Pages - Menu

Bagaimana Cara Bertahan Di Tengah Pandemi Corona

Hampir semua orang di dunia terdampak pandemi baru di tahun 2020 ini. Tidak ada yang siap menghadapi kejadian ini, bahkan negara yang dibilang maju semacam Amerika dan Tiongkok. Bahkan Tiongkok sendiri adalah negara tempat penyebaran virus Corona pertama kali dimulai.

Bagaimana Cara Bertahan Di Tengah Pandemi Corona

Kalo negara maju saja gagap menghadapi hal ini, apalagi Indonesia. Sudah pasti terkejut nyata menghadapinya. Ga pemerintahnya, ga masyarakatnya semuanya terkena dampaknya.

Kalo dulu, meskipun seluruh dunia terdampak pandemi, tetapi efeknya ga terlalu berat. Mungkin karena mata rantai ekonominya masih ga terjalin antar negara. Ga kayak sekarang, dampak ekonominya terasa sekali. Semua sektor menurun pendapatannya, bahkan ada yang ga dapat pendapatan sama sekali.

Perusahaan swasta, BUMN, instansi dan institusi dipaksa beradaptasi dengan cepat terhadap kejadian ini. Kebijakan pemerintah jadi penentunya, ketika ada pemberlakuan physical distancing semuanya semakin terasa perubahannya.

Orang-orang jadi jarang keluar rumah, warung, toko, kios pendapatannya menurun drastis. Restoran, cafe dan tempat nongkrong lainnya jadi mendadak sepi. Ini yang bikin ekonomi jadi lesu dan mengurangi perputaran uang.

Pekerjaan semuanya dikerjakan di rumah, rapat dilakukan secara online, perjalanan dinas ditiadakan. Ga cuman mereka yang penghasilannya minim yang kehilangan pekerjaan, tapi juga perusahaan yang kebingungan harus menggaji karyawannya tapi pemasukan tidak ada.

Udah gitu, pemerintah menekan pemilik perusahaan untuk tetap menggaji dan memberikan THR ke karyawan mereka. Kalo ibarat makanan, perusahaan udah jadi sandwich karena ditekan dari semua sisi. Kasian.

Lantas dari pihak individunya sendiri gimana? Terutama mereka yang ga punya penghasilan bulanan dan hanya mengandalkan pendapatan harian. Gimana bisa bertahan dengan penghasilan yang minim di saat seperti ini?

Saya akan sebutkan beberapa solusi yang mungkin tidak akan disukai oleh kamu yang membacanya. Tapi bertahan hidup dengan hal yang tidak disukai saat seperti ini menurut saya adalah hal yang paling masuk akal yang bisa kita jalani.

Udah siap? Simak baik-baik.


1. Tambah atau Buka Jalur Penghasilan Baru

Hal pertama yang harus dilakukan adalah menambah jalur penghasilan yang baru. Kalo yang awalnya sebelum krisis cuman punya 2 atau bahkan cuma 1, coba buka 2-3 jalur baru. Bisa melalui offline ataupun online bebas saja yang penting bisa cepat dapat cash dan alur pemasukan lancar kembali.

Saran saya, jual hal-hal kebutuhan mendesak terutama yang ada hubungannya dengan kesehatan. Coba jual masker, hand sanitizer, obat-obatan atau vitamin adalah hal barang paling dicari. Ingat, jual dengan harga wajar dan bukan dijadikan ajang untuk aji mumpung memanfaatkan mereka yang kesulitan mencari barangnya.

2. Belajar Keahlian Baru

Kalo keahlian lamamu disaat situasi corona dan physicall distancing kayak gini ga bisa dipake secara maksimal, tandanya kamu harus cepet-cepet belajar keahlian baru. Walaupun menurut perhitungan saya agak terlambat untuk belajar hal baru di saat seperti ini. Karena seharusnya keahlian ini sudah dilatih sekian lama dan ketika diperlukan di saat situasi seperti ini bisa langsung digunakan.

Tapi okelah karena situasinya sudah darurat, kamu harus memaksa diri untuk bisa belajar keahlian baru. Kalo bisa sih keahlian yang bisa langsung menghasilkan uang dengan cepat dan bisa dilakukan walaupun masih dalam tahap belajar.

Anggaplah kamu bisa meluangkan waktu untuk belajar 2 jam per hari selama 1 minggu secara intens. Minggu berikutnya kamu sudah bisa mulai promosiin keahlianmu ke media sosial yang kamu punya.

Promo lewat status wa, facebook, instagram dan youtube misalnya. Maksimalin di situ aja dulu, sambil bangun personal brandingmu. Perjuangan di awal memang berat untuk sebuah keahlian baru tapi akan lebih berat lagi kalo kamu ga punya keahlian apa-apa.

