Keluarga XL


Zaman sekarang siapa sih yang ga punya handphone atau tablet? Bahkan anak kecil umur 2 tahun aja kemana-mana mainin tablet. Kata orang tuanya sih biar ga jalan-jalan kemana-mana jadi ga susah ngaturnya. Tapi kita ga ngomongin ortu yang kaya begitu. Kita ngomongin masalah hp.

Sekarang hp itu sudah jadi kebutuhan sekunder bahkan jadi kebutuhan primer bagi sebagian orang. Dulu cuman orang-orang tertentu aja yang bisa punya hp karena harganya yang cukup mahal. Sekarang hp sudah bisa dijangkau semua kalangan. Dengan munculnya berbagai merk dan harga yang bervariasi, orang-orang semakin bebas menentukan pilihan mereka. Dulu 1 keluarga cuman punya 1 hp, sekarang 1 keluarga bisa punya 6 sampai 8 hp.


Di keluarga saya saja sekarang punya 7 hp. Saya sendiri kaget, kok bisa punya 7 padahal orangnya cuman be 3. Jangan-jangan hp nya beranak waktu kami lagi tidur. Dalam keluarga saya, penghematan adalah hal yang utama. Apalagi hp, pasti nyari provider yang murah kalo nelpon atau sms. Oleh karena itu kami sepakat harus punya kartu provider yang bersahabat untuk keluarga. Kami coba beberapa provider, ada yang smsnya murah tapi teleponnya mahal. Ada yang teleponnya murah tapi jaringannya sedikit, kalo malam gangguan. Serba salah semua.

Lalu akhirnya kami coba pakai kartu XL. Awal-awal tarif teleponnya memang mahal. Tapi jaringannya stabil dan smsnya juga murah. Kamipun sepakat untuk menggunakan XL sebagai kartu provider keluarga kami. Keluarga kami menggunakan kartu XL sejak 10 tahun lalu.

Dulu waktu SMP sempat pake kartu XL jempol sama bebas. Lagi pertama-tama punya hp jadi sering sms-an sama temen. Karna bonus smsnya banyak, jadi kalo bonusnya ga dipake rasanya sayang banget. Sering banget iseng ngirim sms kosong buang-buang bonus sms ke temen-temen hahaha. Maafkan aku teman-teman.
6 gadget + 1 modem.. 4 diantaranya pake kartu XL.
Provider XL ini cocok untuk keluarga kami yang doyan menghemat dan buat kalian yang masih mencari tarif layanan operator seluler yang efisien dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain jaringan yang stabil, sekarang XL jg punya paket internet yang murah. Buat blogger seperti saya yang suka nonton video di youtube cuma XL yang cocok, paketan super ngebut 11 GB paling sering saya gunakan.

Karena sudah sekian lama menggunakan kartu XL ini, saya punya masukan yang mungkin bisa membuat XL jadi lebih efisien dan bermanfaat lagi bagi masyarakat. Saya pengennya XL itu punya paket nelpon dan sms untuk 1 keluarga. Jadi tiap nomer XL anggota keluarga tersebut didaftarkan untuk bisa menikmati tarif khusus telpon dan sms yang lebih murah dari paket biasa. Biar ga kebanyakan, dibatasi saja nomer yang bisa didaftarkan maksimal 4 atau 5 nomer saja.

Kalo keluarga saya saja bisa bertahan 10 tahun pake XL tanpa paket khusus keluarga, gimana nanti kalo paket keluarga ini beneran ada? Wah bisa jadi tambah banyak keluarga yang pindah provider nih! Bikin yang single kaya saya pengen cepet-cepet berkeluarga biar bisa nikmatin paket murah dari XL hahaha.

Halaman Persembahan

Halaman persembahan ini ditulis karena peraturan di prodi saya tidak diperbolehkan memasukkan halaman persembahan ke dalam skripsi. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang masih memasukkan halaman persembahan. Namun saya masih bisa 'menyelundupkan' halaman ini di bagian "Kata Pengantar" pada skripsi saya, hehehe.

