.

Pertama, itu mengganggu penonton yang lain. Kedua itu bisa juga mengganggu si comic. Teriakan tidak penting seperti itu bisa jadi bencana, bisa jadi hadiah buat si comic. Bisa jadi bencana ketika comic malah hilang konsentrasinya saat diteriaki penonton. Bisa jadi hadiah ketika si comic bisa membalikkan teriakkan tersebut menjadi sebuah joke, dan mendiamkan si penonton tersebut. Oiya, dalam SUC orang yang mengganggu saat comic perform itu dinamakan hackler, dan yang dilakukan hackler disebut dengan hackling.

Menurut beberapa comic, hackler halal untuk didiamkan ketika dia sudah benar-benar mengganggu konsentrasi comic. Comic bisa saja menegurnya dengan membalas hackling tersebut dengan sebuah joke, atau bisa juga menegurnya secara langsung. Penonton harus tau diri, ketika sudah ditegur seperti itu, lebih baik diam dan dengarkan. Biarkan comic memiliki panggungnya saat show itu. Sebenarnya tidak perlu ditegur, anda pikirkan saja baik-baik, jika anda berdiri sendiri di atas panggung dan ditatap langsung oleh ratusan orang gugupnya seperti apa. Jangan ditambah gugup dengan hackling an anda yang mengganggu.

Tidak gampang untuk melakukan perform seperti itu.

Anda boleh melakukan hackling ketika anda disuruh oleh comicnya, namun kita jarang menemui comic yang seperti ini karena pasti sulit melakukannya.


Terakhir, kalo nonton SUC show, apalagi kamu sudah bayar mahal-mahal buat beli tiketnya, jangan ngelakuin kaya mba yang ini ya hehehe

sumber : pandji.com

Standup Comedy



Saya coba bahas salah satu genre komedi yang belakangan ingin jadi salah satu alternatif hiburan bagi masyarakat Indonesia.

Ditilik dari sejarahnya, akar standup comedy bermula di Benua Amerika pada tahun 1800an (sudah lebih dari 200 tahun). Pada saat itu hanya berkonsep seperti pementasan teater, judulnya "The Minstrel Show" yang diselenggarakan oleh Thomas Dartmouth Rice. Pada zaman itu belum ditemukan mic sehingga lawakan mereka lebih ke slapstick atau physical joke seperti yang lazim dilakukan acara-acara lawak di tv zaman sekarang.
Thomas Dartmouth "Daddy" Rice

Singkat cerita, akhirnya pada tahun 1959 setelah lebih dari 100 tahun kemunculannya, lahirlah sebuah acara televisi "The Steve Allen Show" yang menampilkan Lenny Bruce pada waktu itu. Lenny inilah yang menginspirasi George Carlin untuk menjadi seorang Standup Comedian, yang kemudian menginspirasi banyak Standup Comedian lainnya lahir seperti Chris Rock dan Jerry Seinfield.

Standup Comedi sendiri dapat diartikan sebagai Komedi Tunggal atau Lawakan Tunggal. Lebih jauh lagi, StandUp Comedi atau disingkat SUC adalah salah satu jenis komedi yang pelawaknya membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri. Pelawaknya sendiri sering disebut Standup Comedian, Comic, atau Komika dalam bahasa Indonesia.

Di Indonesia, memang hanya beberapa tahun belakangan ini SUC mulai berkembang. Namun perlu diketahui bahwa SUC sudah ada di Indonesia sejak lama. Ramon Papana sering disebut 'ayah' dari SUC Indonesia, beliau diketahui yang pertama kali 'membawa' SUC ke Indonesia. Dengan membangun 'Comedy Cafe' beliau menyediakan tempat untuk siapa saja yang ingin mencoba open mic (istilah untuk latihan membawa materi SUC) di cafenya. SUC meledak ketika para penggagas SUCI (Standup Comedy Indonesia) menggebrak pada tahun 2011 lalu. Waktu itu Raditya Dika, Pandji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Ryan Adriandhi, Isman mengadakan Standup Show pertama mereka dan langsung diupload ke Youtube. Dan terus berkembang hingga sekarang. Sudah banyak komika yang lahir dalam 2 tahun ini, entah itu lahir dari sebuah kompetisi SUC atau dari Komunitas-komunitas lokal di daerah masing-masing.
Raditya Dika
Isman Hs
Prolognya lumayan panjang,ya. Mari masuk ke inti pembahasannya saja.

Saya ingin mengemukakan pendapat saya mengenai mitos dari Standup Comedi ini :

StandUp Comedi merupakan lawakan cerdas. 
Semua jenis komedi memerlukan orang yang cerdas, menurut saya. Tidak gampang membuat suatu lelucon apalagi membuat orang tertawa. Tiap pelawak sudah semestinya cerdas dalam hal lawakannya. Jadi, StandUp Comedi hanyalah salah satu dari sekian banyak lawakan cerdas. Lebih tepat jika mengatakannya seperti ini : "StandUp Comedi adalah lawakan yang BEDA". Mengapa berbeda? Ya karena materi dari standup komedi itu berasal dari sudut pandang orang yang membawakannya atau disebut Comic. Jadi saya bisa pastikan hampir semua materi comic SUC itu original. Karena sudut pandang orang tidak ada yang sama, jikapun ada yang sama dalam hal materi yang dibawakan, ada 2 kemungkinannya, pertama dia menjiplak komedian lain, atau dalam pemilihan sudut pandang sama. Hal lain yang membuat SUC cerdas adalah karena lawakan komedian Indonesia kurang berkualitas. Memanfaatkan kekurangan fisik seseorang, adegan jatuh-jatuhan, melempar bedak/tepung ke muka lawan main, mengeluarkan kata-kata kasar untuk mempermalukan orang lain adalah contoh-contoh lawakan pada zaman sekarang. Sehingga ketika orang melihat SUC muncul dengan lawakan yang berbeda dari biasanya, orang-orang langsung menganggap ini adalah lawakan cerdas.

StandUp Comedi adalah budaya barat yang tidak akan bertahan lama di Indonesia.
Penyataan seperti ini belumlah terbukti sampai sekarang, selama hampir 4 tahun sejak SUC pertama kali meledak, gaungnya masih terasa. Bahkan ada komika yang sudah melakukan StandUp Comedy Tour ke kota-kota di seluruh Indonesia. Penyataan ini cukup aneh menurut saya, mengapa harus menyalahkan budaya baratnya? Raditya Dika pernah bilang seperti ini : "Standup Comedi memang budaya barat, tapi itu formatnya. Sedangkan contentnya adalah content lokal. Sehingga orang nyambung dengernya" Saya kira itulah penyebabnya mengapa SUC di Indonesia sampai sekarang masih eksis.


Seedbacklink