3. Minimalisir Pengeluaran

Pemberlakuan physicall distancing seharusnya sudah bisa mengurangi pengeluaranmu hampir 50%. Karena kebanyakan orang mengeluarkan uang ketika berada di luar rumah. Apa aja mau dibeli. Sekarang saatnya kamu berhemat dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu.

Tapikan sekarang bisa belanja online mas? Tahan dulu nafsu belanjanya. Bukan saatnya menghabiskan uang untuk membeli hal yang tidak perlu. Sekarang waktunya berhemat sehemat hematnya. Apalagi kalo kamu ga punya pemasukan.

Stop cari makan di luar, cukup makan di rumah aja. Kurangi belanja barang-barang yang tidak terlalu penting untuk saat ini. Gausah nongkrong juga, ngapain? Mau diciduk sama aparat?

Tapi saya ga biasa makan di rumah mas, kalo ga dibolehin makan di luar terus gimana saya makan?

Makan seadanya dulu aja. Semua orang juga lagi menghadapi situasi yang sama kayak kamu, kok. Jadi ga perlu merasa jadi manusia paling menderita yang ga bisa makan di luar. Lebih baik kamu makan seadanya dulu daripada makan di luar terus pulang-pulang nularin virus ke orang rumah. 

Jangan mikir egois hanya untuk diri sendiri. Pikirkan keselamatan orang-orang disekitarmu juga. Kamu bisa aja ga tertular virusnya, tapi kamu membawanya ke dalam rumahmu. Itu yang sering ga sadari orang-orang tentang bahaya virus ini.

Kalo ga ada uang lagi gimana mas? 

Saya sarankan untuk tidak berhutang di saat kritis seperti ini. Mending jual barang yang bisa dijual aja. Ingat, jual ya bukan gadai. Nanti bingung lagi bayar bulanannya. Jual dan manfaatkan uangnya untuk menutupi kebutuhan hidup dulu, bukan buat beli barang-barang yang tidak penting.

4. Tabung Profit Dari Bisnis atau Gaji

Kalo punya bisnis yang masih jalan, sisihkan profitnya untuk ditabung. Gunakan profit seperlunya untuk keperluan bertahan selama pemberlakuan physicall distancing. Profit bukan omzet ya, ingat baik-baik. Omzet itu hasil kotor dari bisnis kamu, yang belum dikurangi pengeluaran tetap dan tidak tetap.

Ketika omzet udah dikurangi pengeluaran, baru bisa dibilang profit. Jadi profitnya tidak perlu dihabiskan untuk keperluan yang tidak mendesak. Bisnismu juga perlu diselamatkan di saat krisis seperti ini.
***

Semoga kamu tercerahkan dengan adanya artikel ini, ya. Dan saya harap ga lagi mengeluh karena keadaan. Soalnya bukan kamu aja yang terdampak sama kejadian pandemi corona ini, seluruh dunia juga. Jadi stop mengeluh dan langsung ambil tindakan secepatnya biar kamu ga terlena sama masalah dan lupa mencari solusinya.

Bagaimana Membuat 1 Konten Untuk Semua Platform Media Sosial Kamu

Selama menjalani bisnis online, saya semakin tertarik untuk membagikan apa yang saya pelajari selama ini ke semua media sosial saya. Hal ini bermula dari salah satu owner bisnis yang saya ikuti membagikan konten setiap hari di channel telegramnya.

Bagaimana Membuat 1 Konten Untuk Semua Platform Media Sosial Kamu

Dari sana saya terpikir, kalo dia saja bisa apalagi saya. Tapi, apa yang harus saya bagikan sementara ilmu bisnis saya masih cetek? Lalu ketemulah video-videonya Gary Vee yang mencerahkan saya. Dia bilang bagi aja apa yang sudah kamu pelajari ke media sosialmu.

Tips lain yang dikasih tau Gary Vee adalah setiap orang harus eksis di semua media sosial. Itulah kenapa Gary selalu ada dimana-mana. Youtube ada, instagram, twitter, tiktok, spotify, website, email semuanya dia aktif. 

Saya mikir dong gimana caranya bisa se-eksis itu ya? Sementara saya cuman sendirian ngurus semua media sosial. Lagi-lagi Gary Vee ngasih tau caranya, dengan menggunakan 1 konten untuk semua platform.

Dan itu membantu banget!

Dari sisi kreativitas saya ga harus ribet mikirin 1 ide per platform media sosial. Capek kalo mesti kayak gitu. Saya rasa sih sekreatif apapun orangnya ga akan bisa mikirin 1 konten atau ide per media sosial per hari. Bisa gila ntar hahaha.