Tapi rasanya kurang lengkap karena belum cukup banyak ucapan terimakasih di sana. Jadilah saya tulis lagi versi lengkapnya.

Terwujudnya tugas akhir ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Penulis ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

Yang pertama tentu saja Allah SWT, Alhamdulillah nikmatMu selalu menyertai hamba.

Yang kedua adalah 2 orang yang satu-satunya (bingung ya? sengaja) saya miliki yang paling berharga seluruh alam semesta : Mama dan Abah. Jika bukan karena mereka berdua saya mungkin tidak akan bisa melangkah sejauh ini.

2 orang ini yang paling saya ingin bahagiakan di dunia.
Selanjutnya adalah keluarga besar saya yang selalu memberikan dukungan melalui pertanyaan: "kapan lulus?" atau "kuliahnya udah selese?" atau "gimana skripsinya?udah selese?" dan doa untuk saya.

Yang keempat the one and only Bapak Rijali Noor, ST., MT. Ketua Program Studi Teknik Lingkungan paling favorit sepanjang masa. Jika bukan karena beliau, urusan saya di kampus pasti tersendat-sendat. Terimakasih banyak, pak. Semoga bapak selalu sehat dan rezeki bapak selalu melimpah.
Bersama Kaprodi favorit
Kemudian untuk Ibu Rd. Indah Nirtha Nilawati NPS, ST., M.Si selaku dosen pengasuh akademik saya selama di Program Studi Teknik Lingkungan. Dosen wali yang nyenengin banget, ga pernah nuntut macam-macam sama mahasiswanya. Beliau tau mahasiswanya udah dewasa, jadi ga perlu dikasih tau ini-itu yang terlalu lebay.

Bapak Ir. H. Rosehan Anwar, MT selaku dosen pembimbing 1 saya. Dosen pembimbing paling sabar dan paling baik. Jarang nyuruh revisi, pokoknya jalan terus kata si bapak. Waktu seminar sampe sidang pun dibantuin, ga ada yang namanya 'ngebantai' mahasiswa bimbingan sendiri. Keren lah pokoknya. Semoga bapak selalu sehat dan bisa membimbing lebih banyak mahasiswa lagi. 

Ibu Rizqi Puteri Mahyudin. S.Si, MS selaku dosen pembimbing 2 saya. Dosen yang sabar banget betulin penulisan-penulisan saya di skripsi. Sampai minjemin Tesis dan bahan bikin Tesis beliau buat saya. Walau sakit masih bela-belain datang buat seminar dan sidang saya. Alhamdulillah ga sia-sia akhirnya bisa bantu saya menyelesaikan skripsi.

Ibu Nova Annisa, S.Si., MS dan bapak Dr. Roni Riduan, MT sebagai dosen penguji skripsi saya. Jika bukan karena masukan dan saran dari ibu dan bapak mungkin skripsi saya belum sempurna seperti sekarang.

Segenap dosen-dosen pengajar program Teknik Lingkungan UNLAM yang telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat

Seluruh pegawai dan staf Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Banjarmasin yang telah membantu saya mendapatkan data-data dan informasi yang diperlukan demi kelancaran tugas akhir ini.

Staf Administrasi Prodi Teknik Lingkungan Bang Deden dan Kak Rina yang telah banyak membantu dalam penyelesaian tugas akhir ini. Semoga keikhlasan kalian dibalas dengan setimpal.

Teman-teman semasa SMA dan kost Andri Nugroho, ST., Fajar Hariadi, ST., Anjas Karunia Ladika, ST., Adityo Pramono, ST., Rizky Ichwan Amalia, ST. dll yang selalu mendukung dan menghibur saya dalam keadaan suka maupun duka. Semoga kita bisa ngumpul terus disela-sela kesibukan masing-masing.

Foto jadul waktu anggota kos-kosan masih lengkap. (btw cewe2  ini ga ngekos bareng kami kok, tenang).

