Cerita Kala Hujan

Cerpen Fiksi :Cerita Kala Hujan

Sabtu sore kali ini bersama dengan sehelai kertas dan sebatang pulpen yang siap untuk ku coret berserta hujan di luar rumah jadi backsound. Kata orang hujan itu punya nada-nada misterius yang bisa mengingatkan kita dengan masa lalu. Semoga kamu pun mendengar nada-nada kerinduan ini melalui hujan. Sudah berapa lama, ya, dirimu tak pernah lagi mampir di telinga, mata, ataupun hati ini? Ah lama sekali sepertinya.

Merindukanmu memang tak semudah dulu, lebih gampang mengucapkannya ketika kamu menjadi milikku. Sekarang cuma bisa memandang wajahmu lewat foto yang tersisa di handphoneku. Dahulu segaris senyum itu selalu menemani dan mewarnai hari-hariku. Dan gelang pemberianmu ini membuat hidupku semakin berwarna, bahkan masih sering ku pakai hingga hari ini. Aku ingat sekali waktu kamu pertama kali memberikan gelang ini setelah kepulanganmu dari Jepang kala itu. Kamu bilang ini adalah jimat dari Jepang yang bisa menjagaku agar tidak selingkuh jika kamu tidak ada di sisiku. Hahaha kekonyolanmu yang khas seperti ini selalu membuatku rindu. 

Tapi sekarang semua itu hanya bisa dikenang. Tak mudah untuk menerima perubahan apalagi saat lagi sayang-sayangnya seperti ini. Kamu yang melarangku untuk selingkuh, tapi kamu sendiri yang meninggalkanku untuk orang lain. But it's okay, maybe i'm not good enough to make you happy

Jika dengan orang lain kamu merasa lebih bahagia, aku rela. Tapi jangan pernah lukai hatinya seperti kamu melukai hatiku.

Karna hujan bisa saja datang dengan petir, namun jangan benci hujan karena petir. Hujan dan petir 2 hal yang berbeda, namun jika kamu hanya menyukai hujan tanpa petir bagaimana kamu bisa menghadapi badai hidupmu sendiri?

Artikel Terkait

Cerita Kala Hujan
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

4 komentar

10 Juni 2015 20.31 delete

Hujan dan petir 2 hal yang berbeda, namun jika kamu hanya menyukai hujan tanpa petir bagaimana kamu bisa menghadapi badai hidupmu sendiri?

wah kata2 itu keren loh

Reply
avatar
10 Juni 2015 20.52 delete

Ini muji karna ga enak gue puji duluan apa gimana nih? Hahaha :))
Tapi terimakasih yaa..

Sebenernya gue juga bingung maksud kalimat terakhir itu apa.. Gue semacam Vicky Prasetyo gitu kalo udah ngayal :| (lah kok malah curhat?)

Reply
avatar
10 Juni 2016 01.55 delete

Wah, bisa juga membatin ternyata.

Hujan, kenangan dan sendiri itu sepertix memang sdh satu paket yg mesti dihayati. Terlebih buat org2 yg berteman buku dan pena ketika menikmatix.

Reply
avatar
10 Juni 2016 10.11 delete

Hahaha iya juga dulu sebelum ada kata galau dibilangnya membatin ya...

Wah iya betul, saya sering membatin kalo lagi hujan, Mba. Ga tau kenapa hawanya enak aja gitu buat nulis begitu.

Reply
avatar

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.