Pindah (2)

Pindah memang tak selalu menyenangkan. Entah itu pindah rumah, pindah kantor, apalagi pindah hati. Bukan dari hati yang satu ke hati yang lain, saya bukan tipe orang yang seperi itu. Melainkan pindah dari hati yang terisi ke hati yang kembali kosong.

Kalian bisa bayangkan hati yang tak terisi itu seperti rumah kita yang kosong, yang menempatinya hanya kita sendiri. Barang-barangnya masih tidak banyak, hanya untuk keperluan kita saja. Kita terbiasa untuk sendiri.

Lalu kemudian ada seorang wanita yang suka dengan rumah kita ini, dan bersepakat untuk tinggal bersama di dalamnya. Saat itulah hati kita terisi, dengan wanita yang kita inginkan untuk mengisinya. Dia mulai membuat rumah kita menjadi lebih berwarna, banyak barang-barang baru di sana, keadaan rumah mulai nampak berbeda, ada bunga-bunga di halamannya. Kita yang awalnya terbiasa untuk mengurus segala sesuatunya sendiri, mendadak berubah karena ada yang membantu mengurusnya. Kita memulai kebiasaan baru bersamanya, menyesuaikan diri. 

Semakin lama dia tinggal di rumah kita, semakin banyak barang-barang (kenangan-kenangan) yang ada di sana. Mulai dari yang kecil sampai yang besar. Semua ada di rumah kita. Bunga-bungan di halaman yang pada awalnya segar, sekarang sudah mulai jarang disirami olehnya, karena dia terlalu sibuk dengan urusannya yang lain. Dia memang sering pulang ke rumah kita, tetapi kita merasa dia sudah tidak menikmati kenyamanan yang ada dalam rumah itu.

Sampai pada akhirnya, dia memutuskan untuk pindah. Ketika ditanya mengapa ingin pindah, dia menjawab "aku merasa semuanya sudah tidak pada tempatnya lagi. Berantakan" Kita coba membujuknya untuk tidak pergi. Kita mencoba membereskan barang-barang yang berantakan itu, tapi kita tak sanggup, karena itu barang-barang yang seharusnya dibereskan oleh 2 orang, bukan 1. Dan akhirnya kita pun pasrah, karena setengah dari pemilik barang itu sudah tidak tinggal disitu lagi.

Kemudian, ketika melihat ke dalam rumah kita itu, kita melihat begitu banyak barang yang ada di sana. Barang yang ada karena kita memang menginginkannya. Barang-barang yang mengingatkan kita kepadanya. Karena memang bukan cuma kita yang memiliki barang-barang itu, wanita yang kita pilih pun juga memiliki setengahnya.

Lalu kita melihat bunga-bunga di halaman rumah kita menjadi layu. Percuma kita siram sekarang tak akan tumbuh lagi, karena yang menanamnya sudah pergi. 

Barang-barang itu pun tak bisa kita buang. Karena tak mungkin kita membuang semua kenangan yang telah kita abadikan bersama dia.

Kita hanya bisa memandang barang-barang yang tertinggal dengan senyum pahit. Yang mengingatkan kita akan pemiliknya. Namun kita tau semua itu tidak mungkin terjadi 2 kali. Kita tau pemilik barang itu sudah tak ada lagi di sini, di rumah kita.

Dan kita pun sendiri kembali. Kita yang ditinggalkan oleh yang pindah ini harus kembali menata rumah kita. Yang meninggalkan kita telah membawa setengah dari rumah kita. Namun kita harus mencari seseorang yang lain lagi, yang memiliki setengah dari rumah kita yang lain agar kita bisa menata rumah yang baru.

Itulah pindah. Tak pernah menyenangkan.

Aku harap, kamu sudah memikirkan masak-masak sebelum kamu pindah dari rumah ini. Karena aku tak bisa menata rumah ini sendiri seperti sedia kala. 

Aku rasa kamu tau itu.

Artikel Terkait

Pindah (2)
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

2 comments

April 14, 2014 at 7:32 AM delete

Semangat broh. Gue malah lagi ngerapihin rumah supaya ada yang tertarik masuk nih. Hehe.
Sepertiny abaru pertama kali ke sini. Salam kenal yaa. \:D/

Reply
avatar
April 14, 2014 at 1:02 PM delete

oke bro semangat juga :)
salam kenal juga

Reply
avatar

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.