Teman-teman seperjuangan Teknik Lingkungan angkatan 2009, Wahyu, Eza, Ikhsan, Kiky, Ajrin, Aly, Irwansyah, Rian, Aqlima, Madjid, Ari, Diah, dll terimakasih untuk dukungan dan wejangan-wejangan yang telah diberikan selama ini. Walaupun kita lulus ga bisa barengan, semoga setelah masih bisa sama-sama terus.

Cuma ini foto keluarga environine yang saya punya orangnya lumayan lengkap

Kawan-kawan komunitas Standup Comedy Banjarmasin dan Banjarbaru yang telah memberikan ilmu dan pengalaman baru. Bergabung bersama kalian membuat saya tau bagaimana rasanya memiliki keluarga yang baru.
sebagian dari anggota standupbjm dan standupbjb 

Juga terimakasih kepada orang-orang yang telah membuat saya sakit hati. Jika bukan karena kalian yang melukai hati saya, mungkin saya tidak akan pernah bisa membuktikan diri saya bisa lebih baik dari kalian.


[UPDATE] Mohon maaf buat yang namanya mungkin ga tercantum di tulisan ini. Karna saya orangnya pelupa, harap maklum, ya. Rasa terimakasih saya tidak akan berkurang karena nama kalian tidak tercantum di sini, dan doa saya selalu menyertai apapun yang ingin kalian capai. Karna tanpa kalian, saya tidak akan bisa mencapai tingkat seperti ini.

Rencana Selanjutnya

Rencana Selanjutnya

Dulu waktu kuliah selalu bermimpi untuk fokus menekuni hobby sendiri kalo sudah selesai menyelesaikan kuliah. Sebelumnya memang sudah menekuni, namun karena saya orangnya kurang bisa multitasking jadinya tidak terlalu fokus. Saya harus menggunakan skala prioritas sehingga mau tak mau mesti memilih antara fokus kuliah atau fokus menekuni hobby.

Dulu, sih sempat coba masuk dan membuat komunitas standup comedy namun ternyata malah nilai kuliah turun. Mungkin karena saya yang kurang bisa membagi waktu antara komunitas dan kuliah. Akhirnya mau tak mau komunias harus saya korbankan untuk kuliah yang lebih fokus. Sempat juga menulis di blog, tidak menyita banyak waktu memang, namun malah menyita porsi pikiran untuk menulis bahan blog, bukan skripsi. Jadilah tersendat-sendat mengupdate blognya.

Nah sekarang adalah kesempatan paling tepat untuk saya melanjutkan hobby yang tertunda itu. Saya sudah masuk dalam komunitas baru lagi yang bernama Pena Blogger Banua (PBB) dimana komunitas ini bergerak di bidang perblog-an. PBB ini terbentuk sejak lama, namun saya baru saja bergabung ketika 'bertemu' secara cyber dengan salah seorang blogger Banjarmasin, si Aditya Regas. Dari situ saya diajak untuk bergabung ke komunitas ini. Semoga saya bisa mencurahkan pikiran dan tenaga saya untuk membangun komunitas ini jadi lebih baik. Namun saya tidak menutup kemungkinan untuk bergabung dengan komunitas lain yang sesuai dengan minat saya. Hehehe.

Yang kedua saya ingin melanjutkan kegiatan saya menulis di blog. Rasanya gatal sekali ingin menuliskan berbagai macam kejadian yang saya alami di sini. Dan saya ingin terus mengasah kemampuan saya menulis untuk jadi lebih baik lagi. Siapa tau dari ngeblog ini saya bisa mendapatkan uang, atau bahkan perkerjaan. Kan lumayan buat tambahan uang saku saya.

