Stop Merasa Paling Benar

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat perbincangan menarik dengan teman-teman zaman SMA saya. Berbincang dengan mereka selalu menarik, bukan hanya karena sudah lama tidak berdiskusi seperti itu, namun saya bisa dapat berbagai macam sudut pandang dari 1 hal. Saya bisa mengerti arti perbedaan itu seperti apa. 

Saya merasa pikiran saya sudah sangat terbuka, namun ternyata masih banyak pendapat pendapat yang belum saya tau. Walaupun sering membaca berita atau info menarik di sosial media, ternyata itu belum cukup. Berdiskusi dengan orang yang pemahamannya bersebrangan dengan kita itu lebih banyak info dan ilmu yang bisa saya serap dari mereka.

Ini penting menurut saya, karena hanyar bergaul dengan orang-orang yang sepemahaman dengan kita itu tidak membuat kita menjadi lebih baik. Berdiskusi dengan orang yang pandangannya jauh berbeda dengan kita membuat kita tau bahwa wawasan kita itu ternyata hanya sebatas 'kotak' yang selama ini kita tempati. Bahwa sebenarnya jauh lebih banyak pengetahuan yang bisa kita ambil seandainya kita mau 'keluar dari kotak' itu.

Karena menonton tv zaman sekarang sudah tidak relevan lagi dijadikan bahan untuk menambah informasi. Apalagi jika stasiun tv itu dimiliki oleh pengusaha dan politisi yang ingin mengambil keuntungan untuk mendapatkan citra positif bagi diri sendiri dan mengumbar citra negatif opsisinya.

Membuka diri untuk sesuatu yang baru mungkin solusi yang tepat untuk menambah wawasan kita. Agar pikiran menjadi terbuka dan pandangan kita akan dunia menjadi semakin bertambah. Bahwa sesungguhnya tidak selamanya pendapat yang kita punya itu benar. Karena ini hanya pendapat, maka setiap orang berhak untuk membantah ataupun mengikutinya.


Perbedaan pendapat seharusnya tidak membuat kita terpecah belah. 
Perbedaan pendapat tidak seharusnya dilawan dengan tindakan anarkis. 
Contoh saja seperti Komunitas yang mengatasnamakan dirinya suatu agama. Hanya karena ada kaum minoritas yang melaksanakan ibadah saja, lalu berhak untuk mereka larang. Apa masalahnya? Salahkah mereka punya pemahaman yang berbeda tentang Tuhan? 
Orang-orang yang seperti ini yang membuat suatu agama menjadi jelek dimata umat yang lain. Mana ada agama yang menyuruh umatnya untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap umat yang berbeda dengan mereka?

Jangan karena merasa mayoritas kemudian bisa seenaknya melarang yang minoritas untuk tidak boleh beribadah di wilayahnya. Coba bayangkan ketika kalian yang menjadi minoritas di negeri yang lain, bagaimana jadinya? Oh saya ingin sekali ketika anggota komunitas itu ditangkap hukumannya bukan dimasukkan ke dalam penjara.

Hukuman yang pantas bagi mereka yang merasa paling benar karena kaumnya mayoritas itu adalah merasakan penderitaan menjadi kaum-kaum minoritas !

Itu lebih menyiksa daripada sekadar dihukum penjara bertahun tahun.

Oleh karena itu, menimba ilmu setinggi tingginya menjadi penting. Agar berakal, dan bisa membedakan mana yang harus dilawan dengan kekerasan, mana harus dilawan dengan argumen saja.
Ilmu itu penting, agar kita tidak merasa yang paling benar, paling pintar. Menuntut ilmu bukan seperti itu tujuannya. Justru sebaliknya, karena merasa berilmu, maka kita tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak perlu seperti itu.

Dan menurut saya, yang minoritas tidak harus dilawan dengan kekerasan. Tidak juga harus dilawan dengan argumen. Karena mereka percaya dengan yang mereka anut. Selama itu tidak melanggar peraturan hukum yang berlaku di Indonesia, silahkan saja.


Mulai sekarang berhenti untuk merasa paling benar. Karena kebenaran adalah sebuah kerelatifan. Kebenaran tidak akan menjadi benar ketika tidak ada yang salah. Dan yang salah belum tentu mereka tidak benar. Mereka itu benar, dari sisi mereka. Begitupun kita, kita itu benar, namun hanya dari sisi kita.

Bersatu untuk kebenaran itu lebih mulia dibandingkan terpecah belah untuk kebenaran yang hanya satu.
Berbeda dalam kedamaian itu lebih asyik daripada sama tetapi dalam kekacauan.

Yang berhak menentukan siapa yang salah dan benar itu hanyalah Tuhan. Karena Dialah yang seadil adilnya pengadil. 

Artikel Terkait

Stop Merasa Paling Benar
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

8 comments

June 6, 2014 at 3:23 PM delete

wohoo postingan yang berbobot. Tapi emang bener gimanapun merasa "paling" itu emang kelwatan banget

Reply
avatar
June 6, 2014 at 3:47 PM delete

wah teimakasih :) semoga kita tidak merasa begitu ya :)

Reply
avatar
June 6, 2014 at 5:18 PM delete

kerenn!! tulisan nya udah rapi! ajarin dong!

Reply
avatar
June 6, 2014 at 5:28 PM delete

wah makasih bro.. tapi gue bingung ngajarinnya gimana. gue aja masih belajar soal tulis menulis nih haha :D

Reply
avatar
June 6, 2014 at 6:00 PM delete

"Merasa paling benar" dan "Sok benar", terkadang kesal sendiri sama orang yang kayak gitu. Dikasih tahu marah-marah. ._.

Reply
avatar
June 6, 2014 at 6:13 PM delete

iya yang kaya gitu emang ngeselin sih.. tapi ya gitu deh.. kita yang waras ngalah aja mendingan :)))

Reply
avatar
June 8, 2014 at 6:23 PM delete

kalo diskusi sama orang yg lebih tinggi atau berbeda pandangan, biasanya gue lebih banyak jadi pendengar. karna lebih tertarik buat dengerin pemikirannya dia. nice share.

Reply
avatar
June 9, 2014 at 1:20 PM delete

iya kadang gue juga gitu. lebih ke penasaran aja ke pemikirannya dia. kenapa bisa begini?kenapa bisa begitu? terimakasih sudah membaca :D

Reply
avatar

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.