Berguru Kepada Binatang

Dalam kitab suci selalu dikatakan bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Lebih mulia daripada binatang dan tumbuh-tumbuhan. Manusia diberi akal oleh Tuhan agar bisa berfikir. Tidak seperti binatang yang hanya diberi nafsu.
Akan tetapi terkadang kita sering kali melihat tingkah laku manusia tertentu yang seperti binatang, tidak berakal.
Contohnya sederhana saja, membuang sampah. Itu hal yang sepele sebenarnya. Namun, kadang masih saja terlihat ada yang malas sekali membuangnya ke tempat yang semestinya, meskipun sudah disediakan. Saya sering sekali melihat di jalan-jalan, banyak orang yang melempar sampah ke pinggir jalan dari jendela mobilnya. Padahal lokasinya bukan tempat pembuangan sampah. Saya heran, punya mobil mewah tapi buang sampah saja tidak becus.

Apa sulitnya menyimpan sampah sebentar di dalam mobil sambil menunggu ada tempat pembuangan sampah yang resmi di pinggir jalan? apa karena bau? jijik? hehehe aneh sekali, kita itu sudah simpan sampah sedari dalam perut. Tau yang namanya feses,kan? nah itulah sampah yang anda simpan dalam perut. Anda jijik dengan sampah yang disimpan dalam mobil anda yang cuman sebentar?hahahaha.. 
Begini, jika memang anda tidak ada kepedulian sama sekali terhadap lingkungan anda, anda tidak punya hak untuk protes ketika ada banjir, atau penyakit yang menyerang anda dan keluarga anda, gimana? adil,kan?hehehe Oleh karena itu, peduli-lah sedikit pada lingkungan anda, tidak perlu harus menanam pohon dan merawatnya sampai jadi besar dan tinggi, cukup mulai dari tidak membuang sampah sembarangan saja dulu.
Kalian tidak pernah,kan melihat berita dengan judul seperti ini ? "Wabah malaria melanda di Afrika Selatan, diduga penyebabnya adalah karena warga Jakarta jarang buang sampah" itu ga bakalan mungking terjadi. Perilaku kita yang membuat lingkungan di sekitar kita sehat atau tidak, bukan perilaku orang-orang yang bukan di wilayah kita.

Lingkungan memang punya kemampuan untuk 'menyembuhkan' diri mereka sendiri dari bahan pencemarnya, namun itu perlu proses yang lama. Jika bahan pencemar yang dibuang ke lingkungan sudah melebih ambang batas yang bisa ditolelir oleh lingkungan tersebut, proses penyembuhan alami tersebut akan menjadi semakin lama.
Saya punya gambar menarik yang menggambarkan bagaimana manusia itu sebenarnya 'kalah' dari binatang

manusia?

Gambar ini nyinyir manusia banget ! Sebagai manusia, yang katanya makhluk paling sempurna, untuk membuang sampah di tempatnya saja sulit sekali sepertinya. Hanya manusia yang meninggalkan jejak sampah seperti itu. Ironis.
Mungkin gambar itu masih belum seberapa, jika kalian melihat gambar ini, mungkin akan tertunduk malu

bahkan burung pun tau ke mana harus membuang sampah
Seharusnya, kita malu. Burung pun peduli akan lingkungannya. Padahal dia tidak berakal. Manusia? Hanya sebagiannya saja saya pikir. Manusia seharusnya berbalas budi terhadap lingkungannya. Karena manusia memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari, untuk tinggal dan berdiam di sana. Apa salahnya membantu lingkungan untuk tetap sehat, lingkungan yang sehat menjadikan makhluk hidup disekitarnya juga sehat. 
Jangan karena di lingkungan kita banyak orang-orang yang tidak peduli lalu kita ikut-ikutan tidak peduli. Masyarakat selalu berpikiran seperti ini "Ah, orang lain aja ga peduli, masa kita sendiri yang cape-cape peduli?" Mennn.. !! ini salah besarr !! Saya selalu menanamkan prinsip ini di mana pun, kalian juga bisa ikut : satu orang lebih baik daripada tidak ada sama sekali. 1 orang yang peduli dengan lingkungan yang sehat, lebih baik daripada tidak ada peduli sama sekali. Karena jika kita mengikuti orang banyak, bisa-bisa kita terkena imbas dari ketidakpedulian itu sendiri. Dan seperti yang saya tulis di atas, yang adil adalah, ketika anda tidak peduli dengan lingkungan anda sendiri, maka anda tidak berhak untuk protes kepada yang berwenang atau mendapatkan layanan kesehatan karena lingkungan anda kotor.

Kita seharusnya berguru kepada binatang, dan malu jika memang harus. Binatang lebih tau lingkungan yang semestinya seperti apa daripada manusia. Sederhananya seperti ini, jika tidak ingin menjadi bagian dari masalah, jangan menambah masalah. Jadi, jika tidak ingin menjadi murid binatang dalam hal kepedulian lingkungan, mulailah untuk peduli dari sekarang ! tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Mulailah peduli untuk diri sendiri terlebih dahulu.

Saya berandai-andai jika negeri kita seperti Swedia









Artikel Terkait

Berguru Kepada Binatang
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email

1 comments:

February 13, 2014 at 4:04 PM delete

Hai, postingan yang bagus. Ijin blogwalking ya :-)
Ada info lomba seru nih, kamu bisa cek ini dan disini
Makasih sebelumnya :)

Reply
avatar

Silahkan berkomentar yang sesuai dengan isi dari tulisan ini. Hargai dengan tidak berkomentar sekadar hanya untuk menaruh link blog anda. Terimakasih. Buat yang terindikasi spammer, akan langsung saya hapus dan report spam.