Terkahir yang membuat agak galau. Masalah pekerjaan. Saya sebenarnya masih ingin santai menikmati masa kelulusan ini. Namun ortu saya selalu mengingatkan untuk segera mencari pekerjaan. Saya tidak suka kalau didesak seperti itu, membuat tidak leluasa. Saya tidak mau tergesa-gesa mengambil pekerjaan yang bukan minat saya. Saya ingin bekerja dibidang dimana saya bisa memaksimalkan ilmu yang saya peroleh selama saya kuliah. Dan kalo bisa sih di kota sendiri saja, saya ingin membantu kota saya berkembang lebih baik lagi. Keinginan pribadi sih bisa dapat kerja di luar pulau, tapi sepertinya sulit terlaksana karena ibu saya bakal sendirian di rumah. Ayah saya sering pergi keluar kota soalnya. Bekerja sesuai bidang ilmu yang saya pelajari waktu kuliah jadi prioritas saya. Biar ilmu di kuliah kepake, ga mubazir-mubazir amat. Hehe.

Soal pasangan kayanya nanti dulu, deh. Rasa-rasanya masih kurang pantas untuk punya pacar. Siapa yang mau sama pengangguran? Hahahaha. Nanti aja kalo udah punya kerjaan yang mantap dan tetap, rasanya baru merasa pantas untuk punya gandengan lagi. Lagian menurut pengalaman saya nih, kalo diseriusin nyari pasangan pasti ga bakal nemu, yakin deh. Yang udah pernah kejadian itu malah ga ada niat buat nyari, eh tau-tau dikasih beneran. Well, Tuhan tau yang saya butuhkan, bukan yang saya minta.

Semoga rencana ini didukung sama Tuhan, biar gimanapun juga semua ini ga akan terlaksana kalo Tuhan ga ngasih izin. Mohon doa juga buat teman-teman yang baca tulisan ini ya. Semoga niat dan rencana ini bisa terlaksana dengan lancar.

Selesai Sudah

Orang bilang keluar dari zona nyaman itu ga enak. Kalo ga enak kasih kucing aja mendingan. Mencoba hal baru memang sulit, selalu saja ada hal-hal aneh yang dipikirkan. Orang yang bilang keluar dari zona nyaman itu ga enak, berarti belum pernah keluar dari zona nyaman sebelumnya. Termasuk saya, waktu dulu.

Untuk saya, zona nyaman itu duduk-duduk di kamar kos sambil internetan di depan laptop, nonton film, download film, nonton video di youtube, ngetweet, nulis di blog, kuliah sebentar, kerjain tugas seadanya, kalo ngantuk tidur, skripsi ga dikerjain. Padahal udah 8 semester dan udah ngambil mata kuliah Tugas Akhir waktu itu. Intinya zona nyaman saya adalah malas. Sulit sekali melawan rasa malas ini, apalagi setelah teman-teman se kos saya sudah lulus semua dan saya yang tertinggal. Semakin hari yang saya kerjakan semakin tidak berhubungan dengan tujuan menyelesaikan skripsi.

Perjuangan menyelesaikan skripsi yang benar-benar saya lakukan adalah ketika saya sudah tidak punya kamar kos lagi alias berhenti ngekos. Tepatnya bulan November 2014, saya akhirnya mengangkut semua barang-barang di kos kembali ke rumah ortu. Ada perasaan campur aduk di sana, karena saya merasa masih memerlukan kos itu untuk jadi tempat istirahat sepulang dari kampus, namun di sisi lain saya tidak mau membebani ortu saya dengan membayar kos tapi skripsi mandek. Semenjak itu saya harus bolak-bolak dari rumah ke kampus yang jaraknya 1 jam jika bersepeda motor. Dengan pengawasan ortu yang lebih ketat daripada di kos membuat saya menjadi kurang leluasa untuk malas, karena selalu diberondong dengan pertanyaan semacam "gimana skripsinya udah dikerjain hari ini?" atau "kapan mau nyelesein skrispsimu, udah bulan apa ini?" dan lain-lain.

