[Review Suka-Suka] Film 3 Nafas Likas

Sebenarnya saya tidak terlalu hobi menonton film Indonesia di bioskop. Sudah terlalu banyak film lokal bagus yang saya lewatkan untuk ditonton. Sebut saja, Perahu Kertas 1, Perahu Kertas 2, Habibie & Ainun, Manusia Setengah Salmon, Comic 8, dan lain-lain. Namun entah kenapa film 3 Nafas Likas ini menarik perhatian saya. Mungkin karena ada news anchor favorit saya, Marissa Anita yang ikut main di film ini. Hehehe.


film 3 nafas likas yang menceritakan perempuan karo
3 Nafas Likas. Sumber
Jujur saya ini tidak terlalu mengerti dunia perfilman secara keseluruhan. Hanya sebagian saja yang saya tau jadi mohon maaf jika dalam review ini ada banyak hal yang salah atau masih kurang pembahasannya. Tapi saya mencoba untuk belajar sedikit-sedikit mereview film yang saya nonton agar mengerti tentang film lebih banyak.

Hilda yang diperankan Marissa Anita. Sumber
Opening scene adalah salah 1 scene favorit saya, karena ada Hilda (Marissa Anita) yang langsung muncul. Dengan alur mundur, Likas yang sudah memiliki cucu menceritakan hidupnya dari awal kepada Hilda sebagai pengarang buku Likas. Menceritakan kisah hidup Likas kecil (Tissa Biani Azzahra) yang menurut saya diperankan dengan apik olehnya. Di sini menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat Karo sebelum penjajahan seperti apa. Keadaan keluarga Likas yang tinggal bersama dengan ke tiga orang adiknya yang masih kecil. Dan 1 orang kakanya yang sudah pergi merantau menjadi polisi di kota.
Akting Tisaa sebagai Likas kecil cukup apik
Likas kecil yang diperankan Tissa Biani Azzahra

Konflik antara Likas dan ibunya (Jajang C Noer) ketika Likas yang ingin menjadi guru harus dilarang oleh ibunya mengingatkan saya dengan ibu saya yang sering sekali berbeda pendapat. Momen paling menyentuh adalah ketika Likas untuk pertama kalinya pergi untuk bersekolah ke Sekolah Biasa jauh dari rumah. Karena saat itu Likas tidak bisa berpamitan dengan ibunya yang masih tidak bisa menerima keputusan Likas untuk pergi bersekolah keluar desanya.

Beranjak dewasa Likas semakin memperlihatkan ketangguhannya sebagai perempuan yang memperjuangkan kesetaraan hak wanita dengan laki-laki. Walaupun dicaci oleh lelaki dia tetap tegar memperjuangkan haknya sebagai wanita. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Djamin Gintings (Vino G Bastian) seorang tentara PETA yang jatuh hati padanya. Meskipun Likas berusaha menghindar darinya tiap kali bertemu.

Djamin Gintings difilm 3 Nafas Likas
Senyum kampretnya Djamin saat pertama kali melihat Likas :D
Di saat ini pula keadaan Indonesia yang sedang dijajah Jepang semakin memburuk dan perjuangan Likas dimulai untuk menyelamatkan diri. Suasana perang yang dijalani Djamin dan pasukannya menurut saya kurang realistis di film ini. Sebagai penyuka film perang, di film ini para pasukan perang Indonesia (pada saat itu bernama PETA) seolah-olah melawan musuh yang 'tak terlihat'. Salah satu scene yang menurut saya 'aneh' adalah ketika di tengah-tengah perang Djamin mendapat telepon yang mengatakan Indonesia sudah merdeka. Setelah Djamin memberitahu teman-teman bahwa Indonesia merdeka, saat itu pula tembak-tembakan selesai.

Scene 'aneh' yang saya bahas. Sumber
Namun karena ini memang bukan film action saya masih bisa mengerti. Penggambaran perangnya sudah cukup mewakili bagaimana suasana perang pada saat penjajahan dahulu.

Secara keseluruhan film ini salah satu film Indonesia yang menurut saya lumayan bagus. Saya yang bukan orang Sumatra jadi mengerti bagaimana budaya orang sana. Walaupun tidak secara detail diceritakan di sini.
Sesuai judulnya film 3 Nafas Likas ini menceritakan 3 orang yang menjadi nafas kehidupan bagi Likas hingga sekarang. Ibu, Abangnya dan Djamin. Namun yang terlihat di sini lebih banyak porsi Djamin yang diceritakan daripada Ibu dan Abangnya.
Vino g bastian, marissa anita, atiqa hasiholan dan abangnya likas
Karakter di film 3 Nafas Likas. Sumber

Karena film ini menceritakan banyak karakter sehingga chemistry antara Likas dengan karakter lain menjadi tidak kuat. Meskipun porsi Djamin diceritakan lebih banyak daripada 2 karakter pendukung yang lain (Ibu dan Abangnya) menurut saya romantisme keduanya tidak terlalu kuat. Mungkin karena durasi yang tidak cukup untuk mengakomodir semua kisah Likas ini sehingga tidak semuanya bisa diceritakan.

Semoga muncul lagi film-film berkualitas seperti 3 Nafas Likas ini nantinya. Bukan cuma film yang rame karna sensasi pemain-pemainnya, tapi karena kualitas akting para pemain. Dan saya harap yang membaca review ini tidak kecewa karena terlalu banyak spoiler film yang saya ceritakan. Hahahaha.

Artikel Terkait

[Review Suka-Suka] Film 3 Nafas Likas
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.