Dari sisi pembuatan konten lumayan berat sih. Jujur aja, karena masih ngerajin semuanya sendirian, apalagi untuk bikin konten untuk semua platform. Saya perlu tim tapi pemasukan masih belum stabil untuk ngegaji tim, jadilah superman dulu sekarang ini.

Dengan bermodalkan komputer dan handphone saya mencoba tetap eksis di platform media sosial mayoritas. Website, Youtube, instagram, twitter dan facebook. Bagaimana saya membuat konten untuk semua media sosial tersebut hanya dengan 1 konten?

Kalo Gary Vee karena dia punya banyak tim yang ngurusin kontennya di medsos, dari 1 konten bisa dipecah pecah sampai jadi beberapa bagian gitu. Saya masih belum sanggup kayak begitu. Jadi yang saya lakukan adalah mendaur ulang konten yang sudah saya buat ke platform lain dengan menyesuaikan kebiasaan dari pengguna di platform itu.

Langkah-langkah saya membuat konten untuk semua media sosial:

1. Karena saya lebih suka tulis menulis, maka saya akan menuliskan kata per kata pada blog saya. Entah itu di rangkaianabjad.com atau di apabanget.my.id. Pokoknya naskahnya saya tuliskan dulu sampai selesai semuanya, sampai diposting ke halaman blog saya.

2. Setelah menuliskan dan memposting naskahnya di blog, saya bisa membuat 2 opsi konten. Biasanya kalo ga dibikin untuk jadi konten instagram, saya akan bikin versi videonya. Kalo bikin konten instagram, saya rangkum intinya menjadi padat singkat dengan bentuk foto carousel.

3. Anggaplah saya bikin ke instagram duluan, setelah itu akan saya buat versi videonya untuk diupload ke youtube. Saya biasanya minimal bikin videonya 10 menitan, ga terlalu panjang tapi juga ga terlalu pendek. Biar nanti kalo udah bisa dimonetize tinggal pasang-pasang iklan di videonya bisa lebih banyak.

4. Setelah versi videonya jadi, kemudian akan saya ubah ke versi audionya untuk bisa diupload ke anchor fm dan bisa didistribusikan ke spotify.

Gimana? Udah kebayang kan cara membuat 1 ide konten bisa dipake untuk semua platform?

Melihat langkah-langkah tadi, dari 1 ide konten saja saya bisa membuat konten untuk 4 platform sekaligus. Belum lagi kalo kamu punya channel sharing lainnya. Saya juga sering buka kulwa (kuliah whatsapp) dari materi yang ada di blog. Pernah juga saya share tulisan di blog untuk jadi bahan kulgram (kuliah telegram) di channel telegram saya.

Kalo ditambah kulwa dan kulgram barti bisa jadi 6 konten di platform yang berbeda. 

Belum lagi konten instagram carousel itu dimasukin ke whatsapp story, bisa bertambah lagi tuh jadi 7 konten. 

Belum lagi kalo facebooknya aktif, bisa tuh tulisannya diedit trus dijadiin status panjang di facebook, total 8 konten. 
Statusnya dishare lagi ke story fb nya, jadi 9 konten.
Foto ig carouselnya di share lagi ke story fb jadi 10 konten.
Video yang dipake upload ke youtube, bisa juga dipake untuk konten di fans page, 11 konten.

Tuh bisa jadi 11 dari 1 ide doang!

Oiya kenapa saya ga bikin kontennya ke twitter dan tiktok?

Pertama, karena twitter adalah tempat saya menumpahkan kekesalan saya kalo lagi bersosmed, jadi agak kurang cocok dijadikan tempat untuk mem-branding diri di sana hahahaha..

Tiktok saya ga sanggup bikinnya karena udah keburu terkuras tenaga untuk bikin video di youtube. Bukan karena alay atau jelek, ya. Tiktok itu potensial banget untuk membranding diri. Kalo ga, ga mungkin pa Sandiaga Uno bela-belain bikin akun tiktok ya kan? Hehehehe..

Nah sekarang, tinggal kamunya nih kayak gimana. Apakah mau eksekusi sebanyak ini, atau mau fokus di 1 platform aja? Itu semua terserah kamu, karena di sini saya mencoba memberikan perspektif baru. Bukan berarti harus dituruti semuanya.

Namanya juga strategi, boleh dipake semua dipake setengah atau bahkan ga dipake sama sekali juga ga masalah. Strategi ini dipake karena saya orangnya ga mau ribet ngurusnya. Jadi sekali bikin bisa untuk semua platform gitu.

Semoga sharing artikel ini bermanfaat buat kamu yang baca ya.