Semakin hari semakin sering pertanyaan itu keluar dari mulut ortu saya, terutama ibu. Mau tidak mau saya harus memaksakan diri untuk mengerjakan skripsi saya. Halaman-halaman demi halaman saya coba tulis sedikit demi sedikit. Memulai sesuatu itu memang sulit sekali, namun jika sudah mulai semuanya akan lancar sekali. Dari yang hanya sehari cuma bisa dapat 1 halaman, sampai akhirnya dalam 1 hari bisa dapat 3-5 halaman skripsi. Kemajuan yang pesat karena di kos saya hampir tidak pernah mengerjakan skripsi sama sekali. Berada jauh dari pengawasan ortu membuat saya semakin terlena di zona nyaman. Saya teringat perkataan dosen saya, "kita harus bisa memilih antara berdiam diri di zona nyaman atau kita yang memaksa diri untuk keluar dari zona nyaman itu demi kebaikan diri sendiri"

FYI untuk di prodi saya, diperlukan 4 kali tahapan seminar dan sidang untuk bisa menyelesaikan skripsi (Tugas Akhir) ini. Yang pertama adalah seminar pra-proposal, setelah revisi pada pra proposal disetujui selanjutnya diadakan seminar proposal. Revisi lagi, sekaligus menjalankan penelitiannya hingga keluar hasil dari penelitian yang dilakukan selanjutnya menempuh tahap seminar progress. Seminar ini bisa dilakukan hanya dengan bertatap muka dengan dosen pembimbing dan penguji atau bisa juga dilakukan seminar dengan presentasi. Tergantung kebijakan dosen pembimbing masing-masing. Setelah revisi dari seminar tersebut disetujui, tahap berikutnya adalah seminar hasil. Selama proses yang ada kata 'seminar'-nya diperbolehkan ditonton oleh mahasiswa lain yang ingin melihat dan bertanya tentang penelitian si mahasiswa yang sedang presentasi. Tahap terakhir yang harus ditempuh adalah sidang akhir, dimana ini adalah tahap paling menentukan karena di sini kita benar-benar diuji baik dari dosen pembimbing maupun dosen penguji skripsi. Sepanjang itu proses yang harus saya dan teman-teman di prodi saya lalui untuk bisa lulus.

Proses yang paling membuat stress adalah antara selesai progress sampai ke sidang akhir. Karena banyak halangan yang membuat saya hampir menyerah untuk menyelesaikan skripsi saya pada bulan Januari. Mulai dari harus bolak-balik rumah ke kampus tiap hari, iya kalo cuacanya cerah, yang paling nyiksa itu kalo hujan deras, baju celana buku basah semua. Soalnya saya ga punya mobil jadi kemana-mana mesti pakai sepeda motor. Sampai ke dosen pembimbing yang sakit, saya hampir menunda sidang akhir saya ke semester depan karena ini.

Namun pada akhirnya semua itu saya lalui juga. Perlu kesabaran ekstra dan pikiran positif serta semangat yang terus dibakar untuk bisa menyelesaikan semua itu. Memang betul apa kata dosen saya waktu awal kuliah, dia bilang "Kuliah itu memang perjuangan, kamu berjuang buat dapat nilai sama dosen itu belum seberapa, perjuangan kuliah paling berat itu adalah dimana kamu harus melawan dirimu sendiri saat mengerjakan skripsi"
Waktu Yudisium
Menyelesaikan skripsi itu adalah perang melawan semua zona nyaman. Membuat kita mendorong diri sendiri untuk mengeluarkan seluruh kemampuan agar bisa beranjak dari situ. Melakukannya tidak bisa instan tapi juga tidak bisa santai. Melakukan secara instan bisa jadi tubuh kita shock sendiri. Melakukannya secara santai bisa membuat terlena.

Intinya adalah konsisten. Selama kita membuat perubahan yang konsisten untuk keluar dari zona nyaman, maka setelahnya pasti akan mudah. Dan ingat, selalu minta restu dari orang tua biar mereka selalu ngedoain kita.

Dengan kesaraban, pikiran positif, konsistensi, niat, dukungan orang tua dan sedikit keberuntungan akhirnya perjuangan saya untuk menyelesaikan skripsi saya selesai sudah.

Senyum